Hai semua, pernah nggak sih kita ketemu sama orang, dan setiap ketemu itu kamu ingat satu hal tentang dia? Tentunya yang diingat hal positif ya. (Ya kali yang diingat dia sering ngupil di depan kelas… wkwkwk).

Lalu kamu pasti punya public figure yang menginspirasi kamu banget kan? Dari yang suka bikin quotes-quotes lucu, yang sering travelling, sampai yang tiap hari ngomongnya ashiyaaaaaapp…. ngomong ashiyapnya biasa aja. Nggak perlu dikasih cengkok segala, entar dikira Inul Daratista, hahaha.

Oke, kembali ke laptop. Dari contoh-contoh di atas, apa sih kesamaan dari mereka? Kesamaan dari mereka adalah mereka itu selalu melakukan hal yang sama secara terus menerus dan konsisten, sehingga mereka membangun citra diri mereka sendiri dari kebiasaan yang mereka lakukan.

Contohnya, kamu menganggap si Fulan itu orangnya pintar, karena tiap kamu ketemu dia, dia lagi belajar atau baca buku. Kamu tiap ketemu si Fulanah, dia lagi mengobrol sama temen-temannya, sehingga kamu menganggap si Fulanah itu orangnya easy going dan sebagainya. Nah, citra diri mereka itulah yang disebut self atau personal branding. Artinya, kamu sebagai anak muda juga perlu membangun citra diri kamu sendiri yang unik, yang ditampilkan dan direspon oleh publik atau orang-orang di sekitarmu. Kenapa penting? Kamu nggak mau kan dianggap orang pelit karena tiap ditagih uang kas kelas atau sumbangan nggak mau ngasih? Nah itu, kamu harus mulai membuat citra diri kamu sebaik mungkin, tapi harus tulus dan tidak dibuat-buat, karena personal branding haruslah konsisten. Dan nggak perlu pencitraan juga sih, entar dikira politisi. Ahahahahaha.

Terus gunanya personal branding ini buat apa sih? Gunanya ini banyak banget, bejibun, okehe poooooolll. Tapi, nggak perlu disebut satu per satu, ehehehe. Gunanya self branding ini kebanyakan untuk kehidupan sosial. Self atau personal branding ini yang menentukan bagaimana cara orang lain melihat dirimu. Memang benar ada kata pepatah “jangan menilai buku dari sampulnya”. Namun, sampul itu kan hal yang pertama kita lihat, kesan pertama yang akan menentukan apakah kita tertarik untuk memperhatikan lebih jauh atau sekadar lewat di kepala saja. Nah, ini pentingnya membuat sampul sebaik mungkin, agar orang lain itu menganggap kamu relevan dan penting, bukan hanya sekedar nama yang lewat depan kepala.

Di dunia kerja atau profesional, self branding ini kadang menjadi penentu apakah kamu diterima kerja atau tidak, selain tentunya kompetensi dan pengalaman kerja. Kalau personal branding-mu serupa dengan pekerjaan yang dicari, makan peluang untuk diterima akan semakin besar pula. Misal, apabila ada dua kandidat resepsionis dengan kompetensi yang hampir sama, HRD akan cenderung lebih memilih orang yang berpenampilan rapi, ramah, dan bisa membawakan diri dengan baik, dibandingkan dengan orang yang nyeleneh untuk mengisi posisi tersebut.

Di jaman digital seperti sekarang ini, HRD tidak hanya meminta pelamar kerja mencantumkan kontak email dan nomor handphone saja, tetapi banyak juga yang meminta untuk menyantumkan akun media sosial. HRD ingin mengetahui bagaimana aktivitas si calon pekerja di dunia maya. Username dan konten media sosial yang nggak neko-neko dan sesuai dengan data diri akan menjadi nilai plus bagi HRD, karena dianggap calon pekerja tersebut benar-benar profesional.

Nah, terus bagaimana cara membangun personal branding yang baik?

Pertama, tentukan kamu mau dianggap seperti apa oleh lingkungan sekitarmu, apakah menjadi rocker hardcore, dangduters, atau bagaimana? Inilah yang menjadi tujuan akhir personal branding kamu, jadi pikirkan ini matang-matang ya.

Kemudian, identifikasikan kegiatan-kegiatan yang mencerminkan tujuan personal branding kamu. Dan mulailah melakukan kegiatan kegiatan tersebut secara konsisten atau terus menerus.

Kegiatan di sini nggak hanya terbatas pada kegiatan riil atau di dunia nyata. Kegiatan-kegiatan di dunia maya juga perlu diperhatikan, seperti postingan apa yang kamu like, akun siapa yang kamu follow, hal apa yang kamu posting. Semuanya akan mencerminkan kepribadian dan siapa kamu sebenarnya. Orang lain akan dengan mudah mengambil kesimpulan orang seperti apa dirimu hanya dengan stalking Instagram, Facebook, atau Twitter kamu. Jadi, salah satu langkah awal membangun personal branding ini ya bisa dari media sosial, karena mudah dan murah.

Nah, kalau sudah tahu informasi ini, maka mulailah dengan mengubah username kita yang dulunya “alay” menjadi lebih profesional, lalu kemudian bisa mulai merapikan feeds kita. Jangan lupa, hati-hati dalam memposting sesuatu, nge-like postingan orang lain, berkomentar, dan sebagainya. Semua itu mencerminkan wajah kita sebenarnya. Setelah itu, jangan lupa untuk mulai mewarnai kehidupan kita dengan kegiatan-kegiatan lain yang lebih real, seperti menjadi aktivis sosial, ikut komunitas, volunteering, ikut lomba, dan lain sebagainya. Lambat laun citra diri kita akan terbentuk, sekaligus mempengaruhi diri kita dan lingkungan kehidupan kita.

 

Penulis: Ahmad Ma’ruf