Hi Kawan Muda Wonosobo, nama saya Rama Zatriya Galih Panuntun, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung. Selama 5 hari terhitung dari 30 September hingga 4 Oktober 2019, saya dan sembilan anak muda lainnya terpilih menjadi peserta Jelajah Toleransi Wonosobo. Jelajah Toleransi merupakan salah satu program hasil kerja sama antara Toleransi Indonesia, Indika Foundation, Uni Eropa dan UNDP Indonesia. Kapten Toleransi sendiri merupakan peserta Jelajah Toleransi yang disaring secara ketat dalam proses seleksi untuk seluruh mahasiswa di Indonesia. Tersaring berjumlah 50 mahasiswa terbaik yang kemudian disebar kepada daerah penempatan jelajah yang terdiri dari 5 kota yaitu, Pangandaran, Wonosobo, Batu, Poso dan Ambon. Izinkan saya mewakili teman-teman lainnya untuk menceritakan perjalanan Jelajah Toleransi kami di tanah Wonosobo.

Destinasi 1: Masjid Al-Mansur, Kauman.

Sowan pertama kami ialah mengunjungi Bapak Ahmad Baihaqi, seorang Tokoh Masyarakat dengan latar belakang seorang Muslim Nahdatul Ulama (NU) yang kini berperan aktif dalam beberapa kegiatan masyarakat Wonosobo. Diskusi dan Sharing Session pun berlangsung selama 90 menit di Selasar Masjid Al-Mansur Kauman Wonosobo. Pemilik akun instagram @haikukau ini mengatakan bahwa “wajah Wonosobo hari ini dapat terawat karena jalinan hubungan interaksi antar masyarakat, lintas komunitas dan antara agama yang dijaga melalui praktik kebudayaan yang mempersatukan warga Wonosobo tanpa  sekat”. Beliau juga bercerita bagaimana masyarakat Wonosobo mampu lebur dalam prosesi kebudayaan, salah  satunya melalui Grebeg  Suran. Prosesi Grebeg Suran sendiri merupakan aktifitas budaya atas rasa  syukur hasil bumi warga Wonosobo yang dilaksanakan bertepatan atau sekitar waktu peringatan Maulid Nabi. Walau di-inisiasi oleh latar belakang perayaan Muslim, prosesi  ini terbuka dan mengundang dari beberapa Tokoh dan masyarakat  lintas agama dan Pegiat Budaya serta masyarakat umum Wonosobo yang dapat menikmatinya langsung.

Destinasi 2: Mengunjungi SLB Dena Upakara

Selanjutnya kami bersama Pak Haqi mengunjungi salah satu yayasan yang didirikan dengan latar belakang Katholik tapi “justru” menampung siswa/i yang memiliki background 80% Muslim, tutur salah satu Pengajar Senior di yayasan bernama SLB Dena Upakara.  Pengajar Senior itu bernama Bu Tumir, beliau telah menahbiskan hidupnya dalam 16 tahun belakangan untuk mendidik siswa/i istimewa dengan kebutuhan khusus pada pendengarannya ini. Bu Tumir mengutarakan bahwa,

“Walaupun yayasan ini milik Katholik, Kami (Pengajar) ingin mengasuh dan mendidik siapapun tanpa memandang apa agamanya, sukunya dan latar belakang apapun itu. Ajaran Cinta Kasih yang mendasari kami mampu bertahan dalam waktu yang tidak sebentar sejauh ini.”

Spirit dan ketulusan dari lubuk hatinya pun bisa kami rasakan dan bangga nan bersyukur  juga bisa bercengkerama dengan adik-adik dari SLB Dena Upakara. Ketakjuban berikutnya kami lihat dan rasakan sendiri ketika berada di Mute Area pada saat makan siang, kami dijamu oleh salah satu unit yayasan yang bergerak dalam Kuliner dan Kerajinan dari SLB Dena Upakara yang mampu melayani dan memberikan hidangan yang nikmat dengan keunikan mereka.

Tertegun dan kagum, “Bahwasanya tidak ada keterbatasan, yang ada ialah batas yang kita ciptakan sendiri ketika kita sudah pesimis, makane kudu optimis!” ujar Pak Haqi disela obrolan makan siang kami.

Destinasi 3: Gereja Kristen Jawa (GKJ) Wonosobo

Pemberhentian kunjungan berikutnya ialah Gereja Kristen Jawa (GKJ) Wonosobo. Kedatangan kami pun telah ditunggu oleh pihak GKJ dan perkenalan singkatpun langsung berbaur di selasar muka GKJ. Ornamen dan arsitektur Jawa pun sangat lekat pada tiap sudut bangunan gereja ini. Dimulai dari ukiran pintu hingga alat musik tradisional yang digunakan dalam beribadah juga menjadi ciri khas gereja kristen yang satu ini. Dialog dan sharing-pun hanyut. Pdt. Agus Agung pun kami teror mengenai bagaimana sebenarnya peran GKJ sendiri daam merawat toleransