Semakin digali, kota kecil Wonosobo ternyata menyimpan banyak sekali mutiara-mutiara inspirasi luar biasa yang menyebar dari segala sudut kota. Mutiara-mutiara ini adalah potensi anak-anak mudanya yang bersinar di berbagai bidang dan disiplin ilmu. Kali ini Tim Redaksi Wonosobo Muda berkesempatan untuk menampilkan satu kisah inspiratif anak muda asli Wonosobo yang mendapatkan kesempatan untuk belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir serta di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Dialah Muhammad Edgar Hamas, atau biasa dipanggil Edgar. Pemuda yang satu ini punya mimpi untuk menjadi seorang da’i yang juga memahami realitas kebangsaan, seorang negarawan, dan sekaligus menjadi guru bangsa. Nah, makin penasaran kan seperti apa cerita perjalanan hidupnya hingga ia bisa menuntut ilmu di Negeri Para Nabi? Apa saja yang ia pelajari dan hikmah apa yang kawan muda bisa petik dari perjalanan Edgar? Mari kita simak ceritanya sama-sama ya.

Dari Kecil Sudah Diarahkan

Ketertarikan Edgar untuk memperdalam pengetahuan Islam sudah tumbuh sejak bangku sekolah dasar, saat ia bersekolah di SD Muhammadiyah I Sudagaran-Wonosobo. Saat itu, ayahnya benar-benar memotivasi Edgar untuk meneruskan jenjang studi yang tinggi dan kelak menjadi Ulama yang memersatukan Umat. Itulah yang membuat ia memberanikan diri untuk melanjutkan pendidikannya ke SMP Islam Terpadu Ihsanul Fikri di Magelang dan kemudian melanjutkan pengembaraannya hingga ke Pondok Pesantren Husnul Khotimah di Kuningan Jawa Barat. Perjalanan ilmiah sejak SD sampai SMA, pertemuannya dengan berbagai guru dari lintas komunitas dan berbagai organisasi masyarakat, serta bacaan-bacaan yang Edgar daras, kemudian menuntunnya memahami betapa integralnya Islam. Pada saat yang sama, hal tersebut membuatnya sadar bahwa bangsa Indonesia butuh mengenal lebih dekat Al Quran dan Hadits sebagai inspirasi yang menghidupkan peradaban, bukan sekadar penghias lemari dan penambah aplikasi di telepon genggam yang jarang dibuka.

Edgar sendiri mengaku bahwa ia belajar agama sebenarnya bukan untuk menjadi ustadz, melainkan untuk mencari hakikat hidup sebenarnya; apa yang bisa membuat manusia bahagia, apa alasan terbesar manusia untuk hidup dan bagaimana sebenarnya jalan hidup sejati manusia di dunia ini. Pertanyaan-pertanyaan besar itu sudah muncul di benaknya sejak SD, dan itu benar-benar membuatnya tergerak untuk lebih banyak membaca dan bertanya, tidak cukup puas dengan jawaban-jawaban yang normatif. Tak heran, dengan pemikirannya yang cemerlang, Edgar berhasil diganjar sebagai santri teladan Pondok Pesantren Husnul Khotimah di tahun 2014. Tak hanya itu, ia juga sempat meraih Juara 1 Lomba Nasyid dan Karya Cipta Lagu se-Jawa Barat selama nyantri di pondok pesantren tersebut.

Di tahun 2015, setahun setelah ia lulus dari Pondok Pesantren Husnul Khotimah, ia mendapatkan informasi pengumuman tes dari Departemen Agama untuk kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo. Di saat yang sama, ada Syaikh dari Universitas Islam Madinah yang datang ke Indonesia untuk menyeleksi ribuan calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di Madinah. Kedua proses seleksi tersebut pun Edgar ikuti.

Tahun 2015, ia dinyatakan lolos ke Universitas Al-Azhar Kairo dan ia pun belajar terlebih dulu di salah satu kampus tertua yang terletak negara Mesir tersebut. Hingga ia berangkat ke Kairo, belum ada pengumuman resmi dari pihak Universitas Islam Madinah apakah ia diterima atau tidak. Selama 2 tahun lamanya, Edgar tinggal di Kairo bersama sekitar 3.500 mahasiswa Indonesia dan mengambil banyak sekali inspirasi di setiap jengkal negeri para Nabi tersebut. Barulah kemudian tahun 2017, ia mendapatkan kabar dari Universitas Islam Madinah bahwa ia diterima di sana. Sejak saat itu, sebagaimana arahan ayah dan ibu, Edgar pindah ke Arab Saudi dan meneruskan studinya di dekat Masjid Nabawi. Alhamdulillah.

