7 Anak Muda Wonosobo di Bawah Usia 25 tahun yang Membangun Bisnis dari Nol
Benjamin Franklin pernah menyerukan satu kutipan yang sangat populer : “Some people die at 25 and aren’t buried until 75.” Begitu krusialnya usia 20an, karena di usia inilah anak-anak muda mulai menapaki fase penting ke kehidupan yang lebih matang dan dewasa. Beberapa orang mungkin akan stuck atau tertahan di usia 25 dan mulai menjalani rutinitas yang sama sepanjang hidupnya dan melupakan mimpi-mimpi mereka, seperti yang diungkapkan Benjamin Franklin di muka. Namun, tidak halnya dengan anak-anak muda ini. Entrepreneur-entrepreneur muda yang memutuskan untuk menerima tantangan dan merealisasikan mimpi mereka untuk membuka bisnis mereka sendiri, dari nol. Beberapa waktu lalu, Wonosobo Muda juga sempat mengulas profil entrepreneur muda asli Wonosobo seperti Choirul Anwar dan Tyovan Ari Widagdo. Kini, kami akan mencoba mengekspose 7 anak muda Wonosobo lainnya, yang usianya masih di bawah 25 tahun ketika mereka memutuskan membangun bisnisnya dari nol. Siapa saja mereka? Mari disimak!
Abib terlahir dari keluarga pedagang, di mana masa kecilnya sering dihabiskan untuk membantu di toko. Pemuda kelahiran 9 Juli 1992 ini melihat sendiri bagaimana perjuangan orang tuanya untuk mempertahankan bisnis agar tetap bertahan. Dari situlah Abib merasa tertantang dan ingin mencoba membangun bisnisnya sendiri. Setelah lulus dari SMA, ia memilih masuk jurusan Manajemen Bisnis di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Namun, setelah lulus kuliah, Abib tidak mendapatkan restu dari orang tua untuk terjun ke dunia bisnis. Akhirnya ia pun mengalah, demi membahagiakan orang tua yang sangat ingin melihatnya kerja kantoran, ia bekerja di sebuah instansi di Lampung. Namun, karena memang bekerja di kantoran bukan passion-nya, Abib memilih keluar dan menjelaskan ke orang tua bahwa ia memang benar-benar ingin berbisnis. Kini, Abib adalah owner dari Brayan Milk Bar, sebuah kedai susu yang terletak di Jalan HOS Cokroaminoto, Yogyakarta. Brayan Milk Bar ini menyediakan susu dengan variasi rasa mencapai 20 jenis! Brayan Milk Bar juga memberikan fasilitas buku bacaan bagi pengunjung yang gemar nongkrong sambil membaca. Tidak hanya itu, melalui bisnisnya ini Abib menyalurkan kepeduliannya kepada sesama dengan adanya program “Rabu Berbagi”, yaitu pembagian susu oleh Brayan Milk Bar kepada masyarakat yang kurang mampu.
Kisah selengkapnya: Abib Cahyono, Kreasi Susu dalam Bisnis Brayan Milkbar
Banyak orang yang menganggap keputusan yang diambil pemuda ini adalah gila! Betapa tidak, ia memutuskan untuk berhenti dari kuliahnya di jurusan Akuntansi Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakarta, dan fokus membesarkan brand atau merek bisnisnya sendiri. Dani atau biasa dikenal dengan nama Bule ini memulai bisnisnya di usia yang belum genap 22 tahun. Mulanya, Bule merupakan pelaku musik yang memiliki band di Yogyakarta. Alih-alih menambah tabungan, bermain musik dari panggung ke panggung justru banyak menguras pengeluarannya. Berawal dari itu, pemuda yang pernah mewakili Wonosobo dalam Olimpiade Ekonomi SMA tingkat Jawa Tengah ini, mulai belajar tentang pembuatan gitar. Riset pembuatan gitar sendiri dilakukannya pada tahun 2009 hingga 2011. Tepatnya pada Juni 2011, Bule bersama seorang temannya mantab mencari pengrajin yang dapat merepresentasikan ide dan visinya. Akhirnya, lahirlah brand ‘Canting Guitar’, bisnis guitar akustik yang berupaya untuk membawa cita rasa lokal namun berdaya saing global. Dimulai dari tiga gitar pesanan dari temannya, kini usaha gitar Canting semakin berkembang. I’m doing what i love the most, begitulah salah satu alasan mengapa pemuda kelahiran 1 September 1989 ini begitu bersemangat dalam membesarkan usaha gitar-nya.
