Pada edisi lalu (Kisah Fahmi Kurniawan – Part 1), kita sudah berkenalan dengan Fahmi, dokter muda dari Kejiwan dengan segudang prestasi. Belum lama ini, Fahmi berkesempatan untuk mengikuti program pertukaran di pelajar di Turki selama satu bulan. Yuk simak ceritanya di bawah ini.

Cerita perjalanan ke Turki

Perjalanan di Turki kemarin adalah program pertukaran pelajar/pertukaran mahasiswa bernama Professional Exchange Program dari SCOPE IFMSA (Standing Committee on Professional Exchange – International Federation of Medical Students’ Associations). Program ini menyediakan kesempatan bagi mahasiswa kedokteran dari seluruh dunia untuk merasakan pengalaman belajar di rumah sakit negara lain (sebagai co-Assistant atau dokter muda). Program ini berlangsung selama 1 bulan dan hampir seluruh negara di dunia terdaftar dalam program ini.

49892

Sejak masuk kuliah, Fahmi memang ingin sekali mengikuti program pertukaran pelajar ke luar negeri, oleh karenanya, ia rajin mengumpulkan informasi. Dari keingintahuannya itu, ia mendapat informasi tentang pertukaran pelajar yang diadakan oleh IFMSA ini. Oleh karenanya, sejak tingkat I, Fahmi aktif mengikuti kegiatan dari organisasi ini, untuk bisa menjadi bekal persiapan mendaftar program tersebut. Selain itu, Fahmi juga berusaha membangun networking dengan teman-teman dari seluruh dunia dengan aktif menjadi host bagi mahasiswa pertukaran pelajar yang berasal dari negara lain, seperti dari Jerman, Perancis, Belanda dan sebagainya.

Pada tahun 2015 lalu, Fahmi memberanikan diri untuk mendaftar program yang sudah diincarnya ini. Setelah melewati beberapa proses seleksi baik di tingkat universitas maupun nasional, akhirnya Fahmi terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke Turki, tepatnya di rumah sakit Ankara. Salah satu kendala yang harus ia hadapi adalah biaya yang harus ia tanggung untuk perjalanan dari dan ke Turki serta biaya hidup selama mengikuti program tersebut.  Meskipun demikian, Fahmi tidak berputus asa dengan kendala yang ada. Dia yakin ketika kita memiliki keinginan yang tinggi dan mau bekerja keras, pasti akan ada jalan.

Sebagai usaha untuk mendapat jalan keluar dari kendala yang dihadapinya, Fahmi mengajukan proposal sponsor ke beberapa kenalan yang ia miliki. Awalnya beberapa tidak merespon, tetapi keberuntungan nampaknya berpihak pada Fahmi.  Empat hari sebelum tanggal keberangkatan, Fahmi mendapat sponsor untuk tiket pesawat, visa, dan seluruh keperluannya di Turki. Dengan adanya sponsor tersebut,segala kendala yang Fahmi miliki akhirnya berhasil terselesaikan. Hal yang menarik adalah saat itu Fahmi membuat paspor tanggal 24 Juni 2014 dan selama 2 tahun paspor tersebut tidak pernah terpakai. Tepat 2 tahun setelah pembuatan paspor, yakni 24 Juni 2016 Fahmi mendapat tiket pesawat dan visa pertama Fahmi ke Turki.

Selama satu bulan menjadi asisten dokter di rumah sakit di Ankara, Fahmi mendapat kesempatan bekerja di departemen bedah jantung dan pembuluh darah. Beberapa kali dia berkesempatan ikut operasi bersama profesor, dokter, dan mahasiswa lain. Operasi yang Fahmi ikuti antara lain Coronary Artery Bypass Surgery (bedah untuk menyambung pembuluh darah arteri coroner yang tersumbat), Aortic Valve Replacament Surgery (bedah penggantian katup jantung dengan katup buatan), dan lain-lain. Fahmi sangat senang karena bisa melihat langsung operasi-operasi tersebut. Terlebih lagi, untuk pertama kalinya dapat melihat dada seseorang dibedah, jantung yang berdetak, serta jantung yang secara sementara ‘dihentikan’ dan diganti dengan sebuah mesin untuk proses operasi.
Selama mengikuti program pertukaran pelajar di sana ia juga merasa sangat senang karena profesor, dokter, dan mahasiswanya sangat baik dan ramah. Bahkan mereka menyempatkan untuk menjelaskan materi menggunakan bahasa Turki dan mengulanginya dengan bahasa Inggris agar semua mahasiswa dapat memahaminya.

