Kawan muda! Dari dinginnya kota Wonosobo, redaksi WM ingin mengajak kawan-kawan untuk terbang ke Inggris sejenak untuk menyimak cerita dari seorang pemuda asli Wonosobo yang sedang menimba ilmu di University College London (UCL). Ialah Dhimas Bayu Anindito, putra dari Bapak Bambang Sumiyarso dan Ibu Tri Suprapti, yang saat ini tengah menempuh studi S2 di bidang Smart Cities & Urban Analytics di salah satu kampus top di Inggris tersebut. Dhimas yang dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas ini menghabiskan pendidikannya di Wonosobo, berhasil meraih beasiswa S1 ke Institut Teknologi Bandung dan beasiswa S2 ke Inggris. Seperti apa sebenarnya perjalanan Dhimas hingga akhirnya bisa menempuh studi di negeri Ratu Elizabeth tersebut, apa yang ia pelajari di sana, dan apa yang bisa kawan muda teladani dari perjalanan hidup Dhimas? Yuk mari kita simak kisah inspiratifnya berikut.

 

Dari Wonosobo, Merantau ke Bandung

Dhimas memulai pendidikannya dari kota Wonosobo, tepatnya di SD N 5 Wonosobo, kemudian ia melanjutkan ke SMP N 1 Wonosobo dan SMA N 1 Wonosobo. Pemuda yang hobi bernyanyi dan menonton tv series ini dari kecil sudah aktif mengikuti beragam perlombaan untuk mengasah dirinya. Mulai dari juara Pesta Siaga, Lomba Cerdas Cermat, Lomba Kaligrafi, Lomba Pidato Bahasa Inggris, Lomba Paduan Suara, hingga menjadi Siswa Berprestasi SMA se-Kabupaten Wonosobo di tahun 2009 pernah diraihnya. Saat lulus SMA, Dhimas pun memeroleh predikat sebagai peraih Nilai UAN IPA Tertinggi Kedua di sekolahnya.

Dari dulu, Dhimas selalu mencari tantangan baik secara akademik maupun non-akademik. Tak heran setelah lulus SMA, Dhimas memilih kuliah di Bandung yang jarang dipilih teman-teman sekolahnya di Wonosobo. Alhamdulillah, dulu ia diterima lewat SNMPTN jalur Undangan di kampus Institut Teknologi Bandung. Di ITB sendiri mahasiswa diharuskan masuk ke fakultas terlebih dahulu selama setahun, sebelum akhirnya Dhimas memutuskan untuk memilih jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK). Di ITB, ia mendapatkan Beasiswa Pembangunan Jaya dari Yayasan Marga Jaya dan juga Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik ITB.

Di ITB, Dhimas belajar dan mulai tertarik konsep smart city saat mengerjakan tugas akhir. Selama kuliah sendiri, Dhimas sempat magang di Mercy Corps Indonesia untuk memetakan kawasan yang terdampak bencana banjir di beberapa desa di Kabupaten Bandung. Setelah lulus, ia sempat membantu dosen untuk riset dan mengikuti beberapa konferensi internasional. Ia bahkan sempat diganjar Best Paper Award dalam the 3rd International Conference for Research Methods on Built Environment and Engineering di Universiti Teknologi MARA, Malaysia pada tahun 2017 yang lalu. Beberapa paper atau hasil risetnya tentang perencanaan wilayah dan smart cities, berhasil tembus ke jurnal-jurnal internasional. Secara total, namanya sudah tercatat dalam empat publikasi jurnal internasional dan masih akan bertambah lagi seiring dengan pendidikan dan riset yang ia lakukan. Setelah dua tahun, akhirnya ia pindah untuk bekerja di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, sebelum kemudian diterima baik kuliah di University College London (UCL) di Inggris maupun beasiswa Chevening.

 

