Pendidikan merupakan upaya untuk membentuk karakter dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Tak dapat dipungkiri bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi kemajuan suatu daerah. Salah satu contohnya adalah kabupaten Wonosobo, salah satu kabupaten termiskin di provinsi Jawa Tengah. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Wonosobo di tahun 2016 hanya 66,19. Nilai ini di bawah standar IPM Jawa Tengah, yaitu 69,98. Hanya sekitar setengah siswa lulusan SMP sederajat yang melanjutkan pendidikannya di tingkat SMA sederajat. Lantas, dari sedikit orang itu, berapa yang mau melanjutkan kuliah? Apakah kamu mau jadi bagian di dalamnya?

Yakin mau kuliah? Apa lagi yang buat kamu ragu? Apakah terjerumus persepsi masyarakat bahwa pendidikan di perguruan tinggi tidak penting? Toh banyak sarjana yang nganggur. Sekarang kita balik pertanyaannya, “Memang yang tidak sarjana tidak nganggur?”

 

Diagram tersebut merupakan tingkat pengangguran terbuka menurut tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan mulai Agustus 2017 sampai Agustus 2018 berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, 2018. Terlihat bahwa memang banyak sarjana yang menganggur, tetapi lebih banyak lagi pengangguran yang tidak sarjana.

Menganggur atau tidak itu tergantung bagaimana pola pikir dan bagaimana kita dibentuk. Kuliah membentuk berbagai karakter dan mental, memajukan pola pikir, mengembangkan ilmu, mempertajam kemampuan, memperbanyak pengalaman, serta memperluas jaringan, dan masih banyak lagi. Bekal ini dapat kita peroleh dari bangku kuliah di kelas, organisasi, kepanitiaan, menjadi relawan, meniliti, kajian, bahkan dari obrolan saat makan. Sebab, kuliah adalah tempat untuk mencari masalah sekaligus jawabnya. Sudah yakin mau kuliah?

Masih ragu juga? Ingin mewujudkan mimpi, tapi ekonomi terhambat?
Tenang, pemerintah menyediakan banyak beasiswa untuk menunjang pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah Bidikmisi bagi masyarakat yang kurang mampu melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Bidikmisi tersebar di setiap perguruan tinggi negeri dengan jumlah mahasiswa penerima yang tak sedikit. Selain itu, banyak perusahaan yang memberikan beasiswa untuk mahasiswa dengan beberapa syarat yang tidak memberatkan mahasiswa. Apabila di tengah-tengah kuliah tidak mampu membayar uang kuliah, akan banyak teman mahasiswa yang bergerak dalam bidang advokasi akan membantumu untuk tetap bisa melanjutkan kuliah. Bahkan, Kemenristekdikti menjamin bahwa mahasiswa tidak akan dikeluarkan kampus karena alasan biaya kuliah. Percayalah, bahwa rezeki sudah diatur, tinggal bagaimana kita berjuang untuk mendapatkannya.

Mimpi itu tidak berbatas, begitu pula masa depanmu. Bermimpilah, dengan syarat kau harus memperjuangkannya. Jangan jadikan mimpimu hanya angan dan berujung kata, tetapi wujudkanlah ia menjadi sesuatu yang nyata.

Jadi, siap kuliah?

 

Oleh: Kamila Munna, Mahasiswa Fisika UGM 2017