Amelia DitaBetter to have a short life that is full of what you like doing than a long life spent in a miserable way. And after all if you do really like what you’re doing , it doesn’t matter what it is you can eventually become a master of it, the only way to become a master of something is to be really ’with it’. Then you will be able to get a good fee for whatever it is. Therefore it is important to consider this question. What do I desire?” —Alan Watts

Dita, demikian gadis berbakat dan baik hati ini biasa disapa. Amelia Dita Tifani, berusia dua puluh dua tahun dan masih tercatat sebagai mahasiswa Universitas Diponegoro jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Merupakan bungsu dari tiga bersaudara, putri pasangan Sugiyanto dan Darmiyati ini memiliki hobi membaca dan berdiskusi. Lahir dan besar di kota kecil seperti Wonosobo tidak menghalanginya untuk melanglang buana. Ia mendapatkan South Korean Government Scholarship Exchange Student Grantee pada 2011 dan Service Civil Incoming Program Grantee Belgium, Germany, Poland pada 2014. Selain itu, saat ini Dita sedang sibuk menebarkan manfaat ke seluruh penjuru dunia, berikut ulasannya.

Indonesia International World Camp

Indonesia International World Camp (IICW) adalah organisasi kerelawanan yang berpusat di Semarang. Tiga tahun belakangan Dita bergabung dengan organisasi ini. Kini ia adalah trainer dan relawan di organisasi ini. IIWC memiliki program yang dinamakan Work Camp. Work Camp atau kemah kerja adalah kegiatan kepemudaan internasional yang bertujuan untuk bertukar pikiran, budaya, dan memberdayakan masyarakat. Setiap tahun IIWC menjadi tuan rumah bagi ratusan relawan dari berbagai negara. Mereka saling belajar, bertukar pandangan dan bekerjasama memberdayakan masyarakat setempat.

“Saya memilih kegiatan ini karena saya selalu tertarik dengan kegiatan yang bersifat memberdayakan masyarakat. Ternyata di IIWC saya juga berkesempatan mengembangkan kapasitas diri dan saya juga menemukan bahwa IIWC juga mempunyai banyak partner organisasi di luar negeri, karena kegiatan International Voluntary Service atau yang biasa disingkat IVS sudah sangat lumrah di Eropa,” terangnya.

Menurutnya, permasalahan di seluruh penjuru dunia merupakan hal yang kompleks dan sangat banyak. Ia tidak merasa sanggup untuk mengatasi semuanya, namun ia berusaha untuk peduli dan melakukan sesuatu bagi lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh IIWC memiliki proyek di Mangkang Wetan, Semarang. Daerah ini dulunya adalah tambak udang dan bandeng, salah satu yang terbesar di Semarang. Namun dikarenakan budidaya yang massif,akibatnya terjadi abrasi yang cukup parah di daerah ini.Sehingga tambak dan rumah milik warga banyak yang hilag tersapu gelombang,akibatnya perekonomian warga terganggu. Adalah Bapak Sururi salah satu pemerhati lingkungan yang prihatin dengan kondisi ini, dan memutuskan untuk memulai menanam mangrove. IIWC mendengar usaha Bapak Sururi dan memutuskan untuk bekerjasama dengan beliau pada tahun 2007. Hingga Kemah Kerja Musim Panas tahun 2014, ratusan relawan internasional dan lokal bersama IIWC dan Bapak Sururi sudah menanam kurang lebih 800.000 pohon mangrove. Ini hanya salah satu proyek saja yang dilakukan IIWC dan mitra lokal. IIWC memiliki puluhan mitra lokal lainnya dan terus melakukan pendampingan mitra lokal untuk kemajuan komunitas.

Dita menambahkan, kegiatan kerelawanan bukan bertujuan untuk membantu. Karena membantu berarti ada pihak yang lebih rendah daripada kita. Sifat mengasihani, simpati memang baik,namun secara tidak langsung menempatkan orang lain lebih rendah daripada posisi kita. Inilah yang tidak baik, kita harus menganggap semua orang sama, menghilangkan prejudice dan stereotype.Proyek-proyek IIWC juga memegang teguh prinsip ini, mereka mengirim relawan ke proyek bukan bertujuan untuk membantu, namun belajar. Begitu banyak relawan asing yang justru belajar dari mitra lokal IIWC.

