Belajar Public Speaking Dari Penjaja Bakso Krikil
Keinginan saya untuk meliput beliau sudah timbul sejak 3 minggu sebelum tulisan ini saya posting, selama beberapa hari, saya sempat berkeliling sekolah hanya untuk mencari sosok Penjual Bakso Kerikil dengan skill Public Speaking yang tak jauh berbeda dengan Penyiar Radio Professional. Dan hingga pada akhirnya, pencarian pun berakhir, karena ku tlah temukan dirimu Pak Tris. #yeah
Tangannya sudah sangat lihai memainkan spatula (baca : irus), saya mengenalnya pertama kali ketika saya masih kelas 8 SMP di tahun 2005, waktu itu saya masih cupu, bahkan bermain game online saja saya tidak mampu.
Agenda wajib bagi para pelajar setiap sepulang sekolah adalah ritual njajan bagi yang punya uang sisa pastinya, satu hal yang saya ingat sampai saat ini adalah sosok penjaja bakso kecil bernama Pak Tris, entah kenapa saya sangat tertarik dengan cara beliau menyajikan bakso krikil yang dipesan pelanggan, setiap kali menyajikan bakso krikil, ia selalu membuat suasana menjadi ceria seperti penyiar radio yang menyapa para pendengar, beliau tak pernah pilih kasih untuk menebar senyuman kepada siapapun, mulai dari anak kecil, remaja hingga cabe-cabean sekalipun.
Pria kelahiran tahun 1977 ini lahir di kota Blora, saat usianya menginjak 17 tahun beliau diajak kakaknya untuk merantau ke Jakarta, katanya sih beliau akan dipekerjakan di pabrik, namun sesampainya di Jakarta ia malah diajak jualan oleh kakaknya, dan Pak Tris merasa malu jika harus berjualan waktu itu karena ia pada dasarnya adalah seorang yang malu jika harus berjualan.
Singkat cerita, Pria yang menggemari Caca Handika ini merasa malu jika dirinya hanya menganggur saja, akhirnya ia terpaksa membantu kakaknya untuk berjualan bakso di Jakarta, namun karena Pak Tris adalah seorang yang dasarnya malu berjualan, akhirnya lambat laun ia mencoba mengalihkan rasa malu itu dengan mengajak pembelinya untuk ngobrol, obrolannya pun sangatlah mengalir tanpa rencana dan mampu menghipnotis para pembeli untuk betah berlama-lama dengan dirinya. Berdekatan dengan Pak Tris tak ubahnya berdekatan dengan seorang penyiar, Ia adalah penjual bakso yang selalu ramah, murah senyum dan selalu ceria, dan sepertinya belum pernah sekalipun ia menunjukkan sikap galau di depan saya, kecuali kalau itu ia gunakan untuk melucu.
Pada Tahun 2002, Pria penggemar Campursari ini hijrah ke Wonosobo, dan mulai merintis usahanya yaitu jual bakso keliling, awalnya tak ada istilah bakso krikil, namun salah satu pembeli dari daerah stasiun pernah berteriak begini “pak pesen bakso krikilnya”, nah dari situlah awal mula branding dari bakso mungil tersebut, disebut bakso krikil karena bentuknya yang kecil seperti batu kerikil, meskipun kecil jangan pernah berfikir bahwa ini adalah bakso penthol, it’s different mamen.
Ia memulai rutinitasnya hampir setiap hari, pagi hari di jam 08.00 – 10.00 ia berjulan di depan toko sinar el3ktr1k, disinilah Pak Tris mengasah kemampuan public speakingnya (baca : nggombalnya) kepada para pembeli yang mayoritas adalah karyawati yang belum menikah.
Setelah matahari mulai naik di Jam 10.00 – 12.00 ia mengirim gerobak beserta senyumnya ke MI Kliwonan, entah berapa banyak cubitan yang ia terima dari anak-anak MI yang gemas melihat tingkah lakunya.
Dan jam 12.00 – 17.00 beliau menghabiskan dagangannya (baca : bakso krikil) di depan SMK 1 Wonosobo, sekolah yang telah mendidik saya selama 3 tahun tanpa gelar diploma apalagi sarjana #yaiyalah. Namun akan beda cerita jika dagangannya sedang laris manis, terkadang baksonya sudah sold out sebelum jam 16.00 WIW (Waktu Indonesia Bagian Wonosobo), karena diburu oleh para pelajar dari SMP maupun SMK yang haus akan senyum, canda tawa dan bakso krikilnya.
Tanggal 6 Februari 2015, saya belajar darinya, pembelajaran yang saya dapatkan adalah, bahwa kita harus terus bergerak, inovatif dan ceria dalam menjalani peran sosial kita di dunia simplenya ojo mrengut wae (jangan cemberut saja), beberapa orang mungkin risih apabila melihat penjaja makanan yang cerewet layaknya tukang obat herbal yang ada di pasar, namun tidak bagi saya dan pelanggan setianya, Pak Tris telah berhasil menjadikan baksonya ceria seperti senyumnya, Tak banyak orang yang dapat konsisten untuk ramah dan murah senyum dengan para konsumen, sampai kapanpun sosok Pak Tris tak pernah bisa saya lupakan, meski saya hanya membeli baksonya seharga Rp 2000,- namun cinta, ketulusan dan senyum cerianya takkan ternilai harganya.
Semangat jualan Pak Tris, saya beli baksonya 2 nggak pake sambel… 🙂
(Artikel ini ditulis oleh Dhimas Raditya, dan bisa teman-teman temukan di blognya dhimasduar2.wordpress.com)



wah ini sudah gak asing, dulu di SMK saya juga langganannya pak Tris 🙂