Menyoal pernikahan, bukanlah hal yang mudah bagi anak-anak muda untuk memikirkannya. Bahkan untuk saya, perempuan usia 22 tahun yang notabene sudah masuk ‘usia-usia ideal’ untuk menyelenggarakan sebuah pernikahan. Bukan soal pikiran maju atau mundur, pernikahan bukan juga hanya persoalan terjebak di rumah dengan segudang permasalahan kompleks berumah tangga. Pernikahan lebih kepada sebuah pilihan besar bagi saya, dan kita semua. Menikah, atau tidak?

Sebagian berpikir,”Menikah? Kita masih muda, jangan dipikirin dulu lah!” atau “Masa muda itu singkat, jangan dipersingkat dengan pernikahan!”

Yah, tidak salah. Tidak sepenuhnya benar juga. Semuda apapun kita, cepat atau lambat kita akan segera dihadapkan dengan persoalan ini. Bahkan banyak dari teman seumur kita sudah menjalaninya. Teman saya bahkan terobsesi ingin menikah muda, yang pada akhirnya menikah di usianya yang ke dua puluh dua. Tidak masalah baginya, dia dan suaminya menjalani pernikahan mereka seperti menjalani hari-hari biasa. Dia, dengan rutinitas kuliah dan kesibukan organisasinya, dan suaminya dengan pekerjaan sehari-harinya.

Bagi saya sendiri, pernikahan dini bukanlah sebuah pilihan untuk saat ini. Mengingat egoisme saya yang masih sangat kuat, jiwa saya yang enggan terkekang, dan pemikiran masa bodoh saya yang masih merajalela. Saya belum siap terbangun tengah malam karena tangisan bayi, bangun pagi buta kemudian sibuk menyiapkan sarapan bagi suami dan anak, saya belum siap untuk berhenti berkumpul dengan teman-teman saya dan memilih untuk tinggal di rumah mengurus anak. Pernikahan butuh tanggungjawab dan kesiapan mental yang luar biasa, yang saya belum punyai saat ini.

Pernikahan Terencana Vs Pernikahan By Accident

Mungkin tidak ada masalah bagi mereka yang memang sudah merencanakan pernikahan di usia muda. Persiapan demi persiapan pasti telah mereka lakukan untuk memuluskan rencana mereka, baik mental maupun finansial. Tapi bagaimana dengan mereka yang ‘tanpa sengaja’ melakukan kesalahan dan harus mempertanggungjawabkannya dalam bentuk lembaga pernikahan? Terseret paksa dalam kehidupan berumah tangga dan bermasyakarat. Ditarik paksa dari kehidupan mudanya yang belum puas ia kecap. Menjadi tuan atau nyonya muda di masa-masa ia seharusnya masih bersenang-senang bersama kawan-kawannya, dipaksa menjadi dewasa di saat ia masih senang belajar kesana-kemari. Pilihan ini bukanlah pilihan yang mudah, meski berbagai suara sumbang terdengar di sana-sini.

“Berani berbuat berani bertanggung jawab, dong!”

Begitu biasanya suara yang pasti terdengar, atau malah diperdengarkan. Tidak salah, memang. Sebagai manusia, kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan sendiri. Bukan orang lain yang harus menanggung akibat dari apa yang kita lakukan. Yah, seharusnya.

Tapi sebagai orang yang mengalami kejadian itu sendiri, betapa berat beban pikiran mereka. Sudah harus bertanggung jawab atas hidupnya dan hidup pasangannya, harus menepis suara-suara sumbang dari orang lain yang tidak mendukung, harus ini, harus itu. Saya terkadang nepakake awake dhewe (menerapkan pada dirin sendiri), berkaca apabila hal itu terjadi pada diri saya dan apa yang akan saya lakukan jika hal itu terjadi pada saya. Ternyata saya tidak sanggup dengan hanya memikirkannya saja. Padahal banyak sekali anak muda seumuran saya yang mengalami ‘kecelakaan’ seperti ini. Dhuh, Gusti Pangeran! Semoga Tuhan selalu bersama mereka.

