Halo kawan muda! Wonosobo Muda kembali lagi berbagi kisah inspiratif dari anak-anak muda kota Wonosobo yang berjuang mewujudkan cita-cita mereka. Kali ini tim Redaksi Wonosobo Muda telah menghimpun cerita dari seorang anak muda yang mendapatkan Work and Holiday Visa (WHV) dan kini telah berada di Australia untuk mengikuti programnya. Apa sih sebenarnya Work and Holiday Visa (WHV) itu? Dan bagaimana pengalaman Angga dari awal hingga kini berada di Australia? Yuk disimak ceritanya!

Sekilas tentang WHV Australia

Working Holiday Visa Australia adalah jenis Visa yang memperbolehkan pemegang visa untuk bepergian dan bekerja di Australia selama 1 tahun, visa ini diberikan kepada mereka yang berusia 18 sampai 30 tahun. Jenis visa ini biasanya dimanfaatkan oleh para backpacker dari penjuru dunia untuk bekerja sambil liburan di Australia. Dikutip dari Blog Reservasi, setiap tahunnya Indonesia punya 1.000 kuota untuk jenis visa ini, namun sayangnya kuota itu selalu tak terpenuhi. Pemegang visa ini boleh bekerja di bidang perkebunan, peternakan dan bidang jasa seperti perhotelan dan restoran.

Banyak keuntungan yang bisa didapatkan dari pemegang visa ini. Di antaranya, kalau pemegang visa turis hanya bisa berlibur maksimal 3 bulan, pemegang visa WHV ini berlibur di Australia selama satu tahun. Yang kedua, selain berlibur kita juga bisa dapat uang dari hasil bekerja di Australia. Tapi, jangan dipikir teman-teman akan bekerja enak di kantoran ya, terkadang kita harus ditempatkan di perkebunan, restoran, atau peternakan. Tapi jangan salah, karena upah di Australia jauh lebih tinggi dari di Indonesia, sehingga visa ini banyak dimanfaatkan para backpacker untuk liburan sambil menabung. Yang paling penting sebenarnya adalah pengalaman hidup yang kawan-kawan bisa dapatkan, karena bekerja dan hidup di negeri orang tentunya akan membentuk mental kita, apalagi hidup di negara maju seperti Australia.

Mengenal Angga Rahmawan

Angga merupakan seorang Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Ia lulus tahun 2012 dan sempat bekerja di sebuah kursus Bahasa Inggris lokal di Wonosobo sebagai Tutor bahasa inggris, tepatnya di Harry English Course (HEC). Selain itu, sulung dari tiga bersaudara ini juga menjalankan bisnis keluarga.

Di Australia sekarang, pemuda yang hobi bermain gitar ini bekerja di sebuah restoran yang merangkap bar dan coffee shop di kota Perth. Di sana, Angga mendapatkan pengalaman sebagai BARISTA dan ALL ROUNDER. Nah, tidak cuma itu kawan muda dalam jangka waktu dekat ia juga mendapatkan tawaran pekerjaan di Queensland tepatnya di Cape Tribulation, 141 km ke utara dari kota besar Cairns. Angga akan bekerja sebagai housekeeping di sebuah resort selama 3 bulan agar mendapatkan persyaratan perpanjangan visanya menjadi 2 tahun. Seru ya!

Perjalanan Awal Mendapatkan Visa

Pemuda yang pernah mengenyam pendidikan di SMA Muhammadiyah Wonosobo ini mengetahui ada program WHV dari seorang temannya yang berasal dari Temanggung. Pada waktu itu, teman Angga sudah mengurus pendaftaran program seleksi WHV ini setengah jalan. Sampai pada akhirnya teman Angga lolos dan berangkat ke Australia pada bulan Mei 2016. Waktu itu Angga merasa cukup tertarik dan ingin mengikuti jejak temannya. Namun, ia merasa mentalnya masih belum cukup, apalagi dengan pekerjaan dan bisnis yang sedang ia jalankan waktu itu sudah membuat Angga berada di zona nyaman.

