Fahmi Kurniawan: Menjadi Dokter Berawal dari Niat Mulia
Dokter. Apa yang terlintas di pikiran kalian tentang satu profesi itu? Salah satunya tentu adalah profesi yang sangat mulia dan perlu usaha ekstra untuk meraihnya. Profesi ini juga sedang menjadi hits di cerita-cerita drama yang sering kita lihat. Dengan penampilan keren memakai jas profesi berwarna putih, mereka berkorban waktu, tenaga dan pikiran untuk menolong orang lain.
Kali ini Wonosobo Muda berkesempatan berbagi cerita dengan salah satu Dokter Muda asal Wonosobo. Dokter Muda ini bernama Fahmi Kurniawan. Ia adalah anak bungsu dari enam bersaudara ,pasangan Bapak Wachidun (alm) dan ibu Wartinah. Bagi Fahmi, awalnya terasa mustahil untuk dapat kuliah di fakultas kedokteran karena biaya yang sangat mahal. Bahkan dulu iasempat diminta keluarga untuk mendaftar ke SMK agar bisa langsung bekerja. Namun, mendengar cerita para senior yang mendapat beasiswa dari pemerintah selama kuliah membuat Fahmi yakin akan impiannya menjadi dokter. Apalagi, hal ini sangat sesuai dengan kegemarannya pada pelajaran IPA semasa SMA. Bagi Fahmi, dokter adalah pekerjaan yang sangat mulia, sehingga ia terus bersemangat menggapai cita-cita tersebut.

Lulusan SD 1 Kejiwan Wonosobo, SMP N 2 Wonosobo, SMA N 1 Wonosobo, serta S1 Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 2016 ini sekarang sedang menjalani praktik klinik program profesi atau Co-As di beberapa rumah sakit terutama di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati (RSUP Fatmawati), Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang (RSUD Kab. Tangerang) dan Rumah Sakit Persahabatan. Disela-sela kegiatannya, ia juga masih aktif mengajar sebagai guru privat anak SMP di Jakarta. Hal ini menunjukkan betapa bersemangatnya Fahmi dalam menuntut ilmu dan membagi waktu untuk melakukan pekerjaan yang bermanfaat, baik bagi dirinya dan bagi orang lain di sekitarnya.
Prestasi dan beasiswa yang pernah diraih
Fahmi yang mempunyai hobi Desain grafis dengan Adobe Photoshop dan Indesign ini mempunyai banyak prestasi sejak ia masih duduk di SD sampai sekarang. Selain selalu menerima beasiswa berprestasi semenjak sekolah dasar hingga menamatkan pendidikan dokternya, Fahmi juga menunjukkan bakatnya di bidang Fisika semenjak sekolah menengah. Hal ini terbukti dari prestasinya dalam perlombaan fisika baik di tingkat Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menegah Atas. Semasa kuliah, Fahmi juga selalu menyempatkan diri untuk mengasah soft skill-nya dengan mengikuti berbagai kegiatan. Beberapa di antaranya adalah sebagai Publications Assistant at International Federation of Medical Students’ Associations (IFMSA), serta Marketing, Campaign, and Advocacy Director at Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA) 2016-2017.
Selain di bidang ilmu pengetahuan, ternyata Fahmi juga memiliki ketertarikan di bidang kebudayaan. Hal ini ditunjukkan dengan inisiatifnya untuk bergabung sebagai co-founder wayang heritage, sebuah gerakan berbasis social media, yang menyajikan informasi seputar wayang, khususnya wayang kulit. Tujuannya adalah untuk menyebarkan informasi lewat saluran yang pas untuk generasi muda saat ini, sehingga dapat menjadi sarana untuk melestarikan budaya Indonesia.
Sampai disini, tentu teman-teman Wonosobo sudah ikut bangga dengan prestasi dari seorang Fahmi Kurniawan, akan tetapi kisahnya belum selesai sampai di sini. Pada seri kisah selanjutnya Fahmi akan mengajak kita berjalan-jalan ke negara Turki, dengan menceritakan kisah petualangannya saat melakoni pertukaran pelajar di Gazi University Hospital, Ankara, Turkey, July 2016 lalu. Tunggu kelanjutan ceritanya ya…
(Vina)

Selamat ya dr.Fahmi…. Saya ikut bangga atas pertasi dokter yg sudah dirintis sejak SD, tak beda jauh dengan anak saya, mungkin dokter kenal, sama-sama alumnus SMP 2 dan SMA 1 Wonosobo 2013, insyaallah pebruari 2017 Co-As di RS Kariadi Semarang dan april 2017 wisuda S1 Pendidikan Dokter nya. Mohon doanya saja. Saya sangat prihatin dengan pemerintahan Kab.Wonosobo, banyak anak-anak wonosobo yang berprestasi namun terkendala masalah biaya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi.. kenapa tidak ada beasiswa daerah seperti daerah2 lain, sehingga setelah selesainya masa perkuliahan, anak-anak tersebut bisa kembali ke wonosobo untuk memajukan kotanya. Semoga, ini bisa menjadi wacana para pejabat yang berwenang. Sukses terus dr. Fahmi….