Sambil berenang minum air. Mungkin begitulah kata yang pertama kali terlintas dalam benak kita melihat cerita tentang pengabdian masyarakat sekaligus berbuntut kemenangan saat mengikuti perlombaan tingkat dunia. Berikut kisahnya.

Adalah Agam Budi Satria, pemuda kelahiran Wonosobo, 30 Desember 1992 yang akan menjadi pokok kisah kita kali ini. Agam adalah Mahasiswa fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada  asli Wonosobo. Belum lama ini ia mengikuti Worldwide Youth Multimedia Competition 2015 yang diselenggarakan oleh UNESCO Club dan berhasil terpilih sebagai juara kedua dalam kompetisi tersebut. Kompetisi ini diikuti oleh 100 pemuda yang berasal dari 74 negara di seluruh dunia.

Agam mengaku bahwa kompetisi tersebut diikuti dengan bermodalkan keisengan semata. Video yang diunggahnya untuk mengikuti kompetisi tersebut pada dasarnya merupakan video dokumentasi kegiatan KKN-nya yang diselenggarakan di Papua. Semata-mata, video tersebut dia buat karena kegemaraannya pada dunia videografi. Tanpa diduga, video yang berawal dari kesenangan semata tersebut terpilih sebagai juara 2 kejuaraan Worldwide Youth Multimedia Competition 2015. Undangan untuk mengikuti Summer Camp di Amerika Serikat-pun diterima oleh Agam. Yang kemudian menjadi masalah adalah, undangan tersebut bertepatan dengan semester 8, dimana Agam sibuk menyiapkan skripsinya agar dapat lulus tepat waktu. Meskipun demikian, Agam memutuskan untuk tidak membuang kesempatan berharga tersebut dan memilih fokus mempersiapkan diri untuk menghadiri Summer Camp yang dimaksud.

Agam ketika Mengikuti Camp di Amerika
Agam ketika Mengikuti Camp di Amerika

Pengalaman bertemu dengan 100 orang dari 74 negara yang berbeda benar-benar tidak dapat dilupakan bagi Agam. Bagaimana tidak, bertemu dengan 100 orang dengan latar belakang dan pergaulan yang berbeda-beda diakui memberikannya cultural shock pada awalnya. Acara Summer Camp itu sendiri berdurasi selama dua minggu, dimana Agam dan teman-teman dibagi dalam kelompok-kelompok beranggotakan 10 orang. Program tersebut dikemas dalam berbagai workshop, meditasi dan kompetisi antar kelompok.

Berbicara mengenai kompetisi tersebut, mau tidak mau juga membawa Agam untuk kembali mengingat momen KKN-nya pada tahun 2014 lalu. Program yang diusung Agam dan rekan-rekannya adalah memasang panel surya di pulau non resort di kepulauan Raja Ampat. Seperti yang kita tahu, saat ini nama Raja Ampat tergolong popular di kalangan wisatawan. Sayangnya, kepopuleran Raja Ampat hanya dirasakan pulau-pulau yang memiliki resort saja, sedangkan pulau no resort umumnya masih cukup tertinggal. Bahkan penerangan listrik dan air bersih-pun masih sulit didapat. Oleh karena hal itulah, kelompok KKN Agam bercita-cita untuk mendirikan panel surya di Pulau Manyaifun. Pendirian panel surya tentu bukanlah hal yang mudah, mengingat biaya untuk masing-masing panel tergolong mahal. oleh karena itu, Agam dan teman-teman berinisiatif mengadakan charity concert tiap minggunya selama satu semester penuh agar dapat membiayai program ini. Bahkan, program ini juga mendapat dukungan dari Bapak Boediono, Wakil Presiden RI periode 2009-2014. Selain pemasangan panel surya, di pulau yang sama Agam dan teman-teman juga mendirikan rumah belajar, dimana adik-adik penduduk pulau dapat belajar dan membaca buku yang diinginkan. Pendirian rumah belajar ini dilatarbelakangi mahalnya biaya transportasi untuk sekolah di pulau tersebut, mengingat banyak sekolah lanjutan yang terletak di luar pulau.

dokumentasi agam (5)
KKN Agam di Papua

Tidak hanya sampai situ saja, ke depannya, Agam dan teman-temannya bermaksud untuk menggagas acara berbasis sociopreneur bersama warga pulau Manyaifun. Program yang dimaksud akan dijalankan dengan mengundang wisatawan untuk menginap ke pulau Manyaifun, sehingga dapat menginap di homestay milik warga sekaligus membeli kerajinan tangan khas warga pulau Manyaifun.

Ditanya impian ke depannya, Agam mengaku bahwa menyelesaikan skripsi adalah target utamanya saat ini. Selanjutnya Agam ingin dapat melanjutkan pendidikan master dengan mayor public health di Inggris, dan dapat berkarir untuk mendukung tata kelola Jaminan Kesehatan Nasional yang lebih baik. Tidak lupa, Agam juga ingin terus dapat menekuni hobinya di bidang videografi, dengan memiliki drone yang dapat membantunya membuat video dari udara.

Agam juga menitipkan sedikit pesan bagi teman-teman Wonosobo, “Pesan saya sama seperti salah satu merk sepatu terkenal, “Just Do It”. Ya sesederhana itu, sukses bukan masalah Anda adalah orang pintar, Anda anak orang kaya, Anda berasal dari keluarga terhormat. Apapun tujuan hidup yang sudah dimimpikan, segera bangun dari tidur dan kejarlah mimpi tersebut. Karena yang membedakan orang sukses dan yang tidak sukses adalah alam tindakan. Orang sukses bekerja di alam tindakan, sementara yang tidak sukses sangat asyik membayangkan mimpi – mimpi mereka dan hanya sekedar membayangkan. Terakhir dan paling mujarab adalah doa orang tua, saya yakin keadaan saya bisa seperti sekarang karena doa orang tua. Sayangi orang tua kita dan mohonlah doa restu tiap kali mudik ke Wonosobo. Ingatlah senyum mereka. InsyaAllah hati menjadi tenang dan kita menjadi lebih bersemangat menjalani hidup meraih cita-cita”

Saat ini, disela-sela kesibukannya menyelesaikan skripsi yang senpat ditinggalkan, Agam masih aktif Media Supervisor di Komunitas #UntukPapua, serta menjadi Volunteer Photographer di komunitas Dreamdelion cabang Yogyakarta.  Sukses terus untuk karirnya, Agam.

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0