Tulisan ini adalah karya peserta program Kelas Menulis yang diadakan dengan kerja sama dari Wonosobo Muda dan Indika Foundation

Imunisasi penting untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak. Di balik kontroversi imunisasi, saya cenderung pihak yang setuju pada imunisasi. Bagi saya lebih baik memberikan tameng untuk si kecil sekaligus memutus rantai penularan. Sebagai contoh, seorang anak terkena rubella, bagi si anak sendiri efeknya memang tidak terlalu buruk. Namun, jika si anak menularkan penyakit pada ibu hamil, maka janin tersebut bisa cacat jika terpapar rubella. Demi menghindari kemungkinan tersebut, saya rutin mengajak anak saya, Alula imunisasi.

Saya selalu menguatkan hati dan diri untuk menghadapi kerewelan Alula pasca imunisasi. Saya selalu mengingat ilmu dari grup-grup ASI bahwa obat terbaik bagi bayi adalah ASI. ASI mengandung zat yang dibutuhkan bayi sesuai dengan kondisinya. Selain kebaikan ASI itu sendiri, skin to skin antara bayi yang menyusu dengan kulit ibu juga akan memberikan efek tenang sehingga bayi merasa nyaman. Begitu Alula menunjukkan tanda tak nyaman, maka saya dekatkan Alula untuk lebih sering menyusu.

Semakin banyak ASI yang diminum, keadaan Alula cepat pulih. Saya tidak buru-buru memberikan paracetamol meski suhu tubuh Alula naik. Hal tersebut membuat tubuh Alula lebih kuat dalam menghadapi dampak imunisasi. Di imunisasinya yang terakhir kemarin, Alula baik-baik saja, tidak menunjukkan efek demam maupun efek lain. Alula tetap ceria seperti biasa.

Pengalaman tersebut membuat saya semakin yakin bahwa paracetamol tidak dibutuhkan untuk mengatasi demam pasca imunisasi. Pemberian paracetamol justru dapat mengurangi manfaat positif dari vaksin yang dimasukkan dalam tubuh. Anak rewel karena demam pasca imunisasi itu biasa. Ia sedang adaptasi karena tubuhnya dimasukkan benda asing. Kita sebagai ibu yang harus bijaksana dalam menyikapi hal tersebut. Dokter Apin dalam bukunya berjudul “Berteman dengan Demam” mengatakan bahwa demam itu bukan penyakit, namun suatu gejala bahwa dalam tubuh anak sedang ada sesuatu. Demam bukan untuk diobati, namun sesuatu yang menyebabkan demam itu yang harus ditangani.

Mari menjadi ibu bijak dalam penggunaan obat. Alangkah baiknya jika si kecil tidak buru-buru diberikan obat, jika masih dalam taraf sakit yang wajar. Hal tersebut bisa menjadi kebiasaan bagi anak kelak, bahwa dalam menyikapi penyakit tidak sedikit-sedikit konsumsi obat, karena tubuh kita sebenarnya sudah punya pasukan yang siap melawan penyakit. Namun, kalau sudah observasi 3 x 24 jam tak ada kesembuhan, silakan menghubungi dokter anak sahabat keluarga.

Oleh Rumah Belajar Alula

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0