Kali ini Wonosobo Muda berkesempatan mewawancarai salah satu putri daerah Wonosobo yang sudah lulus dari kedokteran Universitas Indonesia, dan kini sedang menjalani program internship di Gorontalo. Namanya Dyah Ayu, biasa disapa Ayu. Ayu juga mendapat beasiswa dari pemerintah selama menjalani program S1nya. Bagaimana ya cerita kuliah Ayu? Yuk disimak!

WhatsApp Image 2017-02-09 at 07.19.14

Bisa diceritakan gak Yu, mengapa memilih jurusan dan kampus tersebut?

“Saya memiliki jurusan pendidikan dokter karena memang cita-cita dari kecil, kemudian fakultas ini juga memiliki passing grade yang tinggi.

Untuk pemilihan kampus, sebenarnya dulu agak random atau iseng aja, tetapi alasan yang formalnya adalah Universitas Indonesia merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia dengan fakultas kedokteran nomor satu di Indonesia.”

Sebagai informasi, masa pendidikan kedokteran disini bisa dikatakan cepat dibandingkan universitas lain, karena kita dapat lulus menjadi dokter dalam kurun waktu 5 tahun, dimana universitas lain biasanya berkisar 5,5 – 6 tahun (normal/tidak ada kendala di akademisnya).

Boleh dijelaskan apa saja sih yang dipelajari dan bagaimana proses belajar di kampus?

“Yang dipelajari sangat bervariasi, tentunya semua tentang tubuh manusia. Namun, kami juga diajarkan etika karena menjadi seorang dokter tidak hanya mengandalkan otak saja melainkan etika sangat penting.”

Dalam dunia kedokteran, tidak hanya otak yang juga harus mumpuni, tapi attitude juga harus dijaga karena akan berhadapan dengan berbagai macam pasien.

Ayu juga menjelaskan materi kuliah yang dibagi per tahun.

Tahun Pertama

“Tahun pertama kita mempelajari modul dari universitas namanya MPKT, kontennya seperti IPS. Selain itu juga ada MPK agama (mempelajari agama sesuai agama masing-masing), MPK Seni (Ada seni wayang, tari, dll pokoknya menyangkut seni budaya deh), terus kalau di fakultas saya, ditambahkan modul empati dan riset (penelitian). Setelah lulus modul riset ini, kami dibolehkan untuk memulai penelitian untuk skripsi. Jadi, kita sudah bisa memulai mengerjakan skripsi dari semester 2, lho. Kebetulan, saya salah satu orang yang tidak mau menunda-nunda penelitian, jadi saya memulai penelitian skripsi ada semester 2. Penelitian saya ini memakan waktu 1 tahun. Barulah pada tahun ketiga saya sidang skripsi.”

Tahun Kedua

“Tahun kedua hingga tahun ketiga, kami memulai pelajaran kami yang sebenarnya, yaitu all of about human body. Tadinya saya berpikir masuk FK (Fakultas Kedokteran) akan menyelamatkan saya dari pelajaran FISIKA, karena saya tidak suka dengan pelajaran tersebut. Ternyata saya salah, disini kami juga mempelajari tentang fisika, biologi, dan biokimia kedokteran. “, paparnya.

“Selain itu juga kami mempelajari tentang sel dan genetika. Pelajaran-pelajaran tersebut kami sebut dengan biomedik dasar. Setelah itu kami mempelajari semua bagian tubuh manusia dari kepala sampai kaki, meliputi semua sel, jaringan, organ, pembuluh darah, dan pembuluh limfe, beserta mekanisme kerja dan gangguan yang terjadi. Kami juga mempelajari obat-obatan dari mekanisme kerja, efek samping, indikasi dan kontraindikasi serta perkembangan terbaru tentang pengobatan. Kita juga belajar bagaimana mendiagnosis penyakit yang begitu banyak, dan juga penggunaan sarana-sarana penunjang diagnosis seperti hasil laboratorium, rontgen, CT SCAN, MRI, hingga pemeriksaan DNA.”

