Pada medio 90-2000an menjadi anak band adalah salah satu dambaan kebanyakan pelajar. Panggung festival, parade sampai pensi di sekolah adalah acara atau event yang wajib diikuti demi menjaga eksistensi grup band di kancah musik lokal. Terselenggaranya event tersebut tentu saja tidak lepas dari peran studio musik rentalan, di mana saat ada event pensi di sekolah ataupun kompetisi band, maka dari situlah studio band menyediakan wadah bagi musisi lokal untuk berlatih, dan melalui para perental-lah pemilik studio mendapatkan cipratan cuan.

Tak heran jika dulu studio band kala itu selalu ramai dipenuhi oleh remaja tanggung yang menunggu giliran berlatih, terkadang mereka rela menunggu hingga 2 jam untuk dapat masuk ke studio dan  berlatih memainkan lagu-lagu yang akan ditampilkan di panggung.

Kini zaman telah berubah, festival musik tidak sesering pada tahun 2000an, dimana saat itu lahir band seperti d’Massiv, Kotak, Ares dan band-band lain yang lahir dari ajang festival musik level nasional.

Kini, status anak band tidaklah setenar dulu seperti era pada saat MTV ampuh menjadi parameter tangga lagu Indonesia. Meski digempur perkembangan musik digital yang memungkinkan siapapun membuat karya dari rumah, studio band dan anak band di Wonosobo masih tetap menunjukkan bergeliat, mereka masih tetap menunjukkan eksistensinya untuk bermusik, dengan ataupun tanpa bayaran.

Kita juga tidak bisa menampik bahwa studio band rentalan merupakan salah satu tempat yang melahirkan musisi lokal yang belajar bermusik secara otodidak, maklum kala itu tidak banyak tempat kursus musik dan hanya segelintir orang saja yang dapat belajar musik dengan mendatangkan guru privat.

Pada kesempatan kali ini, saya berkesempatan untuk mewawancarai beberapa anak band dan pemilik studio band rentalan, demi mengetahui apa alasan mereka tetap eksis bermain musik khususnya dalam format Band.

Faiz (28 tahun) – nge-band karena hobi.

Dalam wawancara melalui pesan whatsapp, blio mengaku bahwa aktifitas bermusik alias nge-band, dilakukan karena memang hoby semata.

“Kalo nge-band cenderung ke hobi sebenarnya, bukan karena cari waktu luang dll,” ujar vokalis yang tergabung dalam Pemda Rock Band.

Berposisi sebagai vokalis di grup Pemda Rock Band, Faiz mengaku bahwa suaranya pernah habis karena terlalu sering latihan. Hilangnya suara tersebut juga didukung dari lagu bergenre metal dan rock yang sering dia bawakan.

“Yang aku lakuin makan kencur, kemudian minum jahe, tapi suaranya tetap nggak keluar, akhirnya saya beli obat di apotek sesuai saran teman” tutur Faiz.

 

Said (27 tahun) – Bermain band berawal dari meniru idola

Jika Faiz bermain band karena untuk menyalurkan hobi, lain hal dengan Said yang saat ini menekuni instrument bass pada project band-nya. Pria yang sudah masuk studio rental sejak kelas 5 SD tersebut menuturkan bahwa dirinya bermain musik karena pengaruh dari lagu-lagu yang kerap diputar dengan VCD Player.

Saya-pun menghubunginya melalui pesan whatsApp, untuk mengetahui bagaimana dirinya bermusik dan apa apa yang membuatnya tetap bermusik.

Saat ditanya apa alasan dirinya bermusik, Pria yang memiliki usaha sampingan berjualan liquid vapor tersebut mengaku bahwa dirinya bermain band karena adanya sosok idola atau musisi yang pernah ia tonton melalui VCD/DVD.

“Mereka menjadi sosok imajinatif, saya merasa kalau saya menjadi mereka (sosok band yang diidolakan) pasti sangat luar biasa, bukankah lumrah kita mencari jati diri dengan tahapan meniru sosok idola kita (musisi)”

Alumni etnomusikologi ISI tersebut mengaku mulai belajar alat musik dengan tahapan meniru, hingga akhirnya belajar memainkan instrumen secara otodidak.