Kisah selengkapnya: Dani Wahyu Satria, Membangkitkan Potensi Lokal lewat Canting Guitar
Pemuda yang akrab disapa Rifky ini memulai bisnisnya karena terinspirasi oleh sebuah seminar wirausaha yang ia ikuti di kampusnya, Universitas Negeri Semarang. Berawal dari hal tersebut, Rifky yang saat itu berusia 23 tahun mendapat beberapa pencerahan yang membuatnya semangat dan tekad untuk memulai usaha. Wonosobro sendiri berawal dari ide yang muncul ketika teman Rifky di kampus sering memanggilnya dengan sebutan Bro Wonosobo (sahabat dari Wonosobo). Dari situlah tercetus ide untuk membuat bisnis clothing dengan brand Wonosobro. Sebagai anak kost, pemuda kelahiran 11 Januari 1990 ini harus menyisihkan 80% uang bulanan untuk mencetak kaos perdananya. Awalnya kaos yang dicetak hanya sejumlah 12 kaos. Minggu pertama penjualan, kaosnya tidak laku hingga sebulan berikutnya. Akhirnya kaos yang tidak laku tadi dia berikan secara cuma-cuma ke saudara terdekatnya sekaligus sebagai promosi. Ia percaya, relasi adalah hal yang sangat penting dalam menjalankan bisnis. Perjuangannya pun mulai membuahkan hasil, kaos buatannya kini sudah merambah konsumen dari banyak daerah seperti Balikpapan, Jabodetabek, Jawa Timur, Jawa Barat, hingga diorder oleh TKI asal Wonosobo di beberapa negara tetangga seperti Singapura dan Taiwan.
Kisah selengkapnya: M. Rifky Hidayat, Bisnis Kaos Gaul ala WonosoBro
- Novia Puspita Shinta Dewi (Reina Herbal Drink)
Shinta adalah mahasiswi jurusan Teknik Perminyakan UPN ‘Veteran’ Yogyakarta. Bisnis yang digelutinya saat ini berawal dari ajakan dua kakak sepupunya yang memiliki ide untuk membuat minuman jamu yang tidak pahit dan bisa dikonsumsi anak kecil hingga orang tua. Mereka juga ingin mengubah persepsi anak muda Indonesia kalau jamu itu bisa dibikin manis dan seru rasanya. Berbekal ide ini, mereka mengkreasikan minuman jamu dengan berbagai bahan menyehatkan namun memberikan rasa manis alami. Salah satu varian, misalnya, Sari Pegagan yang merupakan jamu dengan komposisi daun pegagan, meniran dan temulawak yang dikombinasikan dengan berbagai ekstrak buah asli. Banyak orang yang semula tak suka bahan herbal tertentu, namun begitu mencoba racikan jamu gaul Reina, justru kemudian menikmati dan menyukai. Reina Herbal Drink dapat ditemui di Jl. Ronggowarsito 10 Kampung Baru, Solo. Secara rutin pula, Shinta dan sepupunya berjualan di @jazzmbensenen di gedung Bentara Budaya Yogyakarta. Di tengah-tengah kesibukannya berkuliah, pemudi kelahiran 28 November 1992 ini berusaha membesarkan bisnis dan melestarikan salah satu budaya tradisional Indonesia ini kepada anak muda.
Ia akrab disapa Agil, usianya baru 22 tahun saat pertama kali memutuskan membuka bisnis kafe di bilangan Demangan Baru, Sleman, Yogyakarta. Ia sempat mengalami putus kuliah, namun tekadnya yang kuat justru membawanya pada usaha ini. Pemuda yang pernah menjadi best drummer di beberapa festival band ini memulai bisnisnya dengan modal yang relatif kecil, yakni dengan uang sebesar kurang dari sepuluh juta rupiah. Ia kemudian membuat proposal rencana bisnis untuk mencari investor. Agil pun mendapatkan pinjaman modal dari sang ayah dengan mengangsur sebagai cara pengembalian pinjaman. Bagi Agil, tidak ada alasan untuk tidak bisa berbisnis hanya karena persoalan modal. Peluang dan jaringan akan terbentuk dengan sendirinya apabila seorang pebisnis dengan tekun memulai usahanya. PearFruitbar ini berfokus menyediakan berbagai varian olahan buah-buahan sebagai menu utama. Selain itu, Agil juga menyediakan jaringan wifi dan buku bacaan bagi pengunjung, serta membuat event akustikan secara rutin di kafenya. Selain menjadi owner yang merangkap sebagai karyawan, barista, dan kasir di cafenya, Agil kini juga tengah berupaya untuk melanjutkan studinya agar ilmunya bisa bertambah.
