Sebuah Opini Tentang Rahasia dan Rasa Percaya
Manusia adalah makhluk yang dapat dipercaya
Kini saya dilanda keraguan. Haruskah saya akhiri kalimat diatas dengan tanda tanya? Ataukah tanda titik mampu menjadi penutup kalimat lebih sesuai? Sebuah pertanyaan yang meminta jawaban, atau sekedar pernyataan yang entah ditujukan pada siapa.
Hari ini hujan turun sedari siang. Suasana gelap dan murung, menambah melankolia saya, yang seperti biasa terlalu banyak memikirkan perkara yang tidak penting. Seorang sahabat baru saja menceritakan suatu hal pada saya, dan hal itu membuat saya resah. Keresahan tersebut ditambah hal-hal kecil lain yang akhirnya membuat saya mangkel. Saya ingin sekali bercerita kepada seseorang, sekedar untuk didengar. Bahkan tidak harap untuk dimengerti.
Beberapa nama melintas dibenak saya. Namun saya tidak bisa memutuskan siapa yang ingin saya hubungi terlebih dahulu. Alih-alih, saya justru memikirkan seberapa jauh manusia dapat dipercaya. Sebagai perempuan, saya-pun suka sekali bergosip. Memindahkan satu kisah dari kelompok A ke kelompok B. Dari orang A ke orang B. Detik itu saya merasa limbung. Jika segala berita dan cerita berakhir demikian adanya, siapakah orang yang paling dapat saya – atau kita – percaya?
Cerita yang dirahasiakan dari khayalak, terutama cerita terkini, terpanas, dan yang paling tidak masuk akal, memang mengundang rasa ingin tahu yang lebih besar. Mendadak saya ingat sebuah kutipan dari penyanyi Tulus yang pernah saya baca : rahasia, tidak lagi rahasia, setelah “Tapi ini rahasia ya, jangan bilang siapa-siapa.” Rasanya, mudah sekali bagi manusia untuk memercayakan rahasia pada seseorang, dan begitu mudah pula seseorang untuk membeberkan cerita orang lain. Saya tahu pasti, hal tersebut tidak berlaku untuk semua orang. Namun saya juga berani jamin, banyak diantara kita yang pernah mengucapkan kata sakti ‘jangan bilang-siapa-siapa’ ini.
Sayangnya, mungkin sangat jarang kita mempertanyakan rasa percaya kita pada orang lain. Kepada orang-orang yang kita anggap dapat kita percaya, kita dapat membicarakan segala rahasia kita kepada mereka. Pada akhirnya, penilaian kita mengenai kredibilitas seseorang menjadi sesuatu yang sangat penting. Asal menurut kita orang tersebut dapat dipercaya, itu sudah cukup. Bahkan meskipun di depan kita sendiri orang tersebut sering membocorkan rahasia orang lain, kita tetap akan memiliki pemikiran positif bahwa orang tersebut tidak akan melakukan hal yang sama terhadap rahasia yang kita percayakan.
Pertanyaan selanjutnya adalah, benarkah manusia pada dasarnya dapat dipercaya? Saya bukan seseorang yang mendalami ilmu psikologi, sehingga jawabannya-pun saya tidak tahu. Pun jawaban yang saya dapat dari mesin pencari tidak dapat memuaskan saya. Saya hanya bisa berpendapat –dan mungkin sedikit bernasihat- bahwa manusia pada umumnya mudah mempercayakan rahasianya pada orang lain. Rasa percaya ini bisa timbul begitu saja, bahkan sekalipun orang yang kita pilih untuk kita percaya dianggap tidak dapat dipercaya oleh banyak orang. Oleh karenanya, akan sangat bijaksana bagi kita untuk mengurangi penggunaan mantra sakti “ jangan bilang siapa-siapa ya” ini. Apalagi hanya untuk sekedar diterima dan menjadi pusat perhatian dalam suatu perbincangan. Karena meskipun rasa percaya mudah diberikan, sekalinya kita sadar bahwa kita telah mempercayai orang yang salah, rasa percaya tidak akan tumbuh kembali.
Pada akhirnya saya hanya ingin kembali mengingatkan: rahasia, tidak lagi rahasia, setelah “Tapi ini rahasia ya, jangan bilang siapa-siapa.” Berhati-hatilah dengan kepercayaan dan rahasia orang lain yang kini berada di tangan anda.
(agnestesia)
