“Jajal ngapak,”

pinta seorang teman di Yogyakarta karena tahu saya dari Wonosobo. Usai serangkaian kalimat terucap, dia menimpali, “Kok, ra ngapak?” Maka, penjelasan berlapis-lapis coba saya paparkan dengan harapan menjawab pertanyaan bernada kecewa itu. Bahwa ngapak ada di Banyumas, bahwa Wonosobo ada di peta sebelah sini, di antara ngapak dan bandek, dan modelnya begitu.

Sementara, rekan saya, kelihatannya berhasil meyakinkan penanya lain dengan mengatakan, “Wonosobo (sedikit) ngapak.” Dengan tambahan penjelasan ‘kontennya ngapak, ngomongnya mbandek’. Di lain pihak, di Banyumas atau Tegal, kalau ingin pergaulan berjalan dengan lancar, ya, mesti ngapak. Setidaknya, begitu pengakuan rekan yang lain lagi.

—

Di dalam tulisan ini, dibicarakan ancang-ancang membicarakan bahasa Jawa di Wonosobo. Tidak akan ada daftar kosa kata Wonosobo-an, baik sebagai kamus atau tesaurus, terutama dalam seri pertama ini. Bahkan, ngomongin Wonosobonya tidak seberapa. Jika tujuan kisanak dan nyisanak membaca untuk mencari kosa kata, sila berhenti di sini dan tunggu kemunculannya di seri lain.

—

Sebagai sisipan, berikut pengantar yang amat sangat singkat mengenai bandekan dan ngapak, dua dialek bahasa Jawa yang cukup tersohor di Jawa Tengah:

Bandekan

Kraton di Solo dan Yogyakarta adalah pusat kebudayaan. Bandekan ikut stabil melalui peraturan, penelitian, dan kegiatan kebudayaan mereka. Jadi, selama monarki Mataram itu berdiri, kelangsungan bandekan atau bahasa Jawa standar tetap aman. Yah, meski, hari-hari ini, kedengarannya makin banyak saja orang tua yang mengeluhkan betapa anak-anak muda tidak mengerti bagaimana berbahasa.

Ngapak

Pesaing utama bandekan, andaikata boleh disebut begitu. Masyarakat Banyumasan punya legitimasi yang cukup kuat sebagai ahli waris kebudayaan yang lebih tua dari Mataraman hari ini. Ditambah seruan provokatif, “Ora ngapak ora kepenak,” cocok betul dengan karakter cablaka-nya. Yang menarik, sejak tahun 2015, bahasa Jawa Banyumasan sudah dipakai sebagai bahan ajar Muatan Lokal (mulok) ditopang dengan perbup penggunaan bahasa Jawa Banyumasan. Tentu saja di daerah Banyumas.

 

—

Bahasa Jawa punya 4 dialek dan 13 subdialek. Empat dialek itu adalah Banyumas, Pesisir Utara, Surakarta, dan Jawa Timuran. Jadi, tidak kelewat mengherankan jika suatu tuturan diidentifikasi sebagai salah satunya. Misalnya, Wonosobo yang disangka ngapak tadi.

Beda lagi di ruang kelas, bahasa Jawa punya aturan main. Bukan (sub-)dialek masing-masing yang diajarkan dalam mulok, melainkan bahasa Jawa standar. Dengan pengecualian wilayah yang sudah punya perda soal ini. Persoalan ini terjadi karena (sub-)dialek kurang memenuhi syarat administratif.

Bicara soal administrasi, kita perlu melihat perjuangan Tegal yang menarik. Mereka ingin bahasa Jawa-Tegal mandiri. Mengikuti jejak Banyumas, atau malah dari Banyumas! Demi mengukuhkan legitimasi, Kongres Bahasa Jawa Tegal sudah diadakan dua kali. Diselenggarakan pada tahun 2006 dan 2016. Kamus Bahasa Jawa Tegal pun, sekarang, sudah terbit dua edisi, dengan hampir 9.000 lema plus pelafalan. Bagus sekali!

Sekarang, kita menunggu perkembangan. Apakah Tegal akan mengeluarkan perda penggunaan bahasa Jawa-Tegal (subdialek Tegal)? Atau karena suatu alasan, perjuangan bakal redup? Akankah menggunakan bahasa Jawa standar saja untuk mulok? Atau ada kejutan lain! Walahualam.

—

Kembali ke Wonosobo, sepertinya, tuturan kita awet di ambang bandek-ngapak tanpa kepastian independensi sebagai (sub-)dialek. Dikata mbandek di barat, dikata ngapak di timur. Sementara, ada sebagian warga meyakini, desa sebelah saja cara ngomongnya sudah beda. Beginikah nasib wilayah urban?

Akhir kata, simpan dulu harapan, (saya yang berharap, hiks!) soal perda penggunaan bahasa Jawa (spesifik di) Wonosobo. (Boro-boro perda, kamus dan pemetaan bahasa pun belum genap.) Namun, mengingat dan menimbang penelitian, karya, dan kamus bahasa (Jawa di) Wonosobo ada dan terus bertambah, semoga kita bisa memastikan identitasnya suatu hari nanti.

 

Agustinus Ari

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0