Tulisan ini adalah karya peserta program Kelas Menulis yang diadakan dengan kerja sama dari Wonosobo Muda dan Indika Foundation

Para pejalan kaki di kota Wonosobo, sudah mulai terganggu dengan beberapa masalah dilihat dari para pejalan kaki yang terpaksa turun dari trotoar dan berjalan di pinggiran jalan raya. Beberapa masalah nya seperti trotoar yang digunakan untuk tempat parkir kendaraan, tempat berjualan bagi PKL (Pedagang Kaki Lima), juga beberapa tempat pejalan kaki yang rusak dan sempit untuk dilalui. Padahal, jika orang-orang mulai turun dan berjalan di jalan raya, itu akan sangat membahayakan. Bisa saja terserempet oleh kendaraan lain karena memang jalan raya adalah untuk kendaraan bermotor dan angkutan umum lainnya. Sedangkan pejalan kaki memiliki tempat untuk berjalan yaitu di trotoar.

Beberapa peraturan yang mendasari tentang penggunaan trotoar, ada dalam Peraturan Menteri (Permen) Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 03/PRT/M/2014 tentang Pedoman Perencanaan, Penyediaan, dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan, Pasal 13 Ayat 2 Permen PUPR Nomor 03/PRT/M/2014, Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang No. 2 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan.

Kesimpulan dari Permen tersebut yaitu, trotoar diperuntukkan bagi lalu lintas pejalan kaki. Namun, ada peraturan yang mengatur untuk penggunaan trotoar bagi selain pejalan kaki yaitu untuk aktivitas bersepeda, interaksi sosial, kegiatan usaha kecil formal, aktivitas pameran di ruang terbuka, dan jalur hijau. Pemanfaatan trotoar untuk kegiatan lain selain pejalan kaki, diperboleh kan atas dasar hokum diatas, sepanjang tidak mengganggu fungsi utama pejalan kaki.

Kurang lebih sekitar 60%, jalan yang sama yang saya lewati setiap hari, penuh dengan lapak, tempat parkir, plang, tempat menaruh gerobak, berlubang dan rusak cukup parah, bahkan tidak ada tempat bagi pejalan kaki. Padahal jalan yang rusak tersebut, tepat berada di perempatan Plaza di tengah kota. Di depan nya ada tempat penyebrangan. ‘Lalu saya harus berjalan di sebelah mana?’ tanya saya saat itu. Sedangkan orang-orang disekitar saya yang mengandalkan dirinya dengan berjalan kaki, seperti sudah biasa dengan hal itu. Mereka terlihat acuh meski berkali-kali turun ke jalan aspal seperti saya. Ini dikarenakan trotoar di Wonosobo tidak memiliki lebar lebih dari 5 meter, namun banyak sekali para pedagang kaki lima yang bersikukuh menggunakan trotoar untuk berjualan. Padahal, tidak semua PKL memiliki TDU (Tanda Daftar Usaha) yang dikeluarkan oleh pejabat yang ditunjuk sebagai tanda bukti pendaftaran usaha PKL sekaligus sebagai alat kendali untuk pemberdayaan dan pengembangan usaha PKL di Lokasi yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah.

Bahkan, CNN Indonesia pun menerbitkan sebuah artikel tentang perilaku pengendara motor yang menajdi musuh bagi pejalan kaki. Kesimpulan dari artikel tersebut adalah, betapa bahayanya bagi pejalan kaki jika berjalan di jalan raya, dan betapa mengerikan apabila ada pengendara motor yang tiba-tiba mengambil parkir di trotoar dengan sembarangan. Bahkan di ibu kota, banyak sekali pengendara motor yang kadang berkendara di trotoar. Itu salah satu yang membuat trotoar menjadi rusak dan berlubang.

Alasan rusaknya tempat pejalan kaki dan penyalahgunaan tempat pejalanan kaki di Wonosobo, di antaranya terjadi karena pembangunan pasar induk yang tak kunjung selesai, sehingga banyak pedagang yang memiliki lapak di Pasar Induk, dan sudah diberi lahan sementara untuk berjualan, namun terlalu sempit dan tidak layak, berpindah mencari tempat lain untuk membuka lapak nya. Kurang nya kesadaran masyarakat Wonosobo akan penggunaan trotoar. Kurang meluasnya himbauan lengkap dan jelas dari pemerintah kepada masyarakat Wonosobo tentang peraturan penggunaan tempat pejalan kaki. Dan juga kebutuhan masyarakat Wonosobo yang meningkat sehingga banyak sekali yang memiliki kendaraan bermotor. Pasalnya, Wonosobo adalah kota dengan jalan raya yang tidak begitu lebar. Bahkan, Wonosobo termasuk minim sekali lahan untuk tempat parkir jika dilihat dari banyak nya masyarakat yang memiliki kendaraan bermotor, tempat rekreasi, supermarket, tempat makan, dan jalan raya yang sempit. Sedangkan ada beberapa ruas jalan yang sangat kecil, namun dilalui oleh kendaraan bermuatan besar.

Oleh Anna Lattaphie

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0