Covid-19 menerjang seluruh penjuru dunia. Negara-negara berjuang menekan angka penyebarannya. Sementara ilmuwan, dokter, dan perawat berjuang mencari solusinya.

Kami mengumpulkan kisah-kisah ini demi menjaga moral tetap tinggi dan mendukung imbauan untuk saling menguatkan. Kontributor kali ini terdiri dari dua orang tenaga kesehatan: Aulia di Kabupaten Pasuruan (Au) dan Fahmi di Banggai Laut, Sulawesi Tengah (F); dan empat orang masyarakat umum: seorang anonim di Depok (?), Agus di Wonosobo (Ag), Benny Pradipta di Yogyakarta (BP), dan Ufiq di Pandaan (U).

Kamu bisa ikutan berbagi cerita dengan mengisi kuesioner daring (online) lewat tautan (link) di akhir artikel ini.


Gimana rasanya bekerja/belajar dari rumah?
Au – Bosan.
F – Masih kerja di puskesmas. Tetapi meminimalisir keluar rumah kalau tidak terlalu penting. Sebenernya ga terlalu beda bagi aku pribadi karena jarang keluar rumah juga, tapi jujur kangen sholat berjamaah ke masjid 🙁
? – Senang karena ga harus mengeluarkan uang untuk transport dan hemat waktu.
Ag – Sedang mencoba menerka2, perasaan kayak gini ini apa namanya.
BP – Katakan, apa saja rasa ini, semua ada.
U – Asyik juga. Di samping bisa bekerja, juga bisa lihat pertumbuhan 2 anak, melayani orang tua sama suami.

Selain bekerja/belajar dari rumah, kamu ngapain aja?
Au – Bekerja sebagai nakes hahaha
F – Aku bikin konten YouTube tips masuk kampus, belajar bahasa Arab seminggu sekali, dengerin podcast, video call dengan temen2, dan jawab konsultasi kesehatan tentang COVID-19.
? – Masak, baca buku, nonton.
Ag – Ya rebahan, ngapain lagi?
BP – Bereksperimen, kreasi, berfantasi.
U – Ngerawat anak, suami, orang tua, lihat TV, dll. deh buanyak….

Gimana keluarga/teman/masyarakat di sekitarmu menyikapi pandemi ini? Ceritain dong!
Au – Susah sekali diedukasi, ngeyel, meremehkan.
F – Di tempatku kebetulan belum ada yang positif, tapi pemerintah sini lumayan udah gerak, misalnya melarang kerumunan, terus tadi malem baru aja aku beli makan gitu, kata penjualnya baru aja didatengin petugas keamanan dan diimbau untuk kasih jarak satu pengunjung dan pengunjung lain. Terus, aku suka karena, sekarang, di banyak tempat, disediakan tempat cuci tangan pake sabun dan air mengalir!
Namun, kalo boleh jujur, menurutku, kesadaran masyarakat masih sangat kurang sih. Mungkin karena belum ada yg positif di sini, dan juga banyak dari mereka yang masih harus bekerja di luar. Kemudian, banyak banget anak2 muda yg masih suka kumpul padahal udah dilarang.
? – Ada yg panik, ada yg lama2 pasrah, ada yg sebel sama pemerintah.
Ag – Kalau ngegibah jauh2an atau pakai wasap. Pada rajin cuci tangan pakai sabun. Biasanya mah boro2 cuci tangan, paling juga dilap celana. Pada manut jaga jarak. Sembayang di rumah masing2. Pemuda2 dikerahkan buat nyemprot disinfektan ke rumah2. Pada ngumpulin donasi juga. Entah apa lagi besok2 ini.
BP – Apa gerangan yang memiliki ciri-ciri mirip manusia dan mirip binatang, tetapi tak tampak oleh mata?
U – Tetap tenang, tp. siaga….

Menurutmu, gimana usaha pemerintah dan media menangani pandemi sejauh ini?
Au – Masih banyak dengan kepentingan ego masing-masing, terutama di tingkat pemerintah daerah.
F – Udah dijawab di atas hehe. Media, menurutku, juga bagus karena berusaha memaparkan info seobjektif mungkin. Cuman terlalu banyak info kadang bikin stress dan berita2 lain ketutup. Aku berharap, media lebih ngasih edukasi praktis ke masyarakat sih (misal: cara mencuci tangan 6 langkah, cara membersihkan peralatan rumah, cara bikin masker kain, dll.), bukan berita yg bikin tambah cemas.
? – Pempusat terkesan lambat, yg gercep warga dan pemda (provinsi dan kota).
Ag – Pemerintah, ya? Kasih anjuran2 yang kedengarannya bermanfaat, media juga bantu. (Eh, dalam hal ini, grup wasap juga dianggap media bukan sih?) Aturan2 tegas mulai berlaku. Bantuan2 mulai jalan. Kurang jor2an.
BP – Ora mutu, ora tanggepi, kesuen.
U – Sudah bagus.

Ceritain dong harapanmu:
Au – Semoga pandemi lekas berakhir, masyarakat hidup dalam tatanan kesadaran yg lebih baik. Tidak melulu bicara tentang “aku”, tapi tentang “kita” tentang “bumi”.
F – Aku harap pemerintah Indonesia bisa semakin bijak dan mengambil langkah tegas untuk COVID-19 ini. Aku harap juga, masyarakat Indonesia dan dunia, selama pandemi ini, lebih merefleksikan hal-hal yang penting dan sebenarnya bermanfaat untuk hidup mereka, dan bisa mengambil pelajaran dari pandemi ini. Most importantly, semoga yang sakit segera sembuh, semoga vaksin COVID-19 segera bisa ditemukan, lulus uji, dan bisa disebarkan ke seluruh dunia supaya kita bisa kembali ke aktivitas sehari-hari lagi.
? – Vaksinnya segera ditemukan.
Ag – Ganti status pekerjaan.
BP –
U – Mudah-mudahan di Romadhon ini bisa hilang coronanya.

Apa pesan-pesan yang mau kamu sampaikan ke teman atau masyarakat pada umumnya?
Au – Physical distancing adalah hal mutlak dan harus disiplin. Sabarnya diperbanyak, kepedulian ditingkatkan.
F – Tetap tenang dan jaga kesehatan diri kita, di rumah dulu sebisa mungkin, dan cari kegiatan-kegiatan positif yang bisa dilakukan di rumah. Semoga selalu sehat dan sukses!!!
?Sing sabar.
Ag – Tetap kritis, kepala kalian bukan cuman pajangan.
BP – aja anggodha lan ngrencana
apaningsun ya sun jatining urip
dumadiku saka henu
heneng henenging cipta
singgangsana ing tawang-tawang prajaku
sinebut pura kencana
bebetenging rajeg wesi
U – Tetap tenang, tp siaga..


Silakan berpartisipasi dengan mengeklik tautan berikut:
https://docs.google.com/forms/d/1lej_a6GAqs2KeZrpm5xp5CUyW2_jiqaadPHF7GzTsPk/edit

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0