Ketika saya tanya apakah profesi sebagai musisi itu masih menjanjikan?, Said menjawab bahwa segala profesi itu menjanjikan.

“Segala Profesi bagiku menjanjikan, tapi banyak faktor untuk sampai pada kata menjanjikan itu. Pertama Skill individu, baik internal maupun eksternal. Kedua lingkungan. Ketiga Luck.”

            Ketika ditanya perihal bagaimana dirinya selaku musisi bertahan di era digital, dirinya menjawab bahwa kita harus tahu bagaimana industri musik itu berjalan.

“Kalau kita sendiri nggak bisa mengikuti industri, seidealis apapun kita kalau tak mampu berbaur dengan industri yang ada, mungkin faktor luck yang bisa mencapainya”

            Pemuda yang pernah mempresentasikan makalahnya di Monash University tersebut juga mengatakan bahwa saat ini berkarya itu sangat mudah dibanding zaman dulu ketika kaset dan VCD laris manis di pasaran.

            “Zaman dulu untuk membuat sebuah karya itu sangat sulit tanpa kebersamaan. Dari recording, video clip, dll. Tapi sekarang zaman udah beda, bung, kita bikin karya seorang diri mudah sekali. Rekaman di rumah, bikin video clip pake animasi sendiri bisa. Kalau ada job tampil live, tinggal cari session player”. Pungkas Said.

           

Rudi (35 tahun) nge-band itu untuk mencari pengalaman dan tantangan.

Lain Faiz dan Said, lain pula Rudi seorang pegawai BUMN yang mengaku menyukai aktifitas nge-band untuk menambah pengalaman dan tantangan. Dirinya juga mengakui tidak pernah berfikir untuk menjadi musisi secara full time.

            Saya pun akhirnya membuat janji temu dengan blio, untuk mencari tahu apa saja pengalaman dan tantangan yang pernah didapatkan selama menekuni aktifitas bermusiknya sebagai seorang drummer.

“Dulu saya dan teman-teman waktu kuliah di Jogja, pernah berjuang sampai Jakarta ke salah satu label yang cukup ok, namun saya melihat bahwa saat itu major label dan dunia bisnis musik itu mengerikan”

            Saya-pun menggaris bawahi kata “mengerikan” yang beliau lontarkan, sesekali Rudi menyesap rokoknya dan menyeruput Teh Rio untuk membasahi kerongkongannya.

Lalu, saya bertanya, apa yang mengerikan dari industri musik khususnya pada major label?

Rudi kembali menyesap rokoknya lebih dalam, pikirannya kembali berwisata ke masa lampau ketika band yang digawanginya berurusan dengan produser musik.

“Duh, di sana (Jakarta) sangat miris, mas. Waktu itu produser memanggil satu per satu personel band dan dia bilang ‘lu mau gue kasih basecamp atau lu gue kasih tiket pulang ke Jogja’?” Tutur Rudi menirukan ucapan sang produser.

Ketika Rudi menanyakan ‘kenapa?’ Produser tersebut mengatakan hal yang membuat Rudi dan kawan-kawannya mengernyitkan dahi.

“Mau nggak ganti vokalis?” tutur Produser tersebut.

Rupanya Rudi mengetahui bahwa sang produser tersebut menilai bahwa vokalis pada band yang digawanginya tidaklah menjual alias kurang marketable atau bahasa kasarnya kurang ganteng. Mengetahui pernyataan produser yang membuatnya kecewa akhirnya Rudi dan kawan-kawan memilih untuk pulang dan meninggalkan Jakarta dengan segala asa dan cita-cita.

“Kalau saya menuruti produser lalu saya mendepak vokalis band saya, itu sama saja saya menginjak kepala vokalis saya untuk naik ke panggung yang lebih besar, apalagi vokalis saya saat itu juga ikut menciptakan lagu” Tukas Rudi.

Pengalaman pahit tersebut rupanya tidak menjadikan Rudi berhenti bermusik, meski kini dirinya sudah mendapatkan pemasukan dari gajinya sebagai seorang pegawai BUMN.

Berbekal pengalaman masa lalu, justru blio mencoba untuk menciptakan proyek musik di mana dirinya tidak ingin terikat dengan major label dan fokus memasarkan karyanya secara independent.