Sampai pada akhirnya pada bulan September 2016, Angga merasa jenuh dengan aktivitasnya dan mulai mencari tahu lagi tentang program WHV. Ia pun berinisiatif untuk menghubungi temannya yang sudah berada di Australia. Pada saat itu pula pemuda yang pernah sekolah di SMP N 2 Wonosobo ini memantapkan diri utuk ikut program WHV Australia. Ia pun menyimak dengan benar semua proses yang harus ia lakukan untuk mempersiapkan aplikasi untuk program tersebut. Mulai dari membuat paspor, mempersiapkan test IELTS (tes kemampuan Bahasa Inggris sejenis TOEFL), membuat surat pernyataan dari bank, wawancara di bagian Imigrasi, hingga medical check up.

Sebelum Angga memastikan untuk mengikuti program ini, Angga berdiskusi dahulu dengan orang tua, dan Alhamdulillah mereka setuju. Salah satu persyaratan yang cukup memberatkan di dalam pengajuan visa Australian ini adalah diharuskannya memiliki deposit tabungan sebesar 5000 dollar Australia atau sekitar 50 juta Rupiah yang dibuktikan dengan Bank Statement. Uang Angga tak sebanyak itu pada saat itu, sehingga Angga mengakali dengan meminjam uang dari orang tua (dan orang tua pun sampai harus pinjam sana sini juga) untuk ditransferkan dulu ke rekening Angga. Lalu Angga cetak Rekening Koran dan Bank Statement, sebagai salah satu persyaratan dari pihak imigrasi Australia. Setelah visa Angga disetujui, Angga kembalikan lagi uang tersebut ke orang tua Angga. Uang tersebut hanya sebagai deposit jaminan, jadi tidak dipakai sama sekali.

Visa WHV ini hanya dikeluarkan 1000 setiap tahunnya. Pada waktu Angga mendengar berita tentang WHV, total sudah 300an orang yang lolos. Ketika melihat banyaknya peserta yang mendaftar pada gelombang Angga, Angga hanya bisa berdoa semoga ia masuk dalam jatah 1000 orang tersebut. Dan puji syukur setelah mengorbankan tenaga, waktu dan pekerjaan, Angga masuk dalam kuota 1000 orang tersebut. Pada akhirnya setelah mengikuti proses seleksi yang cukup panjang dan menyita waktu, visa Angga disetujui pada bulan November 2016 dan memutuskan berangkat ke Australia pada tanggal 13 Februari 2017. Angga cukup beruntung dan bahagia karena dari sekian ribu yang mendaftar dari seluruh Indonesia, Angga masuk di 1000 orang yang beruntung tersebut. Wah, membanggakan ya, kawan muda!

“Sebenarnya untuk mendapatkan Visa ini tidak begitu sulit, asalkan dokumen yang dibutuhkan komplit dan memenuhi persyaratan yang ditentukan maka 80 % visa bisa goal, yang menjadi masalah adalah kesabaran dan waktu yang harus disediakan karena proses menuju wawancara dilakukan secara acak, jadi kita harus selalu update dengan website imigrasi apakah kita mendapatkan jatah wawancara pada bulan tersebut atau tidak. Jadi ketika mendapat kan jatah wawancara kita harus ke Jakarta dan membawa semua dokumen yang diperlukan dan tidak bisa diwakilkan.”

Kehidupan di Australia

Ada banyak pengalaman menarik yang Angga dapatkan setelah beberapa bulan hidup di Australia. Di hari pertama Angga di Perth, ia melihat orang-orang yang sangat taat peraturan. Hal itu membuat Angga agak grogi untuk melakukan aktivitas, Angga bahkan hampir tidak berani untuk sekedar jalan-jalan pada awalnya. Bayangkan saja, untuk menyebrang jalan saja ada aturannya, naik bus kita harus menyapa pak sopir dengan ramah. Seketika itu Angga pernah menyebrang jalan tidak melalui penyeberangan jalan yang sudah disediakan, Angga berlari dan tiba-tiba ada suara klakson dan diiringi teriakan suara si pengemudi kepada Angga. Angga malu sebenarnya dan cukup takut, sejak saat itu Angga benar-benar selalu ikut peraturan. Oiya, ngomong-ngomong soal klakson mobil atau motor, ternyata di Perth kita tidak boleh sembarang membunyikan klakson, klakson hanya dipergunakan jika memang harus, seperti hampir menabrak sesuatu (contoh kasus Angga menyebrang jalan), ketika si pengendara di depannya membuat kesalahan dalam berkendara dan hampir merugikan pengendara dibelakangnya, maka kita boleh men-klakson. Jika kita menglakson sembarangan, kita bisa dikenakan denda karena masuk kategori polusi suara.

