Berhenti Mengecam Kegelapan
Baru-baru ini menjadi tren, berkomentar atas segala apa yang terjadi di sekitar. Termasuk keluhan terhadap pemerintah. Atau, jika bukan pemerintah, mungkin yang lain, berusaha mencari kambing hitam apabila komentar ini terkait dengan suatu permasalahan. Saya tidak menyalahkan, dan saya tidak memiliki kapasitas untuk beropini lebih jauh. Hanya saja, dari sisi lain kita dapat cermati, kadang, orang yang berkomentar itu tidak melakukan apapun untuk membuat perubahan.
Kasusnya, misal. ada sekelompok pemuda desa yang jengkel melihat jalan lintas kendaraan di desanya rusak. Berkalang lumpur, berbahaya ketika hujan. Lalu jika mereka berkumpul di warung kopi, mereka akan saling menyampaikan sumpah serapah, makian pada kepala desa mereka yang jarang nampak bekerja, atau camat, bahkan bupati yang menurut mereka, tidak becus mengemban amanah. Tidak sampai di situ. Karena tidak puas hanya bicara di belakang, mereka melabrak kepala desa, menuntut segera dibangun jalan yang baru. Lalu mereka merasa puas, dan menunggu. Jika tidak kunjung dikabulkan keinginan, mereka akan melakukan hal yang sama, lagi dan lagi. Serta analogi-analogi sejenis lainnya.
Teringat saya pada ungkapan yang banyak pula didengar orang, daripada mengutuki kegelapan, lebih baik menyalakan lilin. Apakah pemuda-pemuda itu telah menyalakan lilin? Menurut saya tidak. Mereka mungkin mencoba menyalakan lilin, tapi tidak menjaganya dari angin. Pilihan untuk menuntut kepala desa membangun jalan, boleh lah jadi pilihan pertama. Tapi apakah terus-terusan begitu? Akan jauh lebih baik, ketika mereka belajar untuk bergerak maju melenyapkan halang rintang. Opsi A tidak berlaku, maka jalan lain harus diupayakan. Demi kemaslahatan bersama.
Ceritanya akan berbeda, ketika tuntutan mereka tidak berbuah, namun mereka tidak putus asa, karena lebih mencemaskan warga yang kian hari makin banyak menjadi korban, dan perekonomian desa mereka melambat, merayap. Maka inisiasi dari mereka, untuk mengajak pemuda lainnya, dan orang tua atau anak-anak yang mau diajak bergotong royong untuk membangun kembali jalan tersebut. Paling tidak, membuatnya lebih nyaman untuk dilintasi walau dengan sumber daya yang terbatas.
Ini yang saya sebut dengan menyalakan lilin dalam kegelapan. Sama ceritanya dengan kisah Butet Manurung yang menerjang rimba Jambi untuk mengajar ilmu pada anak-anak yang tak tersentuh dunia pendidikan formal yang diadakan pemerintah, atau Ricky Elson yang tetap berkarya di dunia kelistrikan di kediamannya di Ciheras walau karya monumentalnya, mobil listrik Indonesia, senyata-nyata telah dicampakkan pemimpin-pemimpin kita.
Dari mereka, kita bisa belajar, untuk tidak bergantung pada variabel yang lain, yang belum tentu mendukung kita. Tidak bergantung pada kepala desa, tidak bergantung pada bupati, tidak bergantung pada pemerintah, tidak bergantung pada siapa pun untuk melakukan suatu perubahan, menuju kebaikan.
Jika kita cermati, banyak orang berkata, sumber daya alam Indonesia ini luar biasa, kaya raya, tapi rakyatnya tak sejahtera. Lalu saling menyalahkan : yang pemerintahnya korup, lah, rakyatnya kurang pendidikan, lah, etos kerja rendah, lah. Bahkan sampai berandai, seharusnya kita dijajah Inggris, bukan Belanda. Lah?
Syukur memang harus dipanjatkan setinggi-tingginya kepada Tuhan, telah menganugerahkan karunia alam yang tak dapat kita perhitungkan. Tapi kunci tetap pada manusianya. Aset terbesar, penentu keberhasilan suatu negara, ialah sumber daya manusianya, dan seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, tidak bergantung pada yang lain. Tengoklah Jepang, di abad 16 mereka mengusir pedagang dan misionaris Eropa, untuk menyatukan Jepang dan menciptakan kestabilan politik dibawah Shogun Tokugawa. Di bawah kekuasaannya, Jepang membangun identitas dan budaya lokal yang kuat sebagai basis perkembangan mereka hingga kini. Ada pun Korea Selatan yang di masa-masa awal pembangunannya direcoki oleh Amerika Serikat dalam kebijakan politik maupun ekonomi dan diremehkan dalam pengembangan industri mesin, akhirnya menolak segala campur tangan tersebut dan memperkuat industri mesin dalam negeri, yang akhirnya menelurkan perusahaan besar sekelas Hyundai atau Samsung. Politik seperti ini disebut dengan proteksionisme, yaitu bidang-bidang penting di dalam negeri didukung oleh negara, dan ditutup dari campur tangan negara lain, terutama dalam bentuk investasi asing (Reza A.A Wattimena, 19 Juli 2014 dalam tulisannya ‘Politik Menutup Diri’).
Bisa jadi, sebagai putra daerah, Wonosobo terutama, ketika merantau ke kota lain, terkadang ada sebersit rasa malu di hati kawan-kawan, saat Wonosobo disebut-sebut sebagai kampong halaman. Yang kita tahu, kota kita tercinta ini menduduki peringkat teratas dalam hasil survey kategori daerah termiskin di Jawa Tengah (Suara Merdeka, 22 September 2015). Mungkin, ada lintasan pikiran mencari pihak yang patut disalahkan, atau malah sudah tidak mau mengakui Wonosobo sebagai tanah kelahiran, seperti yang pernah saya temui pada seorang figur publik, yang mengaku lahir dan besar di Yogyakarta, padahal beliau ini satu sekolah dengan saudara saya, jelas-jelas lahir dan besar di Wonosobo.
Kita, sebagai pemuda yang masih belajar, akan sangat paham, Wonosobo memang membutuhkan pembangunan yang luar biasa untuk mengentaskan masalah-masalah yang membayangi citranya sebagai kabupaten terbelakang. Lalu apakah kita akan diam saja? Tentu saja tidak. Dan saya sangat bersyukur, generasi kini makin banyak yang menyadari, bahwa mencintai Wonosobo adalah sebuah keniscayaan, diwujudkan dengan gerakan-gerakan, untuk membuatnya makin nyaman untuk disinggahi, makin dekat di hati untuk ditinggali, makin membanggakan untuk diakui.
Seruan Soekarno yang terkenal untuk menggoncang dunia hanya dengan sepuluh pemuda harus dibuktikan. Kita punya banyak pemuda. Apalagi Wonosobo, yang memiliki ragam pemuda dengan banyak cerita. Memberdayakan kekuatan, semangat, dan ide-ide kreatif lokal yang belum menua adalah solusi pembangunan. Tentu kita tidak akan membangun peradaban dengan menanti campur tangan asing, atau hambatan-hambatan datang satu per satu untuk menggunung, bukan? Kalau Petuah AA Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, mulai dari sekarang!
Maka, siapa yang tidak mau bergabung dengan komunitas pemuda yang menyalakan lilin? ***
(Diena Novianti Masruroh)