“Sekarang ini standarnya bukan standar label, mas, standar musik saat ini itu enak di dengar”.

            Blio juga menuturkan, jika dulu band lokal itu hanya mengandalkan festival band atau parade untuk bisa eksis dan mempertontonkan aksi terbaiknya. Saat ini, setiap orang memiliki akses untuk eksis, yakni dengan hadirnya internet dan media sosial.

Ketika ditanya, apa yang dicari dari aktifitas bermusiknya, Rudi tampak menghela nafas sembari mengubah posisi duduknya.

“Motivasi saya bermusik sampai ikut festival band itu karena ingin mencari pengalaman sekaligus mendapatkan tantangan”. Ujar Rudi.

Kini dirinya lebih berfokus dalam menciptakan konsep bermusik yang tidak hanya menghasilkan suara yang enak, tetapi juga membuat konsep di mana sebuah group band juga membutuhkan manajemen yang baik.

Drummer yang pernah menyabet juara 1 Festival Musik di Semarang tersebut menegaskan, bahwa dirinya tidak ingin terlalu idealis ketika bermain musik untuk kepentingan komersil.

“Idealis itu untuk prinsip diri, bukan untuk komersial karena musisi itu kalah dengan penikmat musik” Pungkas Rudi.

***

Setelah mengetahui alasan beberapa anak band yang tetap eksis di Wonosobo, saya juga ingin mencari tahu, apa alasan beberapa studio band tetap bertahan untuk tetap eksis meski beberapa studio band di Wonosobo kini telah menutup usahanya dengan hanya meninggalkan cerita.

Studio pertama yang saya datangi adalah studio Sawah Indah, sebuah studio kecil yang bisa ditempuh dengan 25 menit berkendara sepeda motor dari pusat kota Wonosobo (jika tidak macet).

Saya pun membuat janji temu dengan Pak Yotox, selaku pemilik studio sawah indah yang hingga saat ini tetap eksis membuka studio untuk melayani anak band yang ingin latihan.

Pak Yotox – Owner Studio Musik Sawah Indah

Di ruang tunggu studio, saya disuguhi foto masa muda Pak Yotox dengan beragam piala yang berjejer di depannya, pada zaman itulah era keemasan anak band di Indonesia.

“Dulu musisi di Wonosobo itu jarang yang menjadikan aktifitas bermusik untuk dijadikan profit, dulu antusias latihan di studio itu betul-betul tulus tanpa pamrih, apalagi zaman dulu belum ada job wedding”

Pria yang merupakan guru gitar dari Toto Anggit (Juara Bintang Pantura) tersebut, juga bercerita tentang suka dukanya merintis studio musik.

“Pada tahun 2004 sempat buka studio namanya 3 nada,  dengan modal menjual sepeda motor, waktu itu saya sharing profit dengan teman saya sebelum akhirnya saya membuat studio sendiri dengan nama Sawah Indah pada tahun 2007”

Ketika ditanya, apa instrumen yang sering mengalami kerusakan, Pak Yotok tampak menepuk jidatnya dan sesekali menggeleng.

“Stik drum, senar gitar dan bas, mika drum jebol, cymbal yang pecah dan yang paling parah itu neck gitar yang patah” ujarnya.

“Waktu itu ada pelajar yang nyewa, tapi kok kelihatannya buru-buru pulang, padahal waktu sewanya belum habis, nah setelah saya cek ke ruang studio, ternyata ada gitar yang digeletakke gitu, mas. Begitu saya angkat ternyata neck-nya sudah pothel” Kenang Pak Yotox.

“Selain itu, ampli juga sering rusak, jack bodol juga sudah menjadi makanan sehari-hari, mas. Karena yang namanya usaha sewa alat elektronik itu resikonya juga gede.” Tutur Pak Yotox yang tengah asyik meracik rokok lintingannya.

“Dulu sekitar tahun 2010, setidaknya ada 3 – 5 band yang latihan di studio, Mas. Bahkan kalau ada event seperti pentas perpisahan di sekolah, itu bisa selama 10 jam studio on terus”.

Pak Yotox-pun mengenang masa keemasannya kala itu, di mana pendapatannya benar-benar mengalahkan gaji PNS.

