Menyatukan beberapa lidi agar menjadi sapu, butuh tali.

Menyatukan beragam manusia untuk bersama-sama mewujudkan mimpi, butuh visi dan hati.

Dulu saya sempat memimpin sebuah tim di BEM fakultas sewaktu kuliah. Setelah kepengurusan selesai, saya merasa diri saya payah sekali dalam mengelola sekelompok orang untuk menunjukkan performa terbaiknya. Ada yang perlu diubah dengan diri saya, tapi tidak tahu sebelah mana. Tidak lama setelah merasa payah itu, saya diajak untuk membuat suatu komunitas. Tapi karena saya yakin ini jalan yang juga saya inginkan, mengingat saat itu saya juga sedang memikirkan cara apa yang bisa saya lakukan untuk berkontribusi, saya rasa mencoba mengeksekusi komunitas itu menjadi jalan yang menarik.

Seiring berjalannya waktu, saya sadar bahwa mengelola komunitas non profit itu lebih melelahkan daripada mengelola BEM. Sempat merasa payah seperti dulu, tapi lama-kelamaan saya bisa melawannya dan justru ini menjadi jalan saya menemukan diri sendiri. Tentunya perjalanan ini penuh dengan tantangan, drama, macam-macam emosi, dan hal-hal kemanusiawian lainnya. Ya, komunitas itu adalah Wonosobo Muda, yang blognya sedang kalian baca.

Saya yakin teman-teman punya persepsi sendiri atas apa ditampilkan WM selama ini. Ijinkan saya, melalui tulisan ini bercerita tentang apa yang terjadi di balik layar agar kita semua memahami secara utuh seperti apa Wonosobo Muda. Saya juga ingin sedikit berbagi rasa dan hikmah yang saya rasakan selama di WM.

Saya merasakan banyak sekali tantangan dalam hal mengelola komunitas ini.
1. Motivasi yang berbeda-beda dari setiap orang ketika bergabung ke sini, sehingga tidak semua orang punya semangat yang sama ketika menjalankan kegiatan.
2. Setiap orang juga pasti menyimpan ekspektasi: apa yang bisa didapatkan ketika mengikuti komunitas ini, ekspektasi terhadap orang lain yang diharapkan bisa membimbing dalam berkontribusi untuk daerahnya, dan sebagainya.
3. Semangat, waktu luang, kesibukan yang berbeda-beda, sehingga ada saja kendala ketika hendak melakukan sesuatu.
4. Lokasi dan jarak yang memisahkan para anggotanya yang tersebar di beberapa kota. Intensitas pertemuannya menjadi susah diatur apalagi dengan kesibukan yang berbeda.

Tantangan tersebut sempat membuat saya berpikiran negatif dan down, tapi dari sana justru saya menemukan cara untuk meninimalisir pikiran-pikiran itu. Dan hal itu berpengaruh sangat besar terhadap bagaimana saya mengelola hidup saya terutama dalam kesehatan mental. Kadang kita memang tidak akan belajar hati-hati sebelum kita terjatuh.

Entah sejak kapan, saya jadi sadar bahwa mengelola komunitas itu perlu mempertimbangkan hal-hal yang tidak kelihatan atau terlihat sepele, tetapi penting untuk menjaga kelangsungannya. Beginilah cara saya menghadapi dinamika di Wonosobo Muda.

1. Memperkuat relasi dan silaturahmi
Wonosobo Muda dilahirkan dari hubungan tiga orang yang oleh nasib digariskan menempuh pendidikan di tempat yang sama. Dari obrolan malam di sebuah kafe, kami sepakat untuk memulai ini semua.
Saya percaya, beberapa hal baik akan lahir dari relasi yang baik, terjaga komunikasinya dan saling terbuka.
Hubungan antar manusia bisa hidup tidak hanya dengan saling bertemu, tapi juga dengan saling mendukung, peduli, saling menerima kekurangan, memahami satu sama lain dan saling memaafkan jika ada yang berbuat kesalahan, meski tidak bertatap muka.

