Kata orang tua dulu, untuk sekedar sukses menjadi lurah/kepala desa dalam sebuah pilkades, orang itu harus ketiban pulung dulu. Dalam mitologi nusantara (Jawa), pulung berbentuk bola api melayang di angkasa, muncul malam hari dan tiba-tiba hilang. Hilangnya pulung di atas rumah siapa itulah artinya orang tersebut akan mendapat anugerah besar, bisa berupa jabatan atau kemasyhuran hidup lainnya. Bagi anak yang lahir 2000-an sudah asing bahkan tidak tahu perbendaharaan kata pulung ini.

Dari 4 pasangan calon bupati Wonosobo ini, siapa yang akan/sudah ketiban pulung?

Bergesernya jaman sepertinya sebagian orang (tim sukses khususnya) akan mengklaim bahwa pulung sudah jatuh kepada pasangan calon pilihannya. Bahkan kalau belum juga jatuh, pulung akan dipaksa untuk jatuh sesuai seleranya. Ya, pulung dibajak. Lebih tepatnya disuap.

Hari ini sudah masuk masa tenang, yang semestinya masa istirahat tidak ada lagi kampanye. Masa inkubasi, perenungan dan pematangan pilihan setelah sekian waktu dijejali dengan kampanye dan menunggu hari-H tanggal 9 Desember 2015. Tapi sudah menjadi rahasia umum, masa “tenang” ini justru sangat rentan terjadinya money politic jual beli suara atau lebih familiar dengan sebutan serangan fajar. Para “siluman” tim sukses paslon akan bergerilya masuk door-to-door atau masuk ke forum-forum kecil di kampung: pangkalan ojek warung kopi, arisan RT, atau bahkan jama’ah yasin & tahlil.

Sejak diberlakukannya UU tentang pilkada langsung memang fenomena money politic makin merajalela. Sebetulnya kalau mau jujur tidak hanya sejak pemilihan langsung, cuma kalau dulu sogokan ini terpusat cukup hanya untuk anggota dewan terhormat yang dibeli suaranya untuk memilihnya. Berbeda sekarang, sogokan ini menjadi ter-desentralisasi melebar “wajib” ke semua pemilik hak suara.

Dari obrolan ringan di kelompok tahlilan penulis, ada beberapa tipe orang dalam menyikapi fenomena serangan fajar ini. PERTAMA tipe orang yang lu jual gua beli. Dia akan memilih yang memberikan isi amplop terbanyak. Ini semacam melelang hak suaranya. Orang ini konsekuen dan rasionalis secara teori ekonomi, tapi tak jarang dibully dan dinistakan sebagai orang yang menggadaikan 5 tahun kedepan dengan 50/100 ribu. KEDUA tipe orang yang akan menerima saja uang yang diberikan oleh tim sukses, namun masalah pilihan nanti dulu, itu rahasia. Tipe ini kerap kali didengungkan di forum kumpul-kumpul di kampung, “…kalau dikasih uang terima saja, tapi jangan dipilih. Pilihannya tetep nomor anu ya…” begitu kira-kira provokasinya. Tapi kalau boleh jujur, tipe ini dalam agama masuk kategori orang munafik opurtunis, mau uangnya tapi tak mau pilih jagoannya. KETIGA, tipe orang yang akan memilih siapa saja yang kasih duwit bahkan berani disumpah pocong segala. Kalau yang kasih duwit 2 pasangan calon, dia pun akan coblos dua-duanya. Kalau 4 pasangan calon semua kasih duwit, dia juga akan coblos semua. Tidak peduli suaranya rusak atau tidak, yang penting bagi dia sudah memenuhi “janji suci” dengan gogol masing-masing paslon.

Yang menarik dari semua tipe di atas, rata-rata sudah menyadari dan mempunyai asumsi yang sama, yaitu jangan golput. Jangan golput dalam artian kartu suara tidak dicoblos, kalau bingung tidak ada pilihan yang sesuai selera, mereka akan membuat rusak aja kartu suaranya. Karena menurutnya kertas suara yang kosong rentan terkena dhemit yang akan menoblosnya dan memenangkan salah satu paslon. Intinya rentan dimanipulasi dan disalahgunakan.

Di tengah “kekotoran politik” dewasa ini, kadang  ada yang bilang jangan pilih pasangan yang melakukan money politic, jangan kau gadaikan 5 tahun masa depanmu dengan lima puluh ribu, dalam bahasa agama, jangan kau menjual ayat agama dengan harga yang murah. Pertanyaannya kemudian, adakah dari 4 calon ini yang tidak melakukan money politic..? Omong kosong. Penulis pribadi tidak percaya. Kalau ada yang money politic habis banyak ada yang habis sedikit iya, namun bukan berarti yang sedikit terus masih lebih mulia dari yang habis banyak. Yang habis sedikit pun kalau punya kesempatan yang sama (punya fulus banyak), akan sama menggunakannya. Istilah money politic sekarang tampaknya disamarkan dan diperhalus menjadi biaya politik.

Jadi kalau ada 3 dari 4 paslon yang datang menemui Anda memberikan fulus supaya memilihnya, bukan berarti pasangan yang tidak memberikan duwit kepada Anda adalah pilihan yang bersih. Bisa jadi dia sudah kehabisa fulus atau bisa pula telik sandi mereka tahu kalau wilayah Anda bukan wilayahnya, jadi mereka logis akan memilih tempat lain untuk “nyebar rejeki”-nya.