Kota di Perth juga sangat bersih, Angga hampir tidak melihat sampah berserakan, sungai-sungai bersih tanpa ada sampah 1 pun. Selain itu juga tidak ada kebut-kebutan di jalan karena setiap pengendara saat taat peraturan. Transportasi publik juga sangat nyaman, di Perth transportasi umum yang sering digunakan adalah Bus dan KRL. Oiya, Bus di Perth sangat tepat waktu dan apabila ada bus yang tidak tepat waktu kita berhak mengajukan complaint ke kantor pusatnya. Wah, beda banget dengan di Indonesia ya, kawan muda!

Pelajaran yang Bisa Diambil dan Pesan untuk Anak Muda

Pelajaran yang Angga ambil selama tinggal di Perth adalah perantauan ini membuka pikiran Angga akan dunia luar, yang selama ini hanya bisa ia lihat melalui berita atau layar kaca. Kini Angga harus menghadapinya dan mentalnya jauh lebih terasah lagi. Adaptasi di sebuah negara baru bukanlah perkara yang mudah namun Angga mulai menikmatinya. Angga berharap ketika ia kembali ke Indonesia, Angga bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan tentunya berguna bagi kota dan negara Indonesia.

Sebagai putra asli Wonosobo, Angga berharap generasi penerus mau membuka pemikiran terhadap dunia luar, banyak sekali hal-hal yang berharga di luar sana yang bisa kita ambil dan kita manfaatkan untuk kemajuan kota kita. Dari situ SDM kita secara tidak langsung akan meningkat. Maka kita pula yang wajib mengedukasi agar tercipta lingkungan baru yang lebih maju dan lebih baik lagi tentunya.

Tips untuk kawan-kawan yang ingin atau tertarik mengikuti program WHV Australia, yaitu persiapkan mental, tinggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk selama di Indonesia. Mulai belajar mandiri untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang selama ini kita anggap kasar seperti menjadi waitres, tukang kebun, bercocok tanam, housekeeping, dishwasher, kitchenhand, dsb karena pekerjaan-pekerjaan itulah yang akan menyelamatkan hidup kita selama disini. Perbaiki skill bahasa Inggris kalian karena itu akan mempermudah kehidupan kita selama di negara orang.

“Anak-anak muda Wonosobo sangat berpotensi, yang kalian harus lakukan adalah upgrade kualitas SDM, buka wawasan tentang dunia luar, terus belajar dan merantaulah untuk kembali, ya saya memang sangat menikmati waktu saya selama di Australia sejauh ini, tapi bagaimanapun juga saya tetap ingin kembali ke kota saya karena saya harap saya bisa lebih berguna minimal untuk kota saya sendiri.” (Angga Rahmawan)

Terakhir, Angga juga menitipkan pesannya untuk Wonosobo Muda. Ia berharap Wonosobo Muda ini akan selalu ada, jangan pernah putus ditengah jalan. Jalankan terus regenerasi dan cetak terus pemuda pemudi Wonosobo yang berkualitas. Ia juga menambahkan, semoga organisasi seperti WM ini bisa membuat Wonosobo menjadi lebih baik lagi kedepannya. Aamiin, waah terima kasih ya Mas Angga untuk kisah inspiratifnya!

Nah, bagi kawan muda yang berminat mengikuti jejak Mas Angga, berikut ada beberapa link website yang mungkin bisa membantu untuk mendapatkan informasi lebih jauh:

Semoga kisah ini bisa menginspirasi kawan-kawan muda ya!

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0