 

Menimba Ilmu Langsung dari Asalnya

Pertimbangan awal kenapa Edgar sangat ingin menuntut ilmu di tanah Arab bermula dari kalimat seorang guru, bahwa sesuatu akan benar-benar bersih dan murni jika diambil langsung dari sumbernya. Islam datang dari Jazirah Arab, dan Mesir serta Arab adalah kiblat pengetahuan Islam saat ini. Maka untuk mengambil dari muaranya, kita perlu memaksimalkan ikhtiar untuk datang langsung ke sana. Berbekal insight itulah, Ia mulai merintis jalannya untuk melanjutkan studi ke Jazirah Arab.

“Bismillah, jika memang jalannya dan jika memang ditakdirkan oleh Allah untuk diterima di sana, maka Edgar akan berangkat.” – Muhammad Edgar Hamas

Setiap tahun Departemen Agama selalu membuka pendaftaran ke Mesir, Tunisia, Sudan, dan Maroko. Sementara Kerajaan Saudi Arabia juga membuka pendaftaran Univesitas Islam Madinah setahun sekali. Edgar mengikuti dua-duanya, dan diterima dua-duanya. Di Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir ia dibiayai Beasiswa Baituz Zakat Kuwait. Sementara untuk belajar di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah, ia memeroleh beasiswa dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Dan ia yang saat ini sudah berangkat ke dua negeri itu, mendapatkan banyak sekali sudut pandang baru yang datang langsung dari saksi sejarah dan Ulama-ulama karismatik baik dari Al-Azhar maupun dari Kota Madinah. Edgar juga sadar kemudian, bahwa selama ini ternyata kita tidak benar-benar paham betul betapa luasnya agama kita berbicara mengenai kehidupan dan peradaban. Ada cita, ada cinta, ada rumah tangga dan ada negara, ada pernikahan dan ada militer, lengkap dan terintegrasi.

Nah, dari perjuangannya yang ia jalani, Edgar mengaku bahwa ternyata syarat utama untuk bisa diterima di universitas-universitas internasional, bukan semata karena kecerdasan, bukan juga karena nilai yang tinggi, apalagi karena modal yang besar. Kita, dari manapun asal kita, dan bagaimanapun latar belakang sosial kita, jika kita memiliki kesungguhan memahami bahasa Internasional; baik itu Arab dan Inggris, maka itu menjadi jalan menuju banyak sekali beasiswa-beasiswa mancanegara. Bahasa, dalam term Arabnya adalah “Nahwu” menjadi alat untuk membaca dunia dan berinteraksi dengan banyak sekali intan permata yang berserakan di hamparan halaman Indonesia.

Edgar juga membagikan tips untuk kawan-kawan muda di Wonosobo yang ingin melanjutkan studi ke Al-Azhar dan/atau Madinah, yaitu:

Fokus bahasa Arab, dan hafalkan beberapa juz Al Quran, terutama surat-surat awal seperti Al Baqarah, Ali Imran, An-Nisa. Sebab seleksi masuk universitas biasanya ditanya hafalan juz-juz awal Al Quran. Setiap tahun, perhatikan pengumuman seleksi baik di Departemen Agama maupun Universitas Islam Madinah. Jangan malas untuk mencari informasi sendiri ya kawan-kawan. Minimal dengan googling saja, pasti banyak info yang bisa didapatkan.

 

Belajar di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin

Saat ini di Universitas Islam Madinah, Edgar sedang mengambil studi di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, atau dalam bahasa mudahnya adalah fakultas teologi. Sederhananya, fakultas ini membimbing kita untuk mengenal Allah dengan argumentasi Al Quran, hadits sekaligus membedah literatur Ulama-ulama Islam sejak Abad 7 Masehi hingga kini. Di antara mata kuliah yang diajarkan adalah Akidah, Tafsir, Ilmu Tafsir, Hadits, Ilmu Hadits, Fiqh, Ushul Fiqh, Nahwu, Sharraf, Ilmu Waris dan cabang-cabang ilmu syar’i lainnya. Selain itu, di fakultas ini Edgar juga diajarkan tentang sejarah Umat Islam, sejarah bangsa-bangsa secara komprehensif.

Semua itu pada akhirnya memiliki tujuan untuk menciptakan karakter seorang Da’i, Ulama, atau Ustadz yang bisa menyampaikan agama ini dengan hujjah yang benar, dengan argumentasi yang lengkap dan pemahaman yang utuh. Dan ini menjadi pekerjaan rumah besar atas fenomena umat Islam yang memahami Islam masih setengah-setengah, di antara salah satu sebabnya adalah kurangnya da’i yang memahami pondasi Islam itu sendiri, dan salah mengajarkannya, sehingga akibatnya benar-benar fatal. Sebab, pemahaman kita pada cara kerja kehidupan ditentukan dengan cara pandang kita pada agama. Maka perhatikanlah, dari mana kita mengambil cara pandang itu. Penyampaian dan cara yang salah, akan berakibat pada miskomunikasi antara hidup dan Pencipta. Ini sangat fatal, kan?

