Pendidikan merupakan salah satu investasi yang mutlak diperlukan untuk masa depan. Sebagai salah satu kota yang memiliki tingkat pendidikan rendah dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Jawa Tengah, ternyata Wonosobo memiliki beberapa tokoh besar pendidikan yang berpengaruh besar terhadap wajah pendidikan Indonesia maupun dunia. Berikut ini merupakan tokoh-tokoh pendidikan tersebut.

1. Prof. Dr. F.X. Arif Adimoelja
arif amoeldjaLahir dari keluarga sederhana Prof. Dr. F.X. Arif Adimoelja (lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 10 Oktober 1933) merupakan guru besar di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dan dokter spesialis andrologi pertama Indonesia. Kegigihan Beliau untuk menimba ilmu sungguh patut dicontoh. Ketika masih berusia 12 tahun Profesor Arif nekat merantau ke Magelang untuk menimba ilmu. Keterbatasan finansial tak menyurutkan langkah beliau untuk terus belajar, bahkan menjadi tukang tambal ban pun rela beliau lakukan demi bisa meneruskan pendidikannya.
Prof. Dr. F.X. Arif Adimoelja sangat gemar membaca. Kecintaan beliau terhadap hobinya tersebut membuatnya ingin terus menimba ilmu. Beliau menyelesaikan pendidikan kedokterannya di Fakultas Kedokteran Unair pada tahun 1963. Prof. Dr. F.X. Arif Adimoelja melanjutkan pendidikannya di Universitas Katolik Leuven, Belgia pada tahun 1974 dengan spesialiasi andrologi, reproduksi, dan seksologi. Pada tahun 1984 Prof. Dr. F.X. Arif Adimoelja memperoleh gelar doktor andrologi di FK Unair.

2. Ir. Pandji Soerachman Tjokroadisoerjo
pandjiIr. Raden Mas Pandji Soerachman Tjokroadisoerjo lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 30 Agustus 1894. Beliau merupakan insinyur teknik kimia pribumi pertama yang pernah menjabat Menteri Kemakmuran pada Kabinet Presidensial, Menteri Keuangan pada Kabinet Sjahrir I, dan Presiden (Rektor) Universiteit Indonesia yang pertama setelah penyerahan kedaulatan RI. Raden Mas Pandji Soerachman Tjokroadisoerjo lahir dari keluarga bupati dan merupakan keturunan generasi ke lima Hamengkubuwana II.
Berbagai jabatan silih berganti dilakoni Raden Mas Pandji Soerachman Tjokroadisoerjo mulai dari pemimpin laboratorium kimia, bupati, mantri polisi, petinggi departemen perekonomian, hingga menteri kemakmuran kabinet presidensial. Selain menjadi pejabat tinggi pemerintah saat itu beliau juga berhubungan baik dengan kaum pergerakan. Namun karena jabatannya sebagai pegawai pemerintah membuatnya tidak dapat terjun secara langsung dalam pergerakan. Pada tahun 1952, Soerachman ditunjuk sebagai ketua delegasi Perwakilan Indonesia ke negeri Belanda untuk menyelesaikan urusan pemindahan perusahaan-perusahaan dan pertambangan timah. Sewaktu menjalankan tugas di Belanda, selama 6 bulan beliau menderita penyakit darah tinggi hingga akhirnya wafat di Den Haag, Belanda, 16 November 1952 pada umur 58 tahun)

3. Prof. Dr. Garnadi Prawirasudirjo, M.Sc.
GarnadiProf. Dr. Garnadi Prawirasudirjo, M.Sc. lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 15 Agustus 1913. Beliau merupakan Rektor IKIP Bandung Periode 1971-1978. Prof. Dr. Garnadi Prawirasudirjo mengenyam pendidikan dasar (HIS) dan menengah (MULO, dan AMS) di Purworejo dan Yogyakarta (1919-1933). Beliau melanjutkan studi di bidang kedokteran namun tidak sampai lulus karena ada Perang Dunia II. Beliau tetap melanjutkan studi jurusan Biologi di Universitas Nasional (1960): S2 Biologi di State University of New York, Albany, Amerika Serikat, (1962); Gelar Doktor dalam bidang Ilmu Pasti dan Alam dari Universitas Padjajaran, Bandung, (1963); hingga memperoleh gelar Guru Besar IKIP Bandung (1966)
Prof. Dr. Garnadi Prawirasudirjo, M.Sc merupakan rektor ketiga IKIP Bandung (sekarang UPI) dan menjabat selama dua periode. Sebelum menjabat sebagai Rektor, beberapa jabatan yang sempat disandang beliau adalah: Ketua Jurusan Ilmu Hayat FKIP UNPAD, Bandung, (1958-1963); Dekan FKIE IKIP Bandung, (1963-1966);Sekretaris Senat Guru Besar IKIP Bandung, (1965-1971), serta Pembantu Rektor I IKIP Bandung (1966-1971). Prof. Dr. Garnadi Prawirasudirjo, M.Sc aktif menerbitkan karya ilmiah seperti “Science Education in Indonesia”, (1958); serta “Teaching Natural Sciences at the Secondary School Level and Teacher Training Through an Islamic Approach” (1982)

