Beberapa waktu lalu saya tepat menginjak usia 17 tahun. Yang artinya saya berhak memiliki KTP dan menggunakan hak suara saya pada pemilu. Sebuah beban yang harus dipanggul tiba-tiba, tanpa tahu apa esensi dari beban itu.

Pemilu, sebuah topik yang banyak dihindari kawula muda, dengan berbagai alasan masing-masing. Jarang sekali kita melihat anak muda nongkrong di warkop, ngomongin program-program capres/caleg di pemilu. Paling santer ngomongin iklan salah satu partai yang konsepnya anti mainstream, itupun sekedar mengomentari iklannya, tanpa peduli program yang diusungnya.

Saya merupakan salah satu dari sebagian besar anak muda yang awalnya tidak peduli terhadap politik negeri ini. Menganggap politik itu tabu, dan cukup orang tua saja yang berkecimpung. Menganggap politik itu kuno, dan tak sesuai dengan kehidupan anak muda. Nampaknya menjadi golput itu pilihan terbaik (yang padahal tidak sama sekali).

Di media kita terus dicekoki tentang isu keagamaan, perpecahan antara kedua kubu. Di sosial media, setiap postingan seorang public figure, komentar yang keluar selalu antara 01 ataupun 02. Disetiap livechat di youtube, selalu terjadi perang opini antara pendukung capres. Yang bahkan diluar konteks dari konten live youtube tersebut. Hal itu membuat saya risih, ternyata masih banyak orang yang dengan mudah digiring opininya di negeri ini.

Setiap membuka twitter misalnya, pasti yang sedang trending adalah tagar-tagar provokatif yang dilambungkan oleh kedua kubu. Dari tagar ganti presiden, tagar jokowi 1 periode lagi,dsb. Saya lantas mecoba melihat postingan dari tagar-tagar tersebut untuk mencari lebih dalam tentang kedua capres. Tapi, jujur saya sangat kecewa dengan isi dari postingan yang menggunakan tagar tersebut. Karena kebanyakan hanya berupa kata-kata sederhana tanpa ada substansi ke program-program/gagasan yang diusung capresnya. Contohnya seperti “gasspoll #blablabla”, “siap ganti pimpinan #blablabla”.

Nampaknya tagar-tagar itu semata-mata hanya untuk adu elektabilitas kedua kubu. Siapa yang lebih kuat di media sosial. Yang sebenarnya sama sekali tidak mendidik atau-pun mencerahkan swing voters agar memilih kubu mereka. Yang mereka pikirkan hanya “yang penting trending”. Setiap hari pasti ada tagar-tagar baru yang mereka lambungkan. Menjadi trending no 1 di Indonesia, bahkan didunia. Sangat disayangkan bahwa semua itu hanya untuk menggiring opini masyarakat.

Di dalam kebutaan saya dalam berpolitik, saya terus mencari tahu gagasan dan program program yang di usung dari kedua kubu. Gagasan mana yang saya kira paling bagus dan rasional yang juga sesuai dengan idealisme saya terhadap Indonesia. Di dalam perjalanan itu, ternyata terdapat satu batu ganjalan yang orang sebut sebagai “money politics”. Di mana ada orang yang akan membeli suara saya di dalam pemilu. Terdapat gejolak di dalam diri saya, antara menuruti idealisme saya (yang juga belum tentu benar-benar bekerja untuk Indonesia). Atau terima saja sogokan hina ini.

Saya mencoba menimbang-nimbang, apakah worth it dengan menjual suara saya dengan harga yang tidak seberapa itu, untuk Indonesia 5 tahun ke depan? Serta apakah satu suara idealis saya ini dapat benar-benar benar berpengaruh, melawan banyaknya caleg yang menggunakan strategi politik uang tersebut?

Saya rasa politik negeri ini sudah benar-benar sakit. Demi sebuah kursi nyaman di Gedung Hijau itu, semua dikorbankan. Yang padahal hanya digunakan untuk tidur siang ketika rapat. Memiliki embel-embel wakil rakyat, tapi tidak benar-benar bekerja untuk rakyat. Sempat saya berpikir untuk golput saja, tapi itu juga tidak menyelesaikan masalah. Yang dapat saya lakukan hanyalah memperkecil peluang calon tikus-tikus berdasi itu duduk di kursi yang tidak sepantasnya. Setidaknya saya mencoba, dengan memilih sesuai dengan idealisme yang saya pegang. Tanpa dipengaruhi dengan uang panas yang tidak seberapa.

 

Penulis: Ahmad ma’ruf.