Kesimpulannya money politic tidak bisa menjadi indikator murni bahwa paslon ini lebih baik dari pada paslon itu. Ini lebih pada fakta bahwa paslon si-A lebih kuat backing dananya dari pada paslon si-B dan seterusnya. Namun sekali lagi hal ini tidak bisa menjadi acuan ideal untuk menentukan pilihan.

Lantas berdasar apa kita memilih pilihan yang ideal??

Idealisme memang harus selalu ada, tapi realitas yang benar-benar ideal tak pernah ada. Pertama kali kita mesti meyakini hal ini: Memang ada risiko Wonosobo bisa lebih mundur, Wonosobo menjadi lebih terbelakang dari sekarang, tapi yakinlah Wonosobo tidak mungkin hancur lebur hanya karena yang jadi bupati 5 tahun kedepan bukan pilihan Anda. Bahkan ada kemungkinan bisa jadi Wonosobo bisa jauh lebih baik dan berkembang. Pemahaman ini sangat penting agar kita tidak terjebak fanatik buta pada paslon masing-masing.

Idealnya memang kita memilih pemimpin karena paling tidak beberapa faktor ini: Pertama Integritasnya, kita mesti tahu track record-nya. Karir politiknya seperti apa atau minimal karir dalam hidupnya. Apa dia culas, curang, korup atau tidak. Kedua visi misinya. Setelah yakin pasangan ini berintegritas atau dalam bahasa agamanya amanah, kita pahami dan dalami visi misinya. Apakah membumi, masuk akal dan baik untuk dilaksanakan. Atau hanya janji langit yang muluk dan hanya membuai membuat kita terlena. Ketiga lihat siapa “sponsor” aktor dibelakang sang kandidat. Siapa yang notohi biaya politiknya. Biasanya sponsornya adalah pengusaha-pengusaha kakap makelar proyek, yang nantinya pasti menagih janji mega-mega proyek untuk diambil alihnya.

Ada yang bertanya, “Gila, ribet amat kita mau milih bupati saja, harus bersusah payah menelusur data-data yang tidak jelas itu??.” Jawabannya adalah iya, kita harus mau ribet kalau memang kita mau ikut andil dan bertanggung jawab atas kebaikan dan kemajuan kota tercinta 5 tahun ke depan.

“Apa tidak ada cara lain yang lebih praktis, saya yakin dengan seyakin-yakinnya warga Wonosobo tidak semuanya mampu untuk melakukan hal njlimet seperti di atas. La wong nyari duwit buat dapur ngebul saja sudah menyita hari-harinya.??”. Jawabannya adalah ada cara yang sederhana nan praktis, tapi ini dalam keadaan terpaksa saja.

Pertama, kalau Anda beragama islam coba lakukan shalat istikharah, shalat yang diperuntukkan khusus untuk memilih pilihan yang masih bingung. Kalau setelah shalat Anda mendapat wangsit dalam mimpi atau tiba-tiba hatinya menjadi yakin memilih ke salah satu pilihan, mungkin itu adalah pilihan terbaik. Penulis sendiri pernah shalat istikharah dalam hal dulu memilih pacar ups.., tapi bingung juga wangsit yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Tapi saya yakin Anda pasti akan lebih baik dalam melakukan shalat istikharah dan tentu hasilnya juga akan beda dengan pengalaman pribadi penulis. Bagi yang nonmuslim, mungkin ada ritual-ritual khusus juga yang mirip dengan istikharah-nya dalam islam.

Kedua, dalam kaidah ushul fiqh kita boleh taqlid atau mengikuti pendapat ulama yang kompeten dalam menentukan hukum-hukum Islam tanpa kita tahu bagaimana ulama tersebut menggunakan metode, dalil argumen sampai pada kesimpulan ijtihadnya.

Saya kira ini juga berlaku dalam politik, jika tidak yakin dengan pilihan kita, dan kita tidak sempat untuk “riset” latar belakang semua paslon, kita tidak mampu ber-ijtihad secara mandiri, bolehlah kita taqlid mengikuti pilihan orang-orang yang lebih kompeten dari kita. Bisa guru kita, bisa orang tua kita, bisa tokoh masyarakat panutan kita. Tentu ini selemah-lemah pilihan. Kalau mengikuti kaidah fiqh lagi, “ijtihad itu kalau benar mendapat dua pahala, dan kalau salah pun masih mendapat satu pahala”.

Tanggal 9 Desember besok yang bahagia karena libur kerja (kayak saya),  jangan lupa datang ke TPS sebelum ditutup dan tentukan pilihan masing-masing, baik yang karena ijtihad sendiri atau taqlid.

Jangan lupa ngopi dan bahagia.

 

Penulis: Awaludin Akhmad (Alumni Teknik Informatika UNSIQ, Warga Kalibeber Mojotengah)

*Tulisan ini adalah bagian dari gerakan #MbangunSobo yang bertujuan untuk mengajak dan membangun kesadaran warga Wonosobo agar lebih peduli dengan apa yang sedang terjadi di kotanya. Kawan-kawan dapat turut serta dalam gerakan ini dengan mengirimkan tulisan opini mengenai Masa Depan Wonosobo ke email redaksi kami: wonosobomuda@gmail.com. Ayo #MbangunSobo bareng-bareng!

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0