Kisah selengkapnya: Ragil Aji Saputra, Belajar Berbisnis melalui PearFruitBar
Bisnisnya bermula ketika Ramdhani memiliki cukup banyak waktu luang setelah bekerja karena jam kerjanya menggunakan sistem kerja shift. Ia merasa banyak waktu yang terbuang kalau hanya tiduran dan nonton tv setelah bekerja, akhirnya ia memberanikan diri untuk meminjam uang kepada orang tua untuk modal usaha. Berkat presentasi yang meyakinkan, akhirnya pemuda berusia 25 tahun ini mendapat pinjaman untuk membeli alat print DTG (Direct to Garment) dan alat press, serta beberapa kaos polos untuk modal awal. Berbekal alat tersebut, ia mulai coba-coba mengeksekusi beberapa desain yang sudah pernah ia buat sebagai sampel. Ia tawarkan ke teman-teman terdekat dan responnya cukup baik. Orderan pun mulai banyak dan ia mulai butuh partner untuk mengembangkan bisnisnya. DOT merupakan singkatan dari Desain Own T-shirt, yang artinya kaos dengan desain sendiri. Ya, inilah salah satu kelebihan bisnis yang diusung oleh pemuda yang pernah menjadi pemain sepakbola muda terbaik Wonosobo ini. Di D.O.T Cloth, para pelanggan bisa membuat kaos sesuka hati tanpa minimal order dengan desain bahkan merk sendiri. Studio D.O.T Cloth terletak di Jl. Veteran No.2 Wonosobo.
Kisah selengkapnya : Ramdhani Azhar Trizula, DOT Cloth si Jago Sablon Satuan.
Pemuda kelahiran 12 Juni 1991 ini menekuni bisnis yang diketahuinya dari nasabah sebuah koperasi, tempat dulunya bekerja. Mungkin pertemuan dengan nasabah tersebut menjadi semacam berkah dalam hidupnya. Awalnya dia bekerja sebagai Office Boy di sebuah koperasi swasta di Wonosobo. Setelah 10 bulan mejalani profesi tersebut, dia diangkat di bagian marketing yang bertugas mencari nasabah yang ingin meminjam uang di koperasi. Posisi tersebut menghantarkannya bertemu dengan calon nasabah yang mempunyai usaha budidaya jamur tiram. Dari hasil analisis nya terhadap calon nasabah tersebut, dia tertarik dengan usaha yang dijalani. Dari situlah, Rois mulai mendapat ilmu bidudaya jamur. Bisnis yang dijalankan saat ini adalah bisnis jamur tiram dan lumber kit jamur tiram. Rois menanam jamur tiramnya sendiri di pekarangan miliknya sekitar 200 m2. Sedangkan lumber kit merupakan paket media jamur siap tanam, dan dibuat untuk menarik minat orang lain untuk menanam jamur dan belajar bagaimana membudidayakan jamur. Lumber kit ini bisa dibilang mini farming untuk orang awam yang ingin belajar menanam jamur tiram secara mandiri. Inovasi produk jamur Lumber Kit tersebut, terinspirasi dari acara Kick Andy, yang pernah mendatangkan petani jamur juga dengan inovasi produk jamur siap tanam.
Kisah selengkapnya: Rois Effendi, Owner Rumah Djamur yang Ulet dan Pantang Menyerah
Perjuangan anak-anak muda ini baru saja dimulai. Perjuangan jatuh bangun mereka dalam membangun bisnisnya masih sangat panjang dan akan diuji dengan berbagai hal di depan sana. Namun, keberanian mereka patut diacungi jempol dan menjadi teladan bagi anak-anak muda lainnya untuk mulai berani keluar dari zona nyaman dan mewujudkan apa yang menjadi cita-cita kawan-kawan. Mereka berani, bagaimana dengan kawan muda? Semoga menginspirasi ya!








