Tenang saja, tulisan ini nggak panjang. Saya tahu stamina membaca generasi milenial dan generasi Z nggak sekuat generasi-generasi terdahulu. Tapi saya nggak sok tahu kok, ada datanya juga. Cuma lebih baik datanya nggak saya sebutkan di sini dan Anda bisa cari sendiri di google. Oh, ya sampai lupa, saya di sini mau membagi pandangan saya tentang gerakan di Wonosobo.

Dimulai dari mana, ya? Bagaimana kalau dari revolusi? Buahahahha. Anak muda pasti senang tuh sama yang namanya revolusi. Dengan energy mereka yang melimpah dan mimpi mereka yang masih menggebu-gebu, anak muda merupakan komoditas revolusi. Mengenai revolusi ini, saya masih ingat pendapat filsuf Eropa bernama Slavoj Zizek, menurutnya, nggak usah deh kita mikir revolusi, misalnya mau meruntuhkan tirani atau paling nggak mau merombak Indonesia menjadi lebih baik. Bagi Zizek, itu ketinggian, mirip mengenang mantan yang bentar lagi mau nikah, waduh. Bagi zizek, yang paling penting untuk dipikir ialah, “setelah revolusi emangnya kamu mau ngapain?”

Itulah yang nggak dipikirin sama revolusi mahasiswa tahun 98, kenapa setelah reformasi yang ada justru korupsi semakin membabi buta. Kebebasan berpendapat dan berpolitik sih oke, tapi di sektor pendidikan dan keamanan, kita lebih parah dari zaman pak Harto. Namun, kalau Pak Harto dihidupkan lagi oleh madara dan bilang, “Penak zamanku to ?” Saya akan dengan tegas bilang, “Ndasmu.” Buahahahaha.

Lha terus pemuda era sekarang, ngapain kalau nggak revolusi? Pacaran lah. Susah amat. Jomblo ya? Buahahaha. Ya ngapain, kek. Gabut amat sih, sampai harus tanya. Teknologi emang bikin kita gabut, dan itu artinya teknologi sukses membantu kehidupan manusia. Tapi gabut juga tanda bahwa kita bingung memanfaatkan waktu luang. Ya iyalah, dulu pas SMA, kalau saya kerja kelompok harus janjian sehari sebelumnya, waktu kita habis buat naik angkot, mencari buku di perpustakaan. Sekarang, kerja kelompok bisa dengan video call dan soal yang susah bisa tanya google. Sumpah deh, enak banget.

Padahal, menurut banyak ahli, waktu luang ini bisa kita manfaatkan untuk mendefinisikan ulang setiap hari, bahwa kita hidup tuh sebenarnya ngapain, tujuannya buat siapa, dan enaknya selama nggak ada kerjaan tuh produktif atau sekadar konsumtif. Di era industry 4.0, religiusitas semacam ini justru menjadi obat yang manjur. Ini bukan saya yang ngomong, tapi sejarawan Yuval Novah Harari. Sejarawan botak, yahudi, homo pulak. Buahahahaha.

Eh, tapi serius nih, masa pemuda nggak revolusi, sih? Serius? Mengalahkan gabut juga revolusi, cuy. Yaelah, coba aja deh, seharian nggak gabut, pasti kebingungan. Sejam aja deh, meluangkan waktu buat nulis, menggambar, atau olahraga. Pasti lebih berguna. Apalagi nulis buat blog Wonosobo Muda (sekalian ngiklan nih, uhuk …)

Itu tandanya, revolusi juga nggak harus berat-berat, kok. Nggak kaya dulu, yang harus demo di jalanan. Sekarang revolusi bisa dimulai dari diri kita sendiri dan orang-orang terdekat kita. Komunitas kita. Misalnya komunitas menanam sayur, lah. Komunitas kelinci, lah. Komunias baca, lah. Ruang-ruang itulah yang akan menangkap eksistensi kita di zaman ini, bukan layar kaca atau layar ponsel. Tapi kalau mau revolusi se-Indonesia, ya silakan. Gue sih, no.

 

Penulis: Affix Mareta