Selain berkesempatan mengikuti kegiatan di rumah sakit, Fahmi juga berkesempatan mengunjungi tempat-tempat wisata di Turki, seperti Istanbul, Ankara, dan Cappadocia. Di program ini, Fahmi juga dapat bertemu dengan mahasiswa kedokteran dari seluruh dunia, sehingga dapat bertukar pengalaman dan membangun relasi dengan mereka.

Hal lain yang membuat program ini terasa spesial adalah adanya PPI Turki (Persatuan Pelajar Indonesia – Turki).  Mereka menyambut Fahmi dengan baik dan sangat membantu selama ia tinggal di sana. Berkesempatan untuk merayakan Idul Fitri di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Ankara juga membuat Fahmi banyak berkenalan dengan pelahar-pelajar Indonesia yang tengah merayakan pendidikan di Turki.

Selama satu bulan tinggal di Turki, Fahmi banyak sekali mendapat pengalaman, antara lain bisa mempelajari sistem kesehatan, perbedaan pelayanan kesehatan, teknologi kesehatan, serta pendidikan kedokteran di negara lain. Selain itu, ia belajar bahwa kita harus bermimpi besar. Karena, ketika kita memiliki niat, kemauan, dan kerja keras serta doa, pasti akan ada jalan. Tidak ada yag tidak mungkin dalam perjalanan kita mewujudkan mimpi-mimpi kita ini.

Pelajaran hidup sampai sekarang

Bagi Fahmi, hal terpenting yang dapat diambil dari perjalanan hidup sekarang adalah bekerja dengan passion. Dengan passion dan cinta pada pekerjaan kita, seberat apapun akan menjadi lebih mudah. Seperti kata Steve Jobs, ”Do what you love and love what you do.” Selain itu, selalu bersyukurlah dengan apa yang kita dapatkan karena bersyukur membuat kita cukup dan berkecukupan. Mintalah doa kepada orang tua dan selalu bersikap baik kepada mereka, karena apa yang kita dapatkan saat ini salah satunya adalah karena peran dan doa orangtua.

49891

Mimpi dan target Fahmi

Target Fahmi ke depan adalah dapat menjalankan co-As dan internship dengan lancar hingga menjadi dokter. Ia bercita-cita suatu saat nanti ingin mendirikan flying hospital atau rumah sakit di dalam pesawat terbang sehingga dapat menjangkau daerah-daerah terpencil di Indonesia, bahkan seluruh dunia.

Tips dan pesan untuk teman-teman Wonosobo Muda

Kesempatan di luar sana sangat banyak. Selagi muda, manfaatkanlah waktu untuk mencoba hal baru dan menantang diri sendiri dengan berbagai kesempatan yang ada. Rajinlah dalam mencari informasi dan pengalaman. Kerja keras yang kita lakukan sekarang pasti akan membuahkan hasil suatu saat nanti. Ketika ada seribu alasan untuk menyerah, siapkanlah sejuta alasan untuk dapat terus bangkit dan mengejar cita-cita kita. Mengutip kata Soekarno: “Jika kita memiliki keinginan yang kuat dari dalam hati, seluruh alam semesta akan bahu membahu mewujudkannya”.

Fahmi juga berpesan: “Tentukan target dan cita-cita dari sekarang. Tulislah mimpi-mimpi dan cita-cita setinggi apapun mimpi itu. Bermimpi itu gratis. Ketika kita berani bermimpi, berarti kita bisa mewujudkannya. Isilah masa muda dengan kegiatan-kegiatan positif serta belajarlah dengan giat. Bangunlah networking seluas-luasnya. Seperti kata BJ Habibie, yang bisa membangun Indonesia adalah anak Indonesia sendiri, kita tidak bisa bergantung pada bangsa lain.”

Dari pengalaman hidupnya, Fahmi belajar pantang menyerah, bekerja keras tanpa pamrih dan selalu mengingat orang yang selalu mendoakan langkahnya. Semoga kisahnya bisa menginspirasi kita para pembaca untuk terus berkembang. (Silvina Ratri Arumhandini)

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0