Dahsyatnya, di fakultas kedokteran, mahasiswanya tidak mengenal ujian semester, karena ujiannya hampir tiap minggu per modul, baik ujian tulis maupun ujian praktikum. Enjoy aja!

Tahun Keempat dan Kelima

“Tahun keempat dan kelima, kami masuk ke pendidikan profesi. Jadi seorang sarjana kedokteran hanya dapat mendapatkan gelar dokter (dr.) ketika menyelesaikan pendidikan profesi atau yang biasa disebut Coass. Di sini kita sudah memakai jas putih dan disebar diberbagai rumah sakit. Saat menjadi Coass kami mendapat sebutan baru yaitu dokter muda. Pembelajaran kami berpindah dari buku ke pasien sebenarnya.

Kami dibagi ke kelompok-kelompok dan dibagi ke stase-stase ( atau departemen ). Kami harus melewati 11 stase minor seperti mata, paru, jantung, dll (intinya spesifik per organ), dan 4 stase mayor (kandungan, penyakit dalam, bedah dan anak). Selain itu kami juga mendapat modul Ilmu kesehatan komunitas yang mempelajari tentang pencegahan penyakit pada masyarakat.

Di waktu ini, kami mengaplikasi ilmu yang sudah kami dapatkan selama 3 tahun di kampus, dengan men-treat pasien secara langsung, dari mengunjungi pasien bangsal, kerja poli, jaga malam IGD atau bangsal, hingga jadi asisten operasi. Kami juga diturunkan di puskesmas-puskesmas. Pekerjaan kami relatif sama, bertemu pasien di poli dan tindakan. Namun yang berbeda, di puskesmas ini kami memiliki tanggung jawab pengabdian masyarakat dan penelitian.

Tidak jauh berbeda pada saat dikampus, kami juga harus menjalani ujian tertulis. Selain itu, kami juga diharuskan melakukan ujian pasien yaitu kami akan diberikan pasien random pada hari H, kemudian kami harus menjalankan wawancara, pemeriksaan fisik hingga rencana terapinya. Tentunya kita harus menguasai semua materi hingga mekanisme penyakit dan cara kerja obat yang akan kami berikan. Dan banyak lagi ujian-ujian yang secara umum bersifat sama, yaitu ujian dengan pasien dengan nama yang berbeda-beda. Jumlah ujian akan bervariasi tiap departemen.

Apa asyiknya?

“Kata orang-orang kedokteran itu bikin stress?” setiap jurusan pasti punya sisi stressnya masing-masing.

Menurut Ayu, tergantung bagaimana kita mengelola stress tersebut, mau yang membangun atau tidak? Karena hidup adalah pilihan. Se­-hectic  apapun hal yang harus kita hadapi, jka kita memilih untuk tenang dan berusaha mengatasinya, maka semua akan baik-baik saja. Yakinlah kita bisa bertahan.

“Karena jujur pada saat menjalani kuliah jurusan kedokteran ini otak pintar bukan menjadi jaminan, yang penting adalah mentalnya kuat menghadapi segala tekanan yang ada. Makanya disini kita diajarkan untuk bekerja sama dan saling memberikan dukungan kepada satu sama lain.”

Kesibukan selain kuliah

Meskipun kuliah kedokteran menuntut banyak waktu untuk belajar, Ayu masih menyempatkan untuk aktif di organisasi kemahasiswaan.

“Kalau saya pribadi sejak masuk kampus saya punya semboyan “Study hard, Play Hard”, saya gak mau jadi mahasiswa yang kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang. Bosan. Saya harus punya kesenangan atau hobi. Jadi saya memutuskan untuk ikut berbagai organisasi karena percaya gak percaya aktif di organisasi akan mengembangkan soft skill, yang sebenarnya penting banget di kedokteran. Soft skill ini tidak akan didapatkan hanya dengan kuliah, percaya deh. Menjalankan hobi seperti olahraga (karena saya suka basket jadi bergabung di tim basket kampus), jalan-jalan, nonton dan belanja tetep berjalan walaupun dengan jadwal yang padat. Jadi, Asyikin aja. Hehehe.”

Tantangan atau kesulitannya apa? Silakan juga berbagi pengalamannya dalam mengatasi kesulitan/ tantangan ini.

