Vani Virdyawan : Kisah Peneliti Jarum Fleksible untuk Terapi Kanker
“Bekerja keras, karena dengan bekerja keras kita akan memperoleh banyak pengalaman yang sangat berharga.”
Itulah pelajaran yang didapatkan oleh seorang pemuda Wonosobo yang profilnya akan diulas kali ini, Vani Virdyawan. Beliau merupakan salah satu dosen Teknik Mesin di Institut Teknologi Bandung, universitas tempatnya menempuh pendidikan S1 dan S2. Melalui Wonosobo Muda, dosen muda ini ingin berbagi kisahnya.

Pemuda berusia 27 tahun ini kini sedang menjalani pendidikan doktoralnya di salah satu universitas terkemuka di Inggris, Imperial College London, dengan beasiswa dari DIKTI. Di sana beliau ikut bergabung di Mechatronics in Medicine Laboratory, yaitu semacam laboratorium riset yang berfokus pada pengembangan peralatan robotic yang digunakan di dunia kesehatan terutama untuk operasi.
Anak kedua dari tiga bersaudara ini meneliti tentang steerable needle atau jarum yang bisa diarahkan alias fleksibel. Jarum itu digunakan dalam prosedur operasi melalui sebuah lubang kecil di tubuh. Beliau memilih penelitian ini karena mempunyai latar belakang di bidang mekatronika (kombinasi ilmu teknik mesin, elektro dan komputer) di kampusnya, dan menjadi tim di Pusat Pengembangan Teknologi dan Industri Alat Kesehatan dan Mesin Perkakas ITB. Penelitian jarum fleksibel tersebut merupakan salah satu penelitian terkini di bidang robotika yang menjadi solusi untuk meningkatkan akurasi dalam mencapai lokasi kanker.
Sebelum berhasil melanjutkan kuliah di sana, mas Vani juga sempat mengalami kegagalan lho, yaitu ketika menghubungi beberapa professor tentang rencana penelitiannya. Dari 40 profesor yang dihubungi, hanya 7 yang memberi respon, dan 4 diantaranya menolak. Ini menjadi bukti bahwa kegagalan sama sekali bukan halangan untuk mencapai cita-cita yang diinginkan. Kegagalan menjadi dorongan untuk mencoba dan terus mencoba.
Alumni SMA Taruna Nusantara ini juga merupakan lulusan ketiga terbaik pada jenjang sarjana di jurusan Teknik Mesin, dan lulusan kedua terbaik pada jenjang master di jurusan yang sama. Saat masih berkuliah di ITB, beliau pernah menjadi koordinator tim Rajawali, untuk mengikuti lomba Eco Shell Marathon di sirkuit Sepang, Malaysia. Lomba tersebut merupakan ajang dimana peserta membuat prototype mobil hemat bahan bakar. Prototype mobil tersebut diuji coba di sirkuit dan diukur berapa bahan bakar yang dihabiskan. Lomba yang diikutinya pada tahun 2010 itu menjadi kesempatan untuk mengamalkan apa yang telah diperoleh di bangku kuliah ke dunia nyata, yang jauh dari ideal. Meskipun dalam ajang tersebut Mas Vani tidak memperoleh hasil sesuai harapan, namun Mas Vani terpuaskan dengan berbagai pengalaman yang didapat seperti bagaimana merakit, mendesain, menguji kendaraan, dan tentunya membangun sebuah tim. Hal-hal itulah yang paling berharga baginya.
Mimpi Mas Vani ke depan adalah kembali ke Indonesia dan menerapkan pengetahuan yang didapatnya di Indonesia. Lingkungan riset di Indonesia yang tentu sangat berbeda dengan di Inggris, tidak menjadi penghalangnya untuk mengembangkan ilmunya di tanah air.
Mas Vani berpesan kepada anak muda Wonosobo agar jangan pernah menyerah untuk mencapai cita – cita. “Lakukan apa yang kita sukai, dan sukai apa yang kita lakukan, serta Jangan takut untuk bermimpi dan jangan merasa berkecil hati karena saya yakin teman – teman dari Wonosobo mempunyai potensi yang sangat besar.”
