Seringkali kita mendapatkan pesan atau nasihat atau kata motivasi untuk menjadi sukses. Tapi sejatinya apa sih sukses itu?
Apakah harus punya banyak uang, bisa beli mobil atau rumah bagus?
Apakah harus sekolah tinggi? Menjadi terpandang dan disegani?
Atau mungkin ada yang mengartikan sebagai bisa bantu orang lain, bisa bermanfaat, bisa membantu keluarga, dan sebagainya?
Apapun arti sukses buat setiap diri kita, menurut saya itu sah-sah saja, karena yang akan menjalani kan kita sendiri. Bagi saya yang penting kita jujur dengan diri sendiri dan tidak menghakimi makna sukses bagi orang lain.

Saat saya berangkat kuliah dan mulai mengenal dunia di luar Wonosobo, saya sempat kaget dan bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah keluarga saya termasuk sukses?
Saya banyak melihat dan mengamati teman-teman dan keluarga mereka jadi bertanya, apakah kehidupanku di rumah selama ini tidak ideal ya? Karena saya melihat begitu banyak perbedaan antara yang saya sehari-hari lihat di lingkugan di mana saya dibesarkan dan dunia luar ketika sudah kuliah.
Saya berasal dari keluarga yang sebagian besar berdagang dan berbisnis. Dan ketika kuliah saya bertemu dengan banyak teman-teman dari berbagai latar belakang, keluarga, ekonomi dan wilayah. Kadang ada hal-hal yang menurut mereka biasa saja, tapi bagi saya itu luar biasa. Dan pengalaman selama merantau membuat saya bertanya kepada diri sendiri, mau jadi apa di masa depan? Lama merantau membuat saya jadi punya dunia yang sedikit berbeda dengan keluarga saya. Saya sering bertanya-tanya, apakah dunia yang sedang saya jalani ini juga perlu dijalani oleh keluarga saya, oleh orang lain yang hidup di desa ? Saya merasakan dimensi yang berbeda ketika saya kembali merantau dan ketika sedang di rumah. Saya jadi punya definisi, kalau kalau mau sukses sebaiknya kuliah karena banyak kesempatan yang akan terbuka lebar. Di satu sisi memang benar, tapi setelah lulus dan banyak berkenalan dengan banyak orang, bepergian, membaca dan sebagainya, saya rasa definisi saya kurang tepat dan tidak bisa diterapkan di kehidupan orang lain. Kenapa?

Suatu hari saya membaca beberapa postingan di Twitter yang membahas tentang kemiskinan. Disebutkan bahwa orang-orang yang hidupnya miskin menurut data dan penelitian, saat dewasa akan sulit untuk punya penghasilan tinggi. Saya jadi langsung teringat dengan Wonosobo, yang pernah dinobatkan menjadi kabupaten termiskin kedua di Jawa Tengah berdasarkan data kuantitatif (lupa, kalau tidak salah tahun 2013). Setelah itu saya membaca suatu penelitian di Singapura yang meneliti anak-anak dari keluarga yang menurut standar dunia berpendapatan rendah. Mereka mewawancarai anak-anak dari keluarga tersebut yang terbilang pandai di sekolahnya. Secara singkat, kesimpulan penelitian itu adalah bahwa anak-anak itu tidak merasa miskin, malah merasa bersyukur karena orang tuanya sayang dengan mereka, meski kadang kekurangan dan mereka harus membantu orang tua mencari uang. Di sekolah mereka juga bisa menerima kondisi ketika mereka tidak bisa mendapat apa yang anak-anak lain dapatkan. Mereka justru termotivasi untuk belajar dengan rajin karena sadar dengan kondisi keluarganya. Saya jadi sadar bahwa relasi yang sehat antara anak dan orang tua menjadi kunci. Saya jadi bergumam sendiri dalam hati, mungkin memiliki relasi yang sehat juga merupakan sebuah bentuk kesuksesan, terlepas dari status ekonomi yang selama ini menjadi standar nasional dan yang dibahas di thread Twitter itu.

Saya juga pernah membaca tesis yang meneliti makna kesuksesan untuk pemuda di sebuah desa di kaki Tengger, Ngadas namanya. Saat ini desa itu menjadi desa wisata yang sebagian besar warganya beragama Budha dan berprofesi sebagai petani. Di sana sebagian masyarakatnya kurang sadar dengan pendidikan formal. Hanya ada SD dan SMP di dekat sana. Tesis tersebut meminta beberapa pemuda untuk menggambarkan kesuksesan dengan mengambil foto di sekitar mereka. Dari hasil foto, observasi dan hasil wawancara, mereka memaknai kesuksesan sebagai kebahagiaan bersama, sukses dan berhasil bersama-sama serta selalu hidup berdampingan. Tradisi hidup secara berkelompok dan bersama-sama memang masih kental, ya saya yakin di Wonosobo juga ada yang puya filosofi seperti itu. Para pemuda itu juga mengakui kalau ingin jadi petani saja dan meneruskan hidup di sana. Saya menemukan lagi makna kesuksesan yang baru dan benar-benar membuka mata.