“Tantangannya adalah saya orang pertama dari Wonosobo yang diterima di FKUI, jadi saya tidak punya senior dekat yang bisa memberikan wejangan atau trik disini. Ini yang mendorong saya untuk berkenalan sebanyak-banyaknya dengan kakak-kakak kelas, tentunya melalui organisasi. Kakak-kakak senior ini akan sangat bermurah hati membagi tips, trik hingga materi kuliah ke kita. Jadi wajib banget tuh tanya-tanya. Intinya jangan jadi orang individualis.

Selain itu, tantangan selanjutnya kita akan bertemu dengan teman-teman dari Sabang sampai Merauke dengan segala karakter dan budayanya. Jadi harus bisa membaur dan toleransi. Biasanya permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa dari kota kecil (kayak aku ini atau kita) yaitu minder, alias gak percaya diri, apalagi sama anak-anak Jakarta yang style nya beda lah sama kita.

Tapi tidak perlu takut, kita sama kayak mereka kok, yang penting kita bisa beradaptasi dan ingat tujuan awal kita yaitu BELAJAR. Jadi, tunjukan itu dengan potensi akademis yang kita miliki. Awal saya masuk kampus, saya menanamkan pada diri saya bahwa materi dan pembelajaran yang saya dapatkan sama persis sama mereka. Harusnya saya bisa sama atau lebih dari mereka. Oleh sebab itu, saya harus belajar dengan rajin dan satu langkah didepan mereka, misal kalau mereka hanya baca slide dosen buat ujian, saya gak boleh begitu, paling tidak saya harus baca buku referensi lain.

Alhamdulillah tingkat 2 saya mendapatkan 5 besar, kemudian tingkat 3 saya tiga besar dan saat wisuda saya berhasil menduduki peringkat dua. Selain itu juga saya pernah mendapatkan medali perunggu di olimpiade kedokteran mengenai salah satu cabang yang dikatakan “momok” oleh sebagian besar anak kedokteran. Ini membuktikan bahwa anak dari desa seperti kita tidak kalah dengan anak-anak dari kota besar, tergantung niat kita mau atau tidak.”

Wah, keren sekali ya Ayu, berani untuk mencoba hal baru dan berusaha menjadi yang terbaik di bidangnya.

Apa skill atau pengetahuan yang dibutuhkan untuk menekuni jurusan tersebut?

Menurut Ayu, yang penting punya semangat belajar yang kuat, karena harus membaca banyak buku referensi maupun jurnal. Bayangkan saja, andaikan setiap bagian tubuh kita minimal baca 1 buku, sudah berapa banyak buku yang harus kita baca? Selain itu kita juga harus melek informasi karena ilmu kedokteran selalu berkembang, bisa jadi hari ini kita memakai obat A, tetapi ternyata ditemukan obat A tidak bagus lagi, maka pindah ke obat B, begitu seterusnya. Itu contoh sederhana.

Selain itu, mahasiswa kedokteran juga harus mau mencoba. Karena menjadi dokter juga tidak terlepas dari melakukan tindakan, seperti menjahit luka, menolong persalinan, memasang infus, memasang rekam jantung, mengambil darah hingga menjadi asisten operasi. Semua kemampuan itu harus dilatih dan dibiasakan.

Mengapa kita perlu mempelajari jurusan tersebut? Apa manfaatnya bagi kehidupan atau Indonesia pada umumnya?

Ayu bertutur bahwa profesi dokter itu untuk menolong sesama.

“Itu yang menjadikan profesi ini sebagai profesi yang mulia. Profesi ini sangat dekat dengan surga tetapi apabila disalahgunakan juga akan sangat dekat dengan neraka. Hehehe”.

Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu negara “lahan” penyakit infeksi. Itulah kenapa kalau penelitian dibidang infeksi, Indonesia selalu mendapat “nama” di konferensi luar negeri, karena di sana kasus infeksi yang terjadi relatif lebih sedikit. Untuk Indonesia tentu ini salah satu profesi yang selalu didorong untuk menempati daerah-daerah terpencil atau daerah-daerah perbatasan, karena disana sangat minim petugas kesehatan. Banyak sekali wabah, atau penyakit-penyakit yang menjangkiti masyarakat hingga menimbulkan kematian yang tidak sedikit. Kematian ibu juga terhitung masih tinggi di Indonesia, padahal kematian ini merupakan salah satu parameter kualitas kesehatan di Indonesia. Selain itu, banyak anak-anak terjangkit penyakit karena kekurangan gizi di luar sana. Padahal anak-anak inilah yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Berangkat dari fakta-fakta ini, kita dapat menyusun program gizi hingga pelayanan kesehatan dll. Jadi, sebenarnya banyak banget manfaat yang bisa kita berikan untuk Indonesia.

Apa saja peluang karier untuk jurusan tersebut?

Peluang karirnya cukup fleksibel, mulai jadi dokter umum, dokter spesialis, dosen, peneliti, hingga duduk di parlemen. Dokter  sekaligus pengusaha juga bisa. Bebas mau apapun.

Bagaimana cara untuk masuk kampus atau jurusan tersebut? (Boleh dijelaskan dulu proses masuknya bagaimana dan apa saja yang perlu dipersiapkan adik-adik untuk masuk kampus atau jurusan tersebut?)

Cara masuknya sama seperti jurusan lain di UI, bisa melalui SNMPTN tulis, SNMPTN Undangan, dan SIMAK. Kalau untuk jalur yang internasional bisa melalui jalur talent scouting (mirip sama SNMPTN Undangan).

Apakah selama studi mendapatkan beasiswa? Bisa diceritakan beasiswa apa itu?

“Saya mendapatkan beasiswa Bidik Misi. Bidik misi adalah beasiswa yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan bagi mahasiswa yang kurang mampu secara finansial.  Jadi beasiswa ini akan memberikan jaminan hingga lulus ditambah uang saku per bulan 600 ribu. Dengan kata lain, kuliah gratis, malah dapet bonus 600.000.”

Wah, beruntungnya! Mau juga mendapat beasiswa seperti itu? Simak terus ya.

Apa saja syarat untuk mendapatkan beasiswa tersebut?

Syaratnya yang pasti surat keterangan tidak mampu dari RT/RW setempat. Struk gaji orang tua apabila orang tua pegawai negeri. Untuk syarat lengkapnya dapat dibuka diwebsitenya. http://bidikmisi.belmawa.ristekdikti.go.id/ atau donload panduannya di sini.

Boleh dijelaskan bagaimana proses hingga akhirnya mendapatkan beasiswa tersebut?

Pertama, mengajukan ke guru BK, lalu mengumpulkan berkas-berkas yang menjadi syarat. Kemudian wawancara. Setelah itu tinggal menunggu pengumuman.

Adakah saran untuk adik-adik yang ingin belajar dan melanjutkan studi di jurusan dan kampus seperti kamu?

Ayu memberikan tips untuk kamu yang ingin memasuki jurusan ini.
“Kuncinya adalah NIAT dan SENANG. Jujur di jurusan ini kita tidak bisa “bermain-main atau tidak serius” karena tanggung jawab kita nanti adalah nyawa manusia. Oleh sebab itu, perlu niat untuk belajar sungguh-sungguh dan harus senang karena ketika kita menyenangi jurusan ini, sesulit apapun itu kita pasti bakal dapat melaluinya.

Intinya, jangan pernah takut untuk keluar dari zona nyaman kita. Satu lagi, attitude tidak kalah penting dari urusan otak. Nikmati semua prosesnya, karena setelah lulus akan merasakan betapa nikmatnya proses mencapai posisi sekarang. Semangaaat!”

Jika ada adik-adik yang ingin bertanya, bersediakah Kakak untuk dihubungi langsung? Kalau iya, silakan isi preferensi channel kontak yang bisa dihubungi. Silakan kosongi jika tidak berkenan atau ada preferensi channel kontak.

Untuk teman-teman yang ingin bertanya lebih lanjut dengan kak Ayu, dapat menghubungi lewat akun instagramnya Dyahayu11 atau email dyah.dyahayu.ayu@gmail.com .

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0