Ketika seseorang bersekolah ia akan dihadapkan pada berbagai dinamika yang terjadi di dalamnya. Ruang sekolah sangat fleksibel, tempat hidupnya berbagai aktivitas peserta didik. Saat menjalani kegiatan di sekolah, siswa tidak saja bersentuhan dengan rutinitas formal. Misalnya siswa mengikuti kegiatan umum di sekolah: pagi-pagi sudah datang ke sekolah, belajar di kelas, lalu pulang seiring dengan berakhirnya mata pelajaran. Aktivitas yang menjenuhkan sehingga membuat siswa kadang tidak bisa berkembang jika hanya mengandalkan kegiatan sekolah yang berbau akademik yang begitu-begitu saja.

Tetapi, jika siswa kreatif di sekolah ia tidak akan terjebak pada aktivitas formal yang menjenuhkan. Sebab di lembaga pendidikan ada banyak ruang yang dapat diikuti siswa untuk dapat meningkatkan potensi diri yang ia miliki. Di luar kegiatan sekolah yang wajib, siswa dapat pula meluangkan waktunya lebih banyak pada kegiatan kultural dan atau non-formal yang tidak kalah penting dari rutinitas formal sekolah.

Artinya, selain siswa mencari ilmu di dalam kelas sekolah, mereka dapat pula menjajaki kemampuan yang dimiliki lewat ragam kegiatan ektrakulikuler alias eskul. Di sekolah ada banyak sekali tawaran eskul. Biasanya eskul dibagi dalam berbagai jenis. Contoh eskul tentang minat dan bakat menyangkut masalah seni, keterampilan, skill, kemampuan, kerohanian, dan masih banyak lagi jenis eskul yang dapat dipilih anak didik.

Beragamnya eskul memberikan banyak alternatif bagi pelajar untuk memilah dan memilih eskul yang mana cocok buat dirinya. Apakah eskul musik, jurnalistik, olah raga, dan lain-lain. Dinamika eskul tersebut satu sisi membawa perubahan positif terhadap siswa, namun tidak jarang pula keberadaan eskul yang beraneka ragam membuat siswa bingung dan sukar untuk menentukan pilihan.

Seperti yang kita tahu, kegiatan eskul biasanya diikuti oleh beberapa anak didik dengan latar belakang bakat dan minat yang sama meskipun kelas atau bahkan mungkin sekolah mereka berbeda. Bahkan tidak jarang siswa yang mengikuti kegiatan eskul hanya karena ajakan teman atau sekedar solidaritas kepada kawan saja. Namun demikan, siswa yang sudah masuk kegiatan eskul pasti akan bertemu dengan orang-orang baru, secara otomatis siswa akan mengembangkan kemampuan mereka untuk bersosialisasi dan berinteraksi.

Seorang siswa harus melakukan banyak kegiatan di antara serangkaian rutinitas yang harus dijalani setiap hari. Dari hal tersebut, kemungkinan untuk cepat bosan dan menderita stres akan semakin tinggi. Kegiatan belajar di kelas dan tugas rumah yang padat bisa membuat mereka terkena stres dan depresi. Agar hal ini tidak terjadi, alangkah baiknya jika siswa mampu menyelingi kegiatan-kegiatan wajib tersebut dengan kegiatan eskul yang mereka minati. Melakukan hal yang disukai akan membantu siswa melewati hari-hari mereka yang padat dengan hati senang. Karena kegiatan eskul bisa menjadi terapi sekaligus kesempatan untuk bersantai dari rutinitas yang membosankan.

Eskul tidak hanya menjadi ajang kesenangan bagi siswa, tetapi juga menjadi media untuk menyerap banyak ilmu dan pengalaman. Sudah menjadi hal yang lumrah bagi kalangan siswa, eskul bisa membuat siswa menjadi idola, serta mengalahkan bintang kelas yang hanya dapat menghipnotis teman-teman sekelas dan sebagian guru. Kegiatan eskul memang bertujuan melatih anggotanya untuk fokus mendalami bidang yang digeluti, tanpa harus mengenyampingkan mata pelajaran sekolah. Bisa jadi eskul yang di geluti oleh seorang siswa mampu membuatnya menjadi idola dalam ruang lingkup yang lebih luas.

Aktivitas eskul dapat mendorong siswa berprestasi di luar kegiatan formal sekolah. Dengan demikian keberadaan eskul begitu berarti di sekolah. Eskul membangkitkan spirit siswa menunjukkan potensi besar pada diri anak didik sekaligus dapat mencegah siswa terjerumus pada kegiatan negatif pelajar seperti berani pada guru, pergaulan bebas, penggunaan narkoba, tawuran dan lain – lain.

 

Penulis : Ahmad Wakhid