4. K.H. Muntaha AL-Hafizh
muntahaMuntaha Al-Hafizh lahir 9 Juli 1912, di Desa Kalibeber, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Beliau dijuluki sebagai Pecinta Al-Qur’an Sepanjang Hayat. Julukan tersebut Beliau terima karena hampir seluruh hidupnya ia habiskan untuk mendalami dan menyebarkan ajaran al-Qur’an. Kecintaanya terhadap Al-Qur’an terbukti saat beliau membuat mushaf al-Qur’an akbar (al-Qur’an raksasa) setinggi dua meter, dengan lebar tiga meter dan berat lebih dari satu kuintal. Al-Qur’an raksasa tersebut pada saat itu sempat diusulkan untuk masuk Guinnes Book of Record.
Terlahir di keluarga yang religius, sejak kecil Kiai Muntaha memperoleh pendidikan membaca al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman langsung dari kedua orang tuanya. Selanjutnya, beliau melanjutkan pendidikan agama dari pesantren satu ke pesantren yang lain. Uniknya dalam setiap perjalanan menuju pesantren yang lain, Kiai Muntaha selalu menempuhnya dengan cara berjalan kaki. Di setiap waktu istirahat perjalanan Beliau selalu mengisinya dengan menyelesaikan (mengkhatamkan) bacaan.
Kiai Muntaha berkontribusi besar terhadap pendidikan di Wonosobo. Kiai Muntaha berhasil membangun Taman Kanak-kanak, Madrasah diniyah Wustho,’Ulya dan Madrasah Salafiyah Al-Asy`ariyyah, SMP dan SMU Takhassus (khusus) Al-Qur’an, SMK Takhassus Al-Qur`an, serta Universitas Sains Al-Qur`an (UNSIQ). Selain berkontribusi di bidang pendidikan, Kiai Muntaha juga menginisiasi dalam pendirian Pendidikan Akademi Keperawatan (AKPER) yang berada di wilayah UNSIQ. Tidak sebatas AKPER, Kiai Muntaha juga mendirikan Poliklinik Maryam yang terbuka untuk masyarakat umum, yang kemudian disusul dengan pendirian Rumah Sakit Islam (RSI) di Mendolo, kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

5. Prof. DR. R. Slamet Iman Santoso

Profesor emeritus Fakultas Psikologi UI yang meninggal dalam usia 97 tahun di tahun 2004 ini merupakan perintis dan pendiri Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Tak hanya itu, beliau juga merupakan perintis studi psikologi di Indonesia. Maka dari itu, tak heran ia diberi gelar sebagai Bapak Psikologi Indonesia. Penerima penghargaan sebagai Tokoh Pendidikan Nasional dari IKIP Jakarta (UNJ) pada tahun 1978, ini selain sebagai perintis dan pendiri Fakultas Psikologi UI juga ikut mendirikan Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Universitas Airlangga dan Universitas Hasanuddin.

Rektor_UI_Slamet_Iman_Santoso

Beliau juga orang pertama yang mengusulkan perlunya satu standar bagi semua jenjang pendidikan di Indonesia. Melalui gagasannya, saat itu dirintislah satu program penerimaan mahasiswa melalui UMPTN (yang kemudian berganti-ganti nama). Profesor kelahiran Wonosobo, 7 September 1907 ini juga orang yang mengkritik keras minimnya gaji guru yang dia sebut dapat merusak dunia pendidikan. Sudah banyak tokoh psikologi nasional yang lahir berkat didikan beliau, karya-karya dan pemikiran beliau juga menjadi banyak rujukan bagi perkembangan ilmu psikologi di Indonesia. Pada tahun 1973, beliau menerima Bintang Jasa Mahaputra Utama dari Presiden RI. Beliau juga sempat menjabat sebagai Pejabat Rektor Universitas Indonesia, dan kini namanya diabadikan sebagai nama salah satu jalan di lingkungan kampus Universitas Indonesia.

“Kesuksesan bukan tentang seberapa banyak uang yang kamu hasilkan, tapi seberapa besar kamu bisa membawa perubahan untuk hidup orang lain”. Sebuah motivasi dari Michelle Obama yang sepatutnya selalu kita ingat. Lahir dan tumbuh di kota kecil bukan menjadi hambatan untuk menjadi orang yang berpengaruh, berkontribusi dan bermanfaat besar bagi masyarakat luas. Jangan takut untuk bermimpi besar, karena semakin tinggi mimpi yang kamu punya, semakin besar pula pencapaian yang kamu dapat.

(Lida, berbagai sumber)

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0