Ditolak yang Lain, Sebelum Meraih Beasiswa Prestisius – Chevening

Sebelum meraih beasiswa Chevening, Dhimas sempat mendaftar beasiswa LPDP, NFP, StuNed, dan The Swedish Institute, tapi belum diterima semuanya. Ia tak menyerah begitu saja. Akhirnya, ia mencoba mendaftar beasiswa Chevening berkat dorongan dari temannya. Proses pendaftaran beasiswa ini adalah setahun. Ada tiga tahapan dari beasiswa ini, yaitu tahap administrasi (long-listing processsecara global), kemudian short-listing processoleh Kedutaan Besar Inggris di Indonesia untuk wawancara, dan tahap wawancara. Materi yang harus disiapkan adalah empat esai 500 kata, dengan topik career plan, leadership, networking, dan studying in UK. Materi ini harus konsisten di tahap administrasi dengan tahap wawancara, karena interviewer (Satu orang dari UK Embassy, satu orang dari Chevening Selection Committee, dan satu orang Alumni Chevening) hanya akan fokus menggali informasi tentang aplikan dari esai tersebut, tanpa ada pertanyaan personal satu pun. Sebagai catatan, beasiswa ini membutuhkan pengalaman kerja minimal 2 tahun atau setara 3000 jam kerja. Kegiatan volunteering atau magang saat kuliah juga bisa dimasukkan ke dalam perhitungan. Pengumuman hasil wawancara dilangsungkan pada awal Juni. Sekitar akhir Agustus ada pre-departure untuk semua penerima beasiswa Chevening di Kedutaan Besar Inggris. Baru pertengahan September, Dhimas berangkat ke Inggris, tepatnya di kota London untuk memulai perjalanan kuliahnya.

Satu tips tambahan dari Dhimas bagi kawan muda yang ingin mendaftar beasiswa Chevening: Every story matters. Dulu ia sempat minder karena brand Chevening ini sangat besar (penerima beasiswa Chevening dari Indonesia tahun 2018 adalah 68 orang dari sekitar 3000 aplikan. Selain itu alumninya banyak menjadi pemimpin negara, ahli, dan ilmuwan di negara asal mereka). Tapi, Dhimas tetap mencoba dan menjalani setiap tahapan seleksinya. Ia bersyukur bahwa visi dan cita-citanya sejalan dengan nilai-nilai yang ada di Chevening. Intinya, jangan takut buat mencoba terlebih dulu, tapi juga jangan terlalu berharap bahwa hasilnya akan sesuai dengan pikiran kita ya, kawan muda!

 

Calon Ahli Smart City dari Wonosobo

Sekarang Dhimas sedang mendalami bidang Smart Cities dan Urban Analytics di University College London. Bidang ini merupakan gabungan antara perencanaan wilayah dan kota, geografi, teknologi informasi, matematika, fisika, dan ilmu lainnya. Program yang ia tekuni ini berusaha memahami dinamika spasial dari suatu wilayah/kawasan dengan berbagai skala, dengan menggunakan data kuantitatif dari berbagai macam sumber. Dhimas tertarik dengan konsep smart city dari kuliah, terutama dengan konsep Geographical Information System, analisis kuantitatif, struktur morfologi kota, dan dinamika sosial dan spasial.

Ada beberapa alasan kenapa ia akhirnya berlabuh di Inggris tepatnya di kampus tempatnya menimba ilmu saat ini. Pertama, karena saat mencari info tentang jurusan yang sesuai dengan minatnya ini, hanya ada satu program di dunia yang spesifik menyertakan frase ‘smartcity’ dalam nama programnya, yaitu program di Centre for Advanced Spatial Analysis, UCL. Alasan lainnya, yaitu terdapat idola Dhimas yang menjadi profesor di kampusnya sekarang, yaitu Prof. Michael Batty yang menjadi pionir dalam menganalisis kota dengan berbagai konsep, termasuk salah satunya menggunakan model gravitasi Newton dalam mengukur perpindahan orang dan modal dari satu area ke area lainnya. Selain itu, the Bartlett—fakultas di mana departemen Dhimas bernaung—merupakan Faculty of Architecture and Built Environment terbaik di dunia versi QS World University Ranking. Di tempat inilah seorang calon ahli Smart City dari Wonosobo belajar dari orang-orang terbaik di bidang ini.

Saat ini Dhimas sedang persiapan menulis disertasi. Topiknya tentang mobilitas inovasi di London. Disertasi ini adalah kolaborasi antar departemen di UCL, yaitu Centre for Advanced Spatial Analysis (CASA) dan Department of Science, Technology, Engineering, and Public Policy (UCL STEaPP). Di masa depan, ia ingin mendirikan institut riset terkait urban analytics di Indonesia. Selain itu Dhimas ingin melihat Wonosobo meningkatkan taraf hidup masyarakatnya dengan banyak potensi yang dimiliki, termasuk anak muda dan jejaringnya.

 

Hidup di Kota London

Teman-teman Dhimas yang kuliah di luar negeri selalu bercerita tentang rasa rindu dengan kampung halaman, baik orangnya, masakannya, dan bahasanya. Tapi, ternyata baginya London tidak jauh beda dengan Jakarta atau kota besar di Indonesia. Orangnya beragam dan berbicara dengan bahasa yang berbeda-beda. Banyak toko yang menjual bahan makanan halal. Juga Londoners suka menyeberang jalan sembarangan. Bahkan udara waktu bulan September cukup sejuk di mana ia pernah tertidur dan lupa menutup jendela.