Selain sedang dalam proses mencari lebih banyak ilmu syar’i, Edgar juga membangun fokus untuk mengumpulkan literatur-literatur penting sejarah Islam untuk disampaikan kepada teman-teman di Indonesia melalui kanal instagram @gen.saladin. Ia juga tercatat sudah menerbitkan dua buah buku yang terbit di bawah penerbit Pro-U Media, yaitu: Untuk Kalian yang Rindu Perubahan (2015) dan Belajar dari Negeri Para Nabi (2017).

 

Tantangan yang Dihadapi

Seperti halnya perjalanan para pejuang, jalan Edgar dalam menuntut ilmu juga tidak serta merta lurus dan mulus begitu saja. Banyak sekali pengalaman pahit selama ia berkuliah di sana. Ia bahkan sempat berkali-kali down dengan arah hidupnya, alias sempat kehilangan gairah hidup, karena Mesir saat itu sedang dalam keadaan darurat keamanan nasional. Di depan matanya, Edgar melihat sendiri bagaimana terbelahnya bangsa karena perpecahan, inflasi, dan kriminalitas pun menjadi akibatnya. Pertanyaan terbesar ia saat itu adalah, “bagaimana mungkin masyarakat yang sangat mengenal Islam, kok bisa jatuh karena hal-hal yang sama sekali jauh dari Islam?”

Edgar kemudian memahami jawaban dari pertanyaan besar itu adalah; karena kita tidak bisa menghakimi Islam karena muslimnya. Menurutnya, Islam dan muslim itu dua hal yang berbeda. Islam itu sempurna sedangkan muslim itu manusia biasa. Harapan dan kebahagiaan ada pada pemahaman yang utuh pada Islam, sedangkan bermain-main dengan Islam hanya akan memunculkan generasi yang jatuh dan rentan roboh.

Tantangan terbesarnya selama di Jazirah Arab adalah adaptasi. Makanan, keadaan sosial dan tabiat masyarakat Timur Tengah sangat berbeda dengan Indonesia. Di saat yang sama, kadang beasiswa yang turun terlambat, membuatnya harus berhemat. Suhu yang jika panas maka akan panas sekali, jika dingin maka akan dingin sekali. Belum lagi dengan proses administrasi dan birokrasi di Mesir serta Arab Saudi yang tidak segesit di Indonesia, membuatnya harus ekstra sabar dengan perlakuan mereka. Namun, baginya selalu saja ada hiburan datang dari orang-orang sekitar; ada yang sangat penyayang, suka membagi makanan, suka menolong dan sangat ramah pada pendatang. Sebagaimana Nabi Yusuf dan Musa.

Edgar berujar bahwa orang Wonosobo itu orang gunung. Kalau dingin senang, kalau panas sungguh tidak karuan. Suatu ketika kalau kawan-kawan muda juga mendapat kesempatan belajar di negeri Timur Tengah seperti Mesir atau Arab Saudi misalnya, Edgar berpesan untuk bersabarlah dalam proses adaptasi yang barangkali butuh waktu yang lama. Apalagi tidak ada hijau-hijau di sana, seperti halnya di Indonesia. Makanannya jarang dengan sayur, dan hal ini membuat Edgar sangat merindukan sup atau sayur bayam buatan Ibu. Lauk pauk di sana juga tidak jauh-jauh dari ayam, kambing, sapi atau unta. Maka dari itu, mau tidak mau ia perlu memaksa diri untuk bisa memasak. Dan Mesir membuat Edgar terpaksa untuk bisa memasak banyak menu, sebuah pengalaman yang sangat berharga tentu baginya.

Edgar juga bercerita bahwa kawan terbaik yang sering Edgar ajak diskusi adalah orang Turki yang sepertinya memang tabiatnya bawel, orang Mesir yang biasanya sangar, orang Sudan yang murah senyum, orang Nigeria yang lembut tapi mudah menikah 4 kali, orang Eropa yang kritis, orang Afrika Utara yang cerdas-cerdas dan teman-teman Amerika Latin yang menyimpan kisah haru perjuangan Islam di sana, baik dari Colombia, Venezuela, Haiti dan Meksiko. Semuanya menjadi inspirasi berharga yang akan Edgar tuliskan menjadi sebuah buku. Insyaaallah.