Pada bulan Mei 2014 partner IIWC yang bernama Service Civil International (SCI) di Belgia dan Jerman mengadakan kegiatan tahunan yakni SCI Incoming Program. Dalam kegiatan ini, SCI mengundang negara-negara selatan atau negara berkembang untuk melakukan kegiatan kerelawanan di Belgia dan Jerman. Peserta tahun ini berasal dari Nigeria, Uganda, Indonesia, Mongolia, Kamboja, Togo, Afrika Selatan, Ghana, India, Meksiko, dan Ekuador. Kegiatan ini dibiayai oleh Pemerintah Uni Eropa. Kegiatan ini juga bertujuan untuk menunjukkan bahwa tidak hanya negara utara atau negara maju saja yang bisa melakukan kegiatan-kegiatan kerelawanan.

Untuk kegiatan di Natoye, Belgia ini, Dita berpartisipasi di kemah kerja sebuah pusat bagi para pencari suaka yang diorganisir oleh Palang Merah Belgia. Bagi Dita, ia sangat menyukai proyek ini karena ia sangat tertarik dengan isu Hak Asasi Manusia. Dua minggu tinggal di center membuatnya dekat dengan para pencari suaka. Mereka berasal dari berbagai negara, kebanyakan dari negara konflik seperti Suriah, Palestina, Eritrea, Chechnya, Iraq, Afghanistan dan lain-lain. Mereka memiliki begitu banyak kisah memilukan seperti kehilangan sanak saudara di medan perang, selamat dari penculikan, selamat dari tembakan peluru, bahkan ledakan bom.

Disini lagi-lagi Dita dihadapkan untuk melihat mereka sebagai “orang” yang memiliki kedudukan sama dengannya. Stereotip kita jika melihat kondisi para pencari suaka adalah “kasihan”. Ini salah. Mereka sama seperti kita, mereka menyimpan banyak kisah hebat dibalik derita mereka. Dita bertemu mantan pemain basket profesional di Senegal, Penasehat Menteri Keuangan Afghanistan, penulis buku terkenal asal Iran, penari hip hop dari Syria, pemain sepak bola profesional Eritrea, serta mahasiswa studi hukum di Lebanon. Ia menemukan kawan, sahabat, bukan seseorang untuk dikasihani. Di sana Dita juga belajar banyak tentang prosedur pencarian suaka di Belgia. Ia juga berkesempatan untuk bertemu relawan dari Spanyol, Guatemala, Slovakia, Republik Ceko, Tunisia dan Bulgaria.

“Saya kagum! Mereka lebih hebat dari saya, saya cuma mahasiswa ingusan dari Wonosobo yang belum lulus. Hanya karena mereka pergi dari negara mereka untuk menyelamatkan diri tidak menjadikan posisi mereka lebih rendah dari saya,” ujarnya.

Bahagia lebih penting

Banyaknya pengalaman dan cerita yang ia dengar dari orang-orang luar biasa yang telah ia temui membuat Dita belajar untuk tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan. Dita juga berprinsip untuk lebih mengutamakan kebahagiaan daripada kekayaan. Dita berpesan, hendaknya kita melakukan apa yang kita suka, kita dalami bidang yang kita suka. Sebab, kunci pencapaian hidup adalah kebahagiaan, bukan kesuksesan semata.

Banyak orang di negara maju yang ia temui ternyata tidak bahagia hidupnya. Dita menyadarinya setelah dua kali kereta bawah tanah yang ia tumpangi di Brussel harus distop karena ada orang yang melompat ke rel kereta api. Apalah arti hidup di negara yang banyak memberikan kecukupan finansial bagi warga negaranya tapi mereka tidak bahagia hidupnya. Ia lebih suka berjalan-jalan di Garung, misalnya dan mendapatkan sapaan dari orang-orang ketika lewat. Anak-anak dapat bebas bermain dijalanan, tertawa terkikik tanpa beban. Ini membuat Dita sadar bahwa kunci hidup adalah mensyukuri dan menikmati. Tidak usah membandingkan kehidupan orang lain dengan apa yang kita punya. Fokus saja dengan apa yang kita sukai, karena apa yang kita sukai bisa jadi ladang rejeki.

Kini, Dita juga sedang melanjutkan impiannya untuk lulus kuliah dan mengejar cita-citanya. Ia ingin bekerja di IIWC atau di NGO pemerhati masalah pengungsi dan pencari suaka, tanpa lupa melanjutkan pendidikan dengan mengambil master di bidang Antropologi. Semangat terus, Kawan! (Agnes, Shinta)

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0