Bagi Dhimas, hidup sebagai muslim di London berjalan dengan aman sejauh ini, karena banyak masjid dan muslim di sana. Menurut Dhimas, secara umum toleransi umat beragama juga tinggi. Meskipun begitu, ada beberapa kasus hate crime di sana, sehingga tetap perlu awas dengan keadaan sekitar.

Survival skill paling besar peningkatannya selama kuliah di sini adalah memasak. Ia bersyukur mampu beradaptasi dengan cepat, termasuk belajar memasak sendiri. Toko yang menjual bumbu Indonesia dan bumbu Asia membantu gaya hidupnya menjadi lebih hemat. Selain itu, lokasi yang dekat dengan kampus (sekitar 40 menit jalan kaki) membuat ia lebih sering berjalan kaki sambil mendengarkan musik. Kedua hal tersebut membuat Dhimas bisa menabung, yang kemudian bisa ia manfaatkan untuk liburan.

Dhimas mengaku sampai sekarang ia belum selancar itu berbahasa Inggris. Mungkin karena tiap minggu ia selalu bertemu dengan sahabat-sahabatnya sesama orang Indonesia. Namun, Dhimas merasa di sana lebih enak karena orang-orang merespon dengan santai kalau ia tanpa sadar melakukan kesalahan grammar atau pengucapan saat berbicara bahasa Inggris, orang-orang tidak ada yang menghakimi atau mengejek. Dosen yang berasal dari berbagai belahan dunia membuat ia juga harus lebih adaptif dalam mendengarkan aksen mereka. Untungnya, hobinya yang sering menonton TV series membuat Dhimas lebih mudah memahami materi dan perbincangan selama kuliah.

Berjejaring dengan teman-teman maupun dengan akademisi juga sangat membantu kehidupannya. Selain berguna untuk karir dan hobi, ia bisa memahami budaya dan kebiasaan orang-orang dari luar sehingga bisa meningkatkan toleransi dalam bermasyarakat. Sebagai catatan, berjejaring dengan teman-teman kadang membuatnya diajak ke pub dan bar. Karena Dhimas tidak minum alkohol tapi suka nongkrong dan bersosialisasi dengan teman-teman, ia hanya memesan soda saja selama di sana. Tips ini bisa dipraktikkan oleh teman-teman juga yang nantinya ingin tetap bersosialisasi namun tetap menjaga diri.

Belajar dari Kehidupan

Walau semasa kecil pernah di-bully, sampai sekarang Dhimas tidak pernah menganggap bullying adalah motivator baginya untuk sukses. Ia berpendapat, seringkali korban bully berusaha lebih sukses dari para pelaku bully. Padahal dengan demikian, si korban belum berdamai dengan dirinya sendiri dan berpotensial justru menjadi bully untuk orang lain.

“Motivasi diri saya untuk sukses adalah mengalahkan diri sendiri. Sifat saya termasuk tidak pernah puas dengan apapun yang sudah saya dapatkan. Hingga sekarang, saya merasa bangga apabila saya mampu melampaui standar yang saya tetapkan sendiri. Saya tak pernah menganggap orang lain sebagai saingan karena mereka memiliki minat dan cerita masing-masing. Dengan kita selalu berusaha melampaui diri kita sendiri, kita akan selalu mendapat apa yang kita inginkan.”

Dhimas sadar bahwa ia dapat berbicara seperti ini karena ia mendapat banyak privilese dalam hidupnya. Ia bersyukur bahwa keluarganya mampu membuat ia merasa berkecukupan, yang mana ini merupakan modal awalnya untuk belajar dengan lancar. Dari hidup yang ia jalani, ia mendapat nilai moral untuk tidak pernah menyerah, jangan pernah meremehkan orang lain, juga jangan pernah puas dengan diri sendiri.

Pesannya bagi Kawan Muda Wonosobo: Sudah banyak anak muda Wonosobo yang sukses baik di dalam maupun luar negeri. Ini merupakan bukti bahwa anak Wonosobo sanggup masuk dan berjuang di luar Wonosobo. Langkah awal sering menakutkan, setelah itu rasanya biasa saja. Never settle for mediocrity and always be the best version of yourself!

Terima kasih inspirasinya Dhimas, semoga sukses studinya!

Bagaimana kawan muda, tertarik untuk mengikuti jejak Dhimas? Ayo persiapkan diri dengan sebaik-baiknya! Jangan lupa nantikan kisah-kisah inspiratif berikutnya dari anak-anak muda Wonosobo ya.