“Dulu penghasilan saya bisa diadu sama PNS, Mas. Dari studio saja, saya bisa dapet 3 juta sebulan. Pendapatan itu belum termasuk job saya di orkes dangdut, dimana sekali manggung saya dapat Rp 250.000. Kalau sebulan ada 4 job dangdut, saya bisa dapet 1 juta” Ujar Gitaris berambut gondrong tersebut.

Mendengar jawaban tersebut, tetiba saya tergelitik untuk bertanya tentang penghasilan blio selama pandemi.

“Saat pandemi studio saya tutup selama 1 tahun, mas. Mau buka gimana wong jalan masuk di-verboden, kok”. Tutur Pak Yotox sembari menyesap lintingannya.

Pada awal Pandemi yang berlangsung pada bulan Maret 2020, banyak jalan masuk gang yang ditutup portal, tidak sedikit masyarakat yang berinisiatif membuat portal sendiri untuk membatasi siapa saja yang dapat keluar masuk gang. Sedangkan untuk sampai ke studio sawah indah, para perental harus masuk gang yang ditutup portal secara swadaya oleh masyarakat.

“Waktu gang ditutup sebenarnya ada yang mau latihan, tapi dicegat sama warga yang jaga portal, akhirnya saya dihubungi sama salah satu warga yang jaga portal, dia bilang ‘ini ada anak yang mau latihan’, tapi saya bingung karena takut dianggap menjadi cluster covid-19, akhirnya saya trimo ngalah, mas. Studio terpaksa saya tutup”.

Karena studio sedang off, Pak Yotox bercerita bahwa setiap hari dirinya hanya mengelap instrumen yang ada di studio untuk menghindari karat. Selain itu, ia juga mulai berjualan rokok, kopi dan minuman teh kemasan cup di rumahnya agar dapur tetap mengepul.

“Tapi alhamdulillah, setelah ada new normal, studio saya buka kembali, itupun pemasukan saya tidak seperti dulu, boleh dikata penghasilan saya turun 75% dibanding dulu ketika studio masih rame, ini saja sudah 2 hari studio sepi”

Selama masa new normal, dirinya masih mendapatkan cuan dari job orkes dangdut ketika ada hajatan, dalam menjalani profesinya tersebut, dirinya harus meletakkan idealismenya untuk bermain musik dangdut di mana sebelumnya Pak Yotox adalah seseorang yang concern pada musik rock.

“Saya bermain musik dangdut karena untuk menambah pemasukan, bagi saya jadi musisi itu jangan terlalu idealis.”

“Aslinya, saya suka rock, tapi ketika saya main dangdut, main gitarnya juga sama saja, meskipun harus sedikit beradaptasi.”

Saat studio sepi dan new normal menjadi harapan pemasukan bagi Pak Yotox, dirinya harus menerima kenyataan bahwa eksistensi seniman di Wonosobo mengalami mati suri.

“Saya dikabari teman saya yang kerja di Pemda, katanya per 1 Juni 2021, di Wonosobo itu sudah boleh menggelar hajatan tetapi tidak boleh ada hiburan, sehingga pekerja seni seperti saya kan tidak dapat kue”

Meski harus menerima kenyataan pilu atas regulasi tersebut, Pak Yotox tetap bersikap nrimo ing pandum.

“Ya kita ikuti aturan pemerintah saja lah, kan kita hidup di negara Indonesia”. Tegas Pak Yotox dengan sedikit tawa kecil.

“Saya harap kalau semua sudah normal, para musisi bisa bekerja lagi.”

“Meski sekarang sedang surut, tapi saya tetap bertahan, mas. Saya ingin di Wonosobo ada regenerasi musisi”

Sebelum meninggalkan Pak Yotox, saya mencoba memasuki studio Sawah Indah, Pak Yotox-pun mengajak saya untuk ngejam tipis-tipis. Suara distorsi dari senar yang dipetik seakan menunjukkan bahwa blio adalah seorang Rockstar dari kota kecil bernama Wonosobo.

 

Sofan – Owner Twins Studio

Boleh dikata Twins Studio adalah studio yang tergolong baru. Berjarak 5 menit dengan perjalanan sepeda motor dari alun-alun Wonosobo, studio ini mulai beroperasi pada tahun 2011.