Semakin kita terikat secara emosional dengan orang-orang di dalamnya, maka semakin kita bisa menikmati apapun proses yang dilalui, meski tidak selalu menyenangkan. Kesamaan tujuan dan berusaha membangun relasi yang baik, membuat teman-teman di Wonosobo Muda ingin terus berkarya di jalan ini.

2. Melakukan sesuatu dengan tulus, bukan untuk membuat orang lain terkesan.
Dengan berusaha tulus, kita akan nyaman dalam mengekspresikan apapun, mengutarakan pendapat, menyampaikan ide, hingga mengeksekusinya. Jadi ketika ada situasi di mana semua orang sedang sibuk, sehingga tidak merespon seperti yang kita harapkan misalnya, kita tidak akan mudah kecewa dan lebih legowo dengan apapun yang terjadi. Kita juga tidak akan berusaha membuat diri kita keren atau dipandang orang lain.

Energi inilah yang coba ditularkan di WM, berkarya dengan tulus dan menjadi diri sendiri.

3. Saling memahami kondisi satu sama lain
Berada di lokasi yang berbeda-beda dan hanya menjalin komunikasi melalui messanger kadang menimbulkan salah persepsi atau asumsi.
Tidak dipungkiri, saya sendiri pernah salah persepsi terhadap maksud pesan teman-teman saya. Karena medianya teks, jadi kadang pesan yang disampaikan ditangkap secara berbeda, interpretasinya macam-macam, kadang jadi salah paham.
Dan kadang hal-hal itu jadi duri di dalam daging, tidak kelihatan tapi bisa mempengaruhi kinerja kita, misalnya program yang harusnya sudah dilaksanakan jadi tersendat atau batal.
Namun, dari sanalah saya justru bisa belajar dan merasa terdorong untuk mengetahui kenapa bisa salah paham, apa yang sebenarnya ingin disampaikan, mengapa orang lain tidak sesuai harapan kita (yang ternyata masalahnya adalah karena banyak berharap), bagaimana menghilangkan asumsi yang salah, serta bagaimana berkomunikasi agar tidak salah tangkap. Semua itu bisa dihindari jika kita mau belajar dan memahami apa yang terjadi pada orang lain, dengan sudut pandang mereka, bukan subjektif menurut kita.
Saya juga jadi belajar bahwa manusia itu sangat beragam, tidak hanya dalam suku, agama, ras, tapi juga karakter. Saya belajar untuk menerima karakter-karakter itu apa adanya, dan menyesuaikan dengan karakter diri sendiri. Saya juga belajar tentang resilience, bertahan di kondisi yang tidak diinginkan tapi harus dilalui.

4. Tidak saling tunggu
Kecenderungan manusia, kadang menunggu orang lain mengajak atau melakukan sesuatu, baru timbul semangatnya. Hal ini sempat terjadi pada saya dan juga teman-teman lainnya. Ya tidak apa-apa, karena kita masih sama-sama belajar. Tapi jika terus seperti itu, kapan kita selesai belajar dan mulai mempraktikannya?
Memberanikan diri untuk pro aktif memang tidak mudah, tetapi sekalinya mencoba, kita akan terstimulasi untuk terus berinisiatif meskipun yang lain pasif. Memulai perubahan dari diri sendiri adalah langkah awal untuk memecah budaya saling tunggu. Percayalah bahwa manfaat menjadi aktif itu tidak hanya untuk pengembangan diri sendiri tapi juga teman-teman yang lain, bisa jadi juga ke masyarakat.

Saya selalu menganalogikan Wonosobo Muda dengan kereta yang terus berjalan maju meski perlahan. Kereta inilah yang akan mengantarkan kota ke tujuan bersama, yaitu menjadi kado untuk tanah kelahiran.

Akhir kata, semoga kereta Wonosobo Muda terus berjalan, untuk mengantarkan setiap anggotanya menuju kebermanfaatan terbaiknya.

Oleh: Khafidlotun Muslikhah

*setiap rubrik opini, isi merupakan tanggung jawab penulis. Blog Wonosobo Muda hanya membantu membantu mempublikasikan agar mudah dijangkau pembaca.
Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0