Identitas: Tentang Kita dan Mereka
Beberapa hari ini saya sedang tertarik membaca buku karya Amartya Sen mengenai identitas. Konten buku yang menarik membuat saya berminat untuk membagikan pemahaman mengenai apa yang saya baca kepada anda.
Pernahkah sekali waktu dalam hidup anda, anda berpikir mengenai: siapakah saya? Atau pernahkah pada suatu hari yang cerah dan menyenangkan, mendadak seseorang bertanya kepada anda, siapakah anda? Atau secara lebih rinci, jelaskan identitas anda. Mungkin, jika bertemu penanya seperti di atas, yang saya akan lakukan adalah mengeluarkan kartu identitas saya, dan menjelaskannya kepada penanya tersebut: saya, adalah seorang perempuan, berusia 22 tahun, sesesorang yang lahir di Wonosobo, dan sebagainya dan sebagainya.
Apa yang kemudian menjadikan pertanyaan tersebut menarik? Karena saya baru menyadari bahwa diri saya ternyata dibentuk dari beberapa identitas. Menjelaskan diri saya hanya sebagai perempuan, atau hanya sebagai seseorang yang berusia 22 tahun, atau hanya sebagai seorang kelahiran Wonosobo, tidak akan pernah mendefinisikan diri saya secara lengkap.
Sayangnya, dalam kehidupan kita saat ini, sering terjadi pengkotak-kotakan akan golongan manusia. Seakan-akan, manusia hanya memiliki identitas tunggal. Di satu sisi pengkotak-kotakan dapat menciptakan in group feeling, yang jika tidak salah saya jabarkan, merujuk pada kesadaran akan rasa saling memiliki karena adanya ciri-ciri yang sama. Sayangnya, di sisi lain, pengkotakan identitas ini seringkali berakibat pada konflik, karena adanya anggapan bahwa mereka bukanlah kita. Sebutlah konflik Sampit, insiden Tolikara, Poso dan tempat-tempat lain. Dengan mengacu pada satu identitas terhadap suku atau agama tertentu, orang menjadi lupa akan adanya identitas besar yang melingkupi mereka semua: sesama warga Indonesia, sesama manusia. Pengkotak-kotakan tersebut juga menghilangkan semua irisan yang mungkin terjadi antara kelompok A dan kelompok B. Teman satu almamater saat SMA, sesama pecinta sepakbola, penyayang binatang, atau identitas-identias irisan lainnya menjadi tidak berarti karena adanya mereka dan kita. Sungguh ironis.
Jika dipikirkan kembali, rasanya manusia terlalu kompleks untuk dapat digolong-golongkan layaknya binatang. Dan bagi saya sendiri, saya menyimpulkan bahwa, adalah sebuah kesalahan jika kecintaan akan identitas yang satu, membuat kita mengacuhkan pentingnya identitas-identitas lain yang juga sama-sama melengkapi definisi kita tentang diri kita masing-masing. Pada akhirnya, jika boleh saya sedikit berkata, meski tanpa momentum, semoga tulisan ini dapat menjadi salah satu rujukan kita dalam bersikap, terutama ketika kelompok mereka dan kelompok kita mulai timbul dalam masyarakat dimana anda sekalian berada.
