Aku Cantik? Aku Cantik!
Saya mengawali pagi ini dengan membaca sebuah artikel dalam situs web ternama yang membahas mengenai gaya hidup. Judulnya bukan main menariknya: “Astaga, 7 Orang Ini Rela ‘Menyakiti Diri’ Demi Mirip Tokoh Kartun!”. Saya tersenyum. Tanpa dibaca pun sudah bisa ditebak bagaimana isi dari artikel ini, pasti tidak jauh-jauh dari operasi plastik.
Bicara soal operasi plastik, siapa sih orang yang tidak ingin memiliki wajah cantik seperti artis Korea, atau memiliki tubuh indah bak boneka Barbie? Diakui atau tidak, saya pun demikian. Perempuan mana yang tidak ingin memiliki kulit putih, hidung mancung, pipi tirus, bibir sensual, kaki jenjang, pinggang ramping, dan mungkin payudara yang montok? Sekali lagi saya akui, saya pun begitu. Saya tidak menyalahkan perempuan manapun yang melakukan ‘permak’ atas tubuhnya melalui operasi plastik maupun dengan cara lain yang pada era ini bebas ditemukan di mana-mana.
Sebagai orang gendut yang telah mengarungi sekian banyak ejekan, saya juga ingin tampil cantik. Tidak dipungkiri juga, saya pernah mendamba untuk menjadi orang lain.
“Ah.. coba badanku kayak gitu, bajuku bagus-bagus kali ya!”
“Ah… coba pahaku nggak sebohay ini, pasti….”
Begitulah, coba saja, coba saja, dan coba saja lainnya. Andai, andai, dan andai lainnya. Keinginan-keinginan itu tidak begitu saja datang menghampiri saya. Tuntutan sosial masyarakat soal fisik ideal selalu mengiringi langkah saya kemanapun ia menuju. Seruan sederhana seperti,”Diet, gih!” atau “Makanya badan tuh dikurusin!” sangat sering, bahkan hampir setiap waktu saya dengar. Ketika mereka semua menganggap itu adalah suatu gurauan yang wajar, sedikit demi sedikit pula kepercayaan diri saya terkikis, saya merasa tidak lagi diterima di lingkungan sekitar, saya merasa diperlakukan berbeda oleh orang-orang di sekitar saya.
Sewaktu kecil, saya sering dipanggil dengan julukan “Gajah”. Mungkin terlihat biasa, mungkin terlihat wajar bagi orang lain. Namun saya menyimpan luka kecil yang terus menganga dan menjadi bopeng yang tak pernah terhapus dari relung terdalam. Saat itu saya tak tahu jika menjadi suatu kewajaran ketika segerombolan anak usia SD melemparkan ejekan kepada temannya yang lain; yang saya tahu waktu itu, saya berbeda. Beranjak dewasa, perasaan saya mulai kebal. Mau tak mau saya harus menganggap itu semua sebagai omong-kosong yang tak berarti. Namun cedera pada rasa percaya diri saya sudah terlanjur membekas. Saya tak lagi merasa cantik, yang terngiang berkali-kali di kepala saya hanyalah gajah, gajah, dan gajah.
Seiring dengan berjalannya waktu, perasaan dan pikiran saya mulai berkembang. Cantik tidaklah tentang apa yang orang lain pikirkan tentang kita, tapi lebih mengenai bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Kini saya mengerti mengapa ada orang-orang yang nyaman dengan pakaian tak jelas meskipun orang lain berkata, ”Ih, dia freak!”. Sekarang saya mampu memahami mengapa seorang perempuan mewarnai rambut atau bahkan memotong gaya rambut sesuka hati meskipun banyak orang berkomentar, ”Itu aneh!”. Jawabannya adalah: karena mereka merasa cantik dan percaya diri dengan gaya tersebut. Saya rasa sebaiknya orang lain pun turut menghargai pilihannya, bukan mencela kepercayaan dirinya. Saya berhenti menyalahkan orang lain dan mengingat-ingat masa lalu. Saya berhenti merasa tidak berharga dan membandingkan diri saya dengan orang lain.
Seperti orang-orang yang melakukan operasi plastik di atas, mereka pun ingin terlihat cantik. Sekalipun dalam sosok lain yang mereka inginkan. Saya mengerti sepenuhnya bahwa setiap orang ingin dipandang cantik, tampan, mereka ingin dihargai oleh orang lain. Tapi bukan dengan menjadi orang lain. Saya pikir, kita perlu memperbaiki mindset kita sendiri yang berkata,”Aku ingin menjadi cantik seperti…” atau “Aku ingin dihargai oleh orang lain seperti halnya…”. Sebagai perempuan, pada dasarnya kita dikaruniai cantik alami yang berbeda dan unik pada setiap individunya. Setiap perempuan hendaknya menghargai setiap detil berharga pada dirinya, bukannya membandingkan miliknya dengan milik orang lain. Sebab, kekurangan yang kita miliki mungkin adalah sesuatu yang sangat orang lain inginkan.
Shinta Devi


Leave a Reply