kkn-ugm-1

Pada bulan Juli yang lalu, sebanyak kurang lebih 30 (tiga puluh) orang mahasiswa, tim KKN-PPM (Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat, selanjutnya KKN) UGM Unit 16T-JTG28 berhasil melaksanakan kegiatan KKN. Dari sejumlah 30 (tiga puluh) orang mahasiswa tersebut, sebanyak 7 (tujuh) anggota Sub Unit D Dusun Sirangkel yaitu Dyas Selvika Julianisa, Ardianto, Ajeng Laksmita, Devita Meisella, Isma Marinta Dewi, Lulum Leliana, Nabila Puteri, Naufal Hammadi, dengan dibantu oleh 3 (tiga) orang sub unit lain, yaitu Isa Elfianto (Sub Unit C Dusun Tedunan), Prita Widayanti (Sub Unit A Dusun Mlandi), dan Rossa Ayu Pridianingsih (Sub Unit C Dusun Tedunan) berhasil melaksanakan kegiatan berbagi pengetahuan kesehatan di MI Ma’arif Sirangkel.

Alasan MI Ma’arif Sirangkel terpilih sebagai lokasi tujuan kegiatan berbagi pengetahuan kesehatan adalah dikarenakan sekolah dasar tersebut merupakan salah satu sekolah yang berada di ruang lingkup kerja sub unit D Dusun Sirangkel. Selain itu, letak sekolah tersebut berada di dusun tertinggi dari desa Mlandi. Persiapan awal sebelum mereka melakukan kegiatan ini diantaranya adalah observasi sederhana terait kebutuhan masyarakat disana dan berkomunikasi dengan pihak MI Ma’arif Sirangkel itu sendiri dengan maksud agar kerjasama kegiatan tersebut dapat berjalan lancar dan memberi manfaat bagi mereka.

**

Sinar matahari mulai beranjak naik. Seorang mahasiswa KKN berdiri di tengah lapangan MI Ma’arif Sirangkel, Desa Mlandi, Wonosobo, 19 Juli 2016. Mahasiswa tersebut mengajak siswa-siswi dengan suara lantang. “Ayo baris, adek-adek”, ujarnya. Seketika rombongan anak-anak berbaris dengan ceria. Selagi salah seorang mahasiswa memberi aba-aba baris. Beberapa mahasiswa lainnya membantu merapikan barisan.

Saat itu, mahasiswa KKN UGM tengah menjalankan beberapa kegiatan, di antaranya edukasi kesehatan gigi, edukasi cuci tangan, dan permainan sederhana. Kegiatan-kegiatan tersebut terbagi dalam 3 pos. Setiap posnya telah dijaga oleh beberapa mahasiswa yang siap memberikan materi kegiatan.

Di pos edukasi kesehatan gigi, salah seorang mahasiswa KKN perempuan bertanya tentang kebiasaan sikat gigi, “Di rumah, Adek-adek sering sikat gigi?,” ujar dia. “Jarang, mba,” ujar beberapa anak. “Kenapa, dek?,” tanya mahasiswa itu. “Di rumah, ndak punya sikat gigi, mba”, salah seorang anak menjawab dengan polos. Wajah heran dan perasaan lucu coba ditahan oleh mahasiswa.

Setiap pos memberikan kesan berbeda kepada anak-anak. Salah satunya, ketika mahasiswa membagikan sikat dan pasta gigi gratis di pos edukasi kesehatan gigi. Sontak paras anak-anak bertambah ceria. Beberapa anak mendekat mahasiswa KKN dan mengucapkan beberapa kalimat. “Terima kasih, Kak. Terima kasih, Mba, Mas,” kata mereka dengan ramah.

Berbeda dengan pos edukasi kesehatan gigi. Di pos permainan, wajah-wajah lucu pun terpancar dari siswa-siswi MI Ma’arif Sirangkel. Salah satunya adalah permainan domikado. Di putaran pertama, permainan tersebut menggunakan lagu domikado biasanya. Namun di putaran selanjutnya, permainan itu menggunakan beberapa lagu anak-anak dan lagu nasional. Sungguh sederhana, namun tetap edukatif, khususnya peningkatan jiwa nasionalisme.

Pagi beralih siang, raut wajah lelah mulai terlihat, baik para mahasiswa maupun siswa-siswi MI Ma’arif Sirangkel. Awalnya, mengoordinir anak-anak dapat dikatakan membutuhkan keahlian khusus, kesabaran, dan energi ekstra bagi mahasiswa. Contohnya, ketika merapikan barisan dan mengkondisikan anak-anak agar tidak ribut. Namun itu semua adalah satu dari sekian tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa KKN ketika mengadakan program yang berhadapan dengan anak-anak.

**

Dari kegiatan berbagi pengetahuan kesehatan di MI Ma’arif Sirangkel  tersebut, mereka para tim KKN belajar mengenai banyak hal, terutama perihal problema di masyarakat. Dari situ mereka menyadari bahwa lembaga sekolah ternyata tidak hanya sekedar formalitas mengadakan kegiatan belajar mengajar belaka, namun lebih dari sekedar itu, lembaga sekolah menjadi tempat dimana seseorang dididik sehingga dapat menciptakan insan yang tidak hanya cerdas akal tetapi juga cerdas dalam tindak-tanduknya. Harapan mereka, kegiatan yangtelah mereka laksanakan dapat diterapkan secara berkelanjutan, khusunya dalam konteks kegiatan mereka ini adalah penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, sehingga menjadikan pribadi-pribadi yang sehat jasamani rohani, selayaknya kalimat di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang kuat. (Risma)

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0