Oleh karena itu, sebagai anak muda kita harus sangat berhati-hati dalam menghadapi arus pergaulan masa kini. Saya tidak pernah ingin atau berusaha menghakimi mereka, bahwa masa depan mereka suram, bahwa mereka bodoh bisa terseret ke dalam pusaran pergaulan buruk, dan bahwa-bahwa lainnya. Tidak sama sekali. Banyak kemungkinan yang tidak kita ketahui mengenai kebenaran atas apa yang terjadi pada diri seseorang, jadi tidak benar apabila kita menghakimi orang tersebut. Tapi sebagai anak muda yang punya banyak mimpi, tentu kita tidak ingin berakhir seperti itu bukan?

Oke, kembali ke pernikahan by accident. Setelah sebesar ini, saya mencoba berempati pada perempuan-perempuan yang mengalami kejadian serupa. Mereka pun sama dengan saya, tidak ingin terseret paksa dalam kehidupan dewasa yang belum ingin ia kecap. Namun ketika kenyataan manis tidak berpihak pada mereka, mau bagaimana lagi?
Saya memiliki beberapa teman yang mengalami hal ini. Mereka sering bercerita kepada saya mengenai kehidupan barunya pada saya. Saya bersyukur bisa menjadi teman sharing mereka. Berkat mereka, perspektif saya terhadap perempuan-perempuan hebat seperti mereka jadi berubah. Saya menjadi perempuan baru yang tidak mudah menghakimi lagi. Mengapa saya sebut mereka sebagai perempuan hebat? Saya punya banyak alasan untuk memberikan respect bagi mereka.

Karena mereka sama seperti saya. Perempuan muda penuh passion dan mimpi. Mereka juga tidak pernah menginginkan akan memiliki hidup yang seperti itu. Mereka tidak pernah membayangkan juga akan punya anak di usia muda dan diluar rencana. Tapi dengan ‘secara tanpa sengaja terseret’ dalam kehidupan berumah tangga, mereka merelakan segala mimpi dan passion mereka untuk mengurus keluarga baru mereka. Ya, mereka pernah melakukan kesalahan. Memang perbuatan mereka di masa lalu salah. Memang kehidupan baru mereka adalah akibat dari kesalahan yang mereka buat di masa lalu. Tapi mereka bertanggung jawab. Mereka melahirkan anak mereka, merawatnya dan mengurusnya dengan penuh kasih sayang. Mereka menyadari bahwa seorang bayi yang terlahir adalah suci, tanpa dosa maupun silap.

Ada perempuan-perempuan lain di luar sana yang mengaborsi, atau malah membuang bayinya saat lahir. Mereka belum ikhlas masa bebasnya berakhir, belum ikhlas waktu mainnya berkurang, belum ikhlas setiap hari bau ompol bayi. Teman saya pun bisa berlaku seperti ini, tapi ia memilih untuk tidak melakukannya. Ia memilih untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah ia buat. Salut!

Bagi saya, perempuan-perempuan yang memilih berumah tangga di usia muda (baik terencana maupun by accident) adalah perempuan-perempuan hebat. Mereka merelakan jam main mereka, merelakan kebebasan mereka, merelakan segala aktivitas senang-senang khas anak muda, demi keluarga barunya. Suami dan anak-anaknya. Mereka berani mengambil semua resiko yang mungkin tidak berani saya sentuh dan menjadikannya pilihan yang indah. Dengan mengambil pilihan untuk menikah, mereka melepaskan semua kesenangan personalnya, menggantinya dengan skala prioritas keluarga barunya. Merelakan ambisi pribadinya dan mengalah kepada kepentingan suami dan anak-anaknya. Tidak semua perempuan mau melakukannya, termasuk saya.

Dan akhirnya, tanpa mengurangi respect pada ibu-ibu ‘senior’, saya diam-diam sangat mengagumi ibu-ibu muda seperti mereka. Tetap sehat dan semangat yah, ibu-ibu muda se-Indonesia! Tuhan berkehendak memberikan amanah yang sangat berharga: anak-anak. Ciao!

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0