Sebuah Harmoni : Menghubungkan Pengalaman, Menemukan Pemahaman
Seorang bocah delapan tahun berjalan mengikuti langkah-langkah orang dewasa, bergerak tergopoh-gopoh mengejar perayaan wisuda paman mudanya. Pamannya adalah mahasiswa salah satu universitas di Jogjakarta. Ia berkata pada Ibunya,” besok aku mau sekolah di situ!” sembari tersenyum ia menunjuk pada salah satu gedung di sana, Akuntansi. Ibunya mungkin tak ingat, anak itu mungkin juga tak sadar dengan apa yang diucapkannya, apa yang ditunjuknya, namun sebagian memori bocah kecil itu tetap terpatri pada sebagian masanya, karena ia telah berada di sini, Jurusan Akuntansi. Sebuah kebetulan?
Dari seorang anak kecil, manusia tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa. Sekumpulan pelajar berseragam putih abu duduk di depan kelas mereka, mengamati orang-orang berlalu lalang di pinggir lapangan. Beberapa orang berjaket kuning lewat di depan mereka. Orang-orang berjaket kuning itu adalah mahasiswa-mahasiswa yang sedang memperkenalkan kampus mereka. “ Weits, itu lho calon kakak kelasku!” Dikiranya mahasiswa UI, ternyata belakangan terungkap bahwa rombongan itu berasal dari kampus lain yang sama-sama berjaket kuning. Sontak teman-temannya tertawa terbahak-bahak dan meledek habis-habisan anak itu. Tahun berlalu, kelas berganti, dan siapa sangka bahwa anak yang dulu ditertawakan itu telah berada di sini, Universitas Indonesia, memakai jaket kuning. Sebuah kebetulan pula?
Buat sebagian orang, fase pergantian seragam putih abu menjadi jaket almamater kampus sangatlah memorable. Mahasiswa-mahasiswa baru dari entah belahan bumi Indonesia yang mana, berkumpul di balairung dan ramai-ramai mengikuti riuh rendahnya aktivitas di sana. Brosur dan flyer organisasi kampus bertaburan di sana sini. Salah satunya jatuh ke tangan seorang anak. Tepat di halaman tengahnya memuat struktur organisasi sebuah lembaga eksekutif kampus. Dalam benak anak itu terlintas pikiran, apakah dia bisa berada dalam jajaran orang-orang itu. Aih, hanya selintas pikiran, alangkah muluknya ia yang dari kampung antah berantah dan tak kenal siapa-siapa bisa berada di dalamnya. Dilipatnya kertas itu, disimpannya, dan menyatu dengan tumpukan kertas lainnya. Namun siapa yang tahu bahwa kelak, waktulah yang membuka kembali kertas itu dan memperlihatkannya kepada anak itu. Nak, bukalah mimpimu kau telah berada di sana. Sebuah kebetulan lagi?
Tidakkah hidup ini penuh dengan kebetulan-kebetulan yang jika dirangkai bagai sebuah puzzle, yang sesungguhnya saling melengkapi satu sama lain? Ataukah kita yang tidak menyadari bahwa apa yang kita ucapkan adalah doa, yang kita lihat, kita tunjuk, kita rasakan adalah sebuah harapan yang sewaktu-waktu dapat kembali tanpa kita sadari? Seorang anak kecil mungkin tidak tahu apa-apa, tapi siapa yang tahu bahwa ucapannya yang tulus, keinginannya yang lurus, yang keluar dari dirinya tanpa disadari, mungkin diamini oleh malaikat-malaikat. Ejekan atau candaan orang kepada yang lainnya yang sungguhpun tidak disengaja, ketika ia jadikan doa, diaminkan dalam kebelumlayakan, siapa yang tahu bahwa suatu saat orang-orang akan beralih tersenyum padanya?
Tidakkah prasangka-prasangka kita kadang justru mendekatkan kita kepada sebuah hal? Ada satu anak di salah satu kelas mata kuliah di kampus, sangat berisik ketika berdiskusi dan saya berkata dalam hati: aduh jangan sampai sekelas lagi deh males banget sumpah, tapi kelak justru jadi partner terbaik di organisasi selama tiga tahun di kampus. Tidakkah apa yang kita rasakan tentang orang lain justru seringkali akan mendekatkan kita pada orang itu? Ketika kita menyebutkannya dalam hati, tidakkah itupun menjadi doa yang mungkin untuk diamini oleh malaikat? Wallahu’alam.
Siapa sangka pula bahwa senyum dan jabat tangan kita kepada orang lain akan membawa kita kepada takdir, nasib, dan kebetulan-kebetulan yang baru, yang bahkan tidak pernah kita ketahui. Kalau bukan karena seorang senior di asrama kampus yang secara tidak sengaja bertemu, anak itu mungkin akan tetap menjadi seorang mahasiswa yang berorientasi pada buku-buku kuliah dan mengejar IPK setinggi-tingginya. Menjadi mahasiswa yang cuma kuliah pulang – kuliah pulang. Sebuah silaturahmi singkat itu mengenalkannya pada kepanitiaan pertama di kampus. Dan kelak, awal inilah yang akan mengubah arah dan pandangan kehidupannya terhadap kehidupan kampus, yang tidak pernah orang bayangkan bahwa ini semua akan terjadi dalam hidup seorang anak pelosok kampung tersebut.
Hari ini kita semua belajar. Bahwasanya perkataan kita, senyum kita, prasangka kita, jabatan tangan kita atau apapun yang kita lakukan dalam bagian kecil hidup ini, dapat memberikan sesuatu yang besar bagi kehidupan kita selanjutnya. Siapa yang tahu kelak bahwa ucapan kita akan menjadi kenyataan, prasangka kita terhadap orang lain akan menjadi sebuah ikatan, dan senyum kita akan mengubah bagian dunia ini. Dan percayalah, sesungguhnya tak ada yang kebetulan di dunia ini.
Maka ucapkanlah hal-hal baik, berprasangkalah yang terbaik, dan perlihatkan wajah dan senyum terbaik kita kepada dunia. Karena sungguh pun kita tidak pernah tahu, bahwa kelak orang yang tersenyum singkat dengan anda hari ini justru akan mengubah hidup anda esok hari, atau ucapan remeh anda kemarin akan menjadi sebuah doa yang diamini oleh malaikat di masa depan nanti.
Janganlah kalian menganggap remeh kebaikan itu walaupun itu hanya bermuka cerah kepada orang lain. (H.R. Muslim)
Akhir kata, tersenyumlah kawan.
Kita perlu mencerahkan diri agar dapat mencerahkan orang lain.
Denis Dimas Permana
Ditulis di Depok, 4 Januari 2012
Pukul 11.11 malam.