Studio yang memiliki 2 ruang latihan tersebut termasuk studio yang ramai oleh perental, meski era digital telah membuat aktifitas permusikan semakin mudah dilakukan di dalam kamar, namun Twins studio masih tetap buka untuk melayani para perental.

Saya berkesempatan bertemu dengan owner Twins Studio, Sofan, blio adalah seorang pemilik twins studio yang menjadikan musik sebagai media refresh setelah pulang dari aktifitas pekerjaannya sebagai buruh di Pabrik air mineral kemasan.

“Dulu ya, Mas, setiap kali ada festival band atau acara pensi di sekolah, studio pasti kecipratan rejeki, bahkan pernah studio saya on selama 10 jam karena banyaknya yang ngrental”.

Ketika ditanya, apa kerusakan paling sering yang dialami studionya, Sofan menjawab, kerusakan paling sering adalah Cymbal yang pecah. Untuk meminimalisir kerusakan Cymbal, dirinya juga memiliki trik tersendiri untuk mengantisipasi kerusakan instrument ritmis tersebut.

“Kalau sebulan itu pecah 2 cymbal, artinya saya harus nyiapin uang sampai 1,5 juta, mas, untuk mengantisipasi itu saya berani keluar modal untuk memasang cymbal agak banyak”.

“Umumnya, studio band itu kan cymbalnya cuma 2, ride sama crash, nah saya berani pasang 5-6 cymbal. Ini salah satu strategi agar cymbalnya awet. Karena kalau cymbalnya banyak, drummer tidak akan memukul pada satu cymbal saja, sehingga mengurangi risiko pecah cymbal akibat pukulan berulang pada titik yang sama. Di sisi lain, drummer juga pasti akan seneng, mas. cymbale akeh” Ujar sofan sambil tersenyum.

Menambah cymbal ekstra rupanya menjadi daya tarik bagi para perental untuk bermain di studio twins. Dimana extra cymbal adalah fasilitas plus-plus yang menjadi magnet bagi perental yang hendak berlatih.

Seiring berjalannya waktu dan menurunnya minat anak muda untuk bermain musik dalam format band, Twins studio masih tetap eksis dengan adanya para veteran anak band yang datang baik untuk berlatih atau sekadar mampir ngobrol.

“Twins studio itu seperti wadah bagi veteran anak band yang ingin bernostalgia, mas, banyak veteran musisi yang sudah berumur 30-40 tahun latihan di sini, mulai dari guru, pegawai, kadang juga ada polisi yang suka main musik latihannya di sini.” Ujar Pria yang kerap mengenakan topi tersebut.

Saat pandemi covid-19, Sofan mengaku bahwa studionya terpaksa tutup selama 7 bulan. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dirinya masih mendapatkan penghasilan dari profesinya sebagai buruh pabrik.

“kalau saya tidak bekerja sebagai buruh, mungkin saya sudah merantau ke luar kota atau jual alat, mas.”

“Teman-teman saya yang bekerja sebagai sound engineering, itu banyak yang jualin alat untuk makan sebulan, itu fakta, lho” tegas Sofan.

Saat ini Twins studio merupakan salah satu dari beberapa studio musik di Wonosobo yang masih bertahan untuk eksis dalam melayani siapapun yang ingin merental seperangkat alat band.

Twins studio tidak hanya menawarkan seperangkat alat band, studio musik tersebut juga menjadi wadah bagi siapapun yang dulu pernah terobsesi menjadi anak band namun keinginan untuk bermusik masih tetap ada. Hal ini tidak jauh berbeda dengan Bapack-Bapack usia 30an yang masih setia bermain playstation di rental PS.

Klangenan akan nostalgia-lah yang menjadi daya tarik anak band veteran secara organik untuk tetap menyewa studio band.

Setiap karya pasti menemui peminatnya, dan setiap karya pasti ada eranya. Pak Yotox dan Sofan adalah segelintir owner studio musik yang memilih untuk tetap eksis dan bertahan dalam ketidakpastian, tanpa melupakan kebutuhan dasar manusia untuk tetap mencari makan.

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0