Mungkin di benak kita akan muncul pertanyaan ‘kalau definisinya seperti itu, mereka tidak mendapat pendidikan tinggi dong, kapan majunya kalau begitu?’ Tapi jika kita terus berpikir seperti itu, kita akan mereduksi makna pendidikan, karena pendidikan bukan hanya untuk mencari pekerjaan, dan menurut saya pribadi, menjadi maju juga tidak harus mengikuti standar hidup modern orang kota. (Stop dulu di sini, nanti jadi melebar bahasannya haha)

Lagi, saya sempat mendengar podcast dengan narasumber pendiri Sokola Rimba. Bagi yang belum tau, Sokola Rimba adalah organisasi nirlaba yang tergerak untuk mengajar orang-orang adat yang masih hidup di hutan. Awalnya gerakan ini dimulai di hutan wilayah Jambi. Para relawan mengajar anak-anak, yang ikut hidup di rimba bersama orang tuanya, untuk bisa baca tulis serta diberi tahu sedikit tentang hukum dengan tujuan agar mereka bisa mengerti jika ada pihak-pihak jahat yang akan mengancam hutan dan mengusir mereka. Sokola Rimba ingin menjadikan pendidikan sebagai cara untuk membantu orang rimba menyelesaikan masalah mereka sendiri dengan tidak menghilangkan apa yang telah beratus tahun mereka jalani di tempat tinggal mereka.

Saat ini diperkirakan sekitar 5 persen masyarakat Indonesia merupakan kaum adat yang masih hidup dengan bertahan di hutan dan berburu hewan liar. Mereka juga punya hukum sendiri di antaranya untuk menjaga hutan, seperti setiap ada anak yang lahir mereka harus menanam dua pohon. Dan saya jadi tau bahwa orang-orang adat yang hidup dengan cara seperti itu telah berkontribusi menjaga berhektar-hektar paru-paru dunia.

Mendengarkan cerita orang rimba dalam belajar, saya jadi kagum dengan kekritisan mereka selama belajar, misalnya ‘untuk apa belajar menghitung? untuk apa belajar baca tulis?’. Karena selama ini mereka menganggap peralatan modern seperti pensil, pulpen adalah alat kejahatan orang untuk menipu mereka demi mengambil lahan hutan untuk dijadikan lahan bisnis. Kalau saya, dan mungkin kita semua sepertinya jarang mempertanyakan ‘untuk apa si kita belajar matematika, fisika, kimia atau akuntansi tanpa tau esensinya untuk keadaan kita sekarang dan masa depan?’ Saya jadi berkaca dan mengakui bahwa orang rimba itu lebih kritis dari saya ternyata hehe. Ketika mereka berkunjung ke Jakarta dan melihat sungai kotor, mereka juga bergumam ‘katanya orang Jakarta ini berpendidikan tinggi, kenapa sungainya kotor?’

Para pengurus Sokola Rimba juga menemukan bahwa cara hidup seperti itu, yang berbeda dengan kebanyakan orang sama sekali tidak salah meskipun tidak sama dengan yang kita yakini dan jalani saat ini. Mungkin itu menurut standar badan ekonomi nasional dan dunia termasuk miskin, namun jika memang itu yang membuat mereka bahagia lahir batin, siapa kita berani menilai? 🙂

Dari cerita Sokola Rimba itu, saya seperti ditampar dan menemukan suatu definisi kesuksesan yang selama ini luput dari perhatian saya. Bahwa sukses itu di mata beberapa orang tidak bisa diukur hanya dengan materi atau pencapaian, tapi dengan prinsip yang kita yakini benar dan dengan menjalani prinsip itu membuat kita berdaya sebagai manusia, sehingga bisa bahagia. Dan tentu, tidak harus sama dengan standar orang lain.

Saat saya jalan-jalan dan menemui banyak orang, saat saya pulang ke rumah dan bertemu keluarga, saya jadi berkesimpulan bahwa tidak semua orang harus seperti kita, misalnya harus kuliah, kerja di tempat bagus untuk bisa dibilang sukses, harus begini dan begitu yang saat ini menjadi standar kebanyakan orang. Dan sukses tiap orang juga punya waktunya masing-masing.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip kalimat dari karakter favorit saya di serial Avatar The Last Airbender, Uncle Iroh, untuk ponakannya yang sedang mencari jati diri,

It’s time for you to look inward and start asking yourself the big question: who are you and what do you want?

Pride is not the opposite of shame, but its source. True humility is the only antidote to shame.

 

Catatan:

Bagi yang tertarik membaca tesis tentang pemuda di Desa Ngadas, bisa download di tautan ini.
Bagi yang tertarik dengan podcast tentang Sokola Rimba, bisa didengarkan di tautan ini.
Bagi yang tertarik nonton Avatar The Last Airbender, bisa nonton di Netflix ya hehe

 

Oleh : Khafidlotun Muslikhah

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0