 

Indonesia di Mata Dunia

Selama berkuliah, ada satu pengalaman yang paling Edgar kenang, yaitu ketika berulang kali dosen-dosennya memuji bangsa Indonesia dan menghormati mahasiswa-mahasiswa Indonesia. Ada banyak sekali pelajar yang datang dari 140 negara di dunia dan menimba ilmu di Kairo dan Madinah. Semuanya datang dengan rasa percaya diri mereka yang besar. Sementara kita, mahasiswa Indonesia sangat terkenal dengan pemalu, banyak diam, jarang bertanya dan sopan-sopan. Namun begitu, jika diadakan ujian, pasti nilai-nilai terbaik diraih oleh mahasiswa Indonesia. Suatu hari, Dosen di Markaz Lughah Zayed An Nahyan Kairo, Dr Hemeeda berbincang di depan 40 mahasiswanya dari 20 negara:

“Aku sangat menyukai mahasiswa Nigeria jika mereka berbicara bahasa Arab. Mereka sangat fasih. Aku sangat menyukai mahasiswa Singapura jika mereka menulis. Tulisan mereka rapi.

“Namun”, beliau melanjutkan dengan bijaksana, “hanya ada satu bangsa yang begitu baik dalam berbahasa Arab dan sangat bagus menuliskan huruf-huruf Arab. Merekalah bangsa Indonesia!”

Edgar juga seringkali diundang oleh dosen-dosen Mesir untuk memberi sambutan di acara yang diadakan oleh sekolah SMP, SMA dan universitas Kairo, baik di Ramsis, Zamalek, Nasr City mewakili bangsa asing untuk menyampaikan pidato berbahasa Arab. Sebuah kehormatan tersendiri tentu baginya pribadi bisa mewakili nama Indonesia dalam forum-forum tersebut. Tentunya, Wonosobo pun turut bangga dengan putra daerah yang satu ini ya!

Untuk Indonesia, ke depannya Edgar sangat menginginkan generasi milenial bisa mengisi ruang harapan yang sering dianggap orang sebagai mimpi di siang buta. Banyak yang tidak percaya bahwa Indonesia bisa jadi rumah percontohan bagi dunia, “Global Village” yang menjadi guru bagi bangsa-bangsa internasional. Namun Edgar yakin, generasi kita memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan antara kesejahteraan, kemajuan teknologi sekaligus nilai-nilai spiritual. Sebab kita ingin maju seperti Eropa, tapi tak kebablasan seperti bablasnya mereka hingga menghalalkan hal-hal yang diharamkan agama. Sebab, barangkali mereka memiliki trauma dengan agama, yang mengakibatkan terjadinya Revolusi Prancis sebagai antitesa Eropa yang larut dalam inkuisisi.

Tak hanya itu, Edgar juga punya harapan untuk kota Wonosobo:

Saya sangat berharap pemerintah sudah saatnya menggaet anak-anak muda untuk berkiprah mewarnai Wonosobo. There is a new way to create a New Wonosobo. Wonosobo yang smart city, yang well connected, well educated dengan ekonomi yang tumbuh menyegarkan. Ditambah lagi, pemerintah perlu membuka diri dengan perubahan zaman dan tidak mengkotak-kotakkan Umat Islam berdasar warna dan ormasnya.

Wonosobo Muda saatnya membawa dunia di kota kita. Dan bawa kota kita ke hadapan dunia. Jika boleh bermimpi, dan memang saat ini saatnya untuk bermimpi; kita bisa mewujudkan Wonosobo yang maju, bahagia warganya dan harmonis rakyatnya. Semua itu, kita yang tentukan hari ini.

Edgar juga menambahkan satu hikmah penting yang bisa kita petik dari perjalanan hidupnya:

 Kita belajar, dan memahami, bahwa hidup itu tentang perjalanan dan penjelajahan. Berdiri di tempat bukanlah hidup, tapi mimpi sambil membuka mata. Namun ingat, kita tak perlu modal untuk menjelajah ke hamparan dunia. Sebab seberapapun luas tanah yang kau pijak tak akan membuatmu bijaksana jika tak diiringi keinginan untuk mengambil pelajaran. Turis-turis berwisata dan mengambil foto, namun jarang yang mengambil hikmah. Kamu, sekalipun ada di rumahmu, kamu bisa mengambil hikmah dari peristiwa dunia. Semuanya kembali pada kamu; bagaimana kamu melihat hidup.

 

Bagaimana kawan muda, inspiratif bukan cerita perjalanan hidup dari Edgar? Jangan lupa bagikan kisah inspiratif ini agar kawan muda yang lain juga memeroleh manfaat yang sama denganmu ya. Tak lupa, terima kasih sudah berbagi cerita dan atas inspirasinya, Edgar! Semoga lancar studinya di jazirah Arab.

 

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0