Tulisan ini adalah karya peserta program Kelas Menulis yang diadakan dengan kerja sama dari Wonosobo Muda dan Indika Foundation

Jangan mengaku menjunjung toleransi kalau dijalan masih belum bisa pelan-pelan, terkadang kesal kalau lagi di jalan. Dalam momentum hujan, berjibaku dengan genangan, bawa motor sendiri, jomblo, menghayal menikmati hujan bersama doi, tiba-tiba tersadar karena kecipratan air dari kendaraan yang berkendara dalam kecepatan tinggi. Sudah rapuh sendirian ditambah lagi cipratan kenangan. Disaat itu rasanya ingin berteriak, PELAN-PELAN WOIIII.

Di lampu merah lain cerita. Pernah gak sih ngalamin, kamu lagi di barisan terdepan di bawah lampu merah, sambil menghitung mundur angka merah yang semakin lama semakin melambat. Tiba-tiba di angka 5, kamu harus mendengar suara klakson yang bersahut-sahutan karena kendaraan di belakangmu sudah ingin melaju. Namun, kamu memilih untuk tetap menunggu lampu hijau menyala, meski menunggu itu melelahkan. Atau kamu harus mengerem tiba-tiba kendaraanmu saat kamu mulai melaju ketika lampu hijau, karena kamu terhalang oleh kendaraan dari arah berlawanan yang memotong jalanmu, artinya dia masih tetep melaju meski lampunya sudah merah. Di saat itu hanya mampu mengelus dada, bersabar dengan ujian dari orang yang gagal paham tentang aturan lalu lintas.

Pernah gak sih liat orang  yang ngelanggar lalu lintas? Tiba-tiba ditahan oleh polisi dan terpaksa harus berhenti. Saat ditilang baru memohon rasa kasihan dengan muka memelas kepada polisi agar tidak ditilang? Duh, waktu ngelanggar emang gak mikir ya? Keselamatan orang lain dan keselamatan diri sendiri terancam. Maunya buru-buru, ujung-ujungnya harus berurusan dengan polisi.

Pesan ini disampaikan oleh pengguna jalan yang sering dongkol. Buat para pengguna jalan agar mengedepankan keselamatan dan menjunjung tinggi toleransi dalam berkendara. Ingat! Dari sekian banyak toko, tak ada satupun toko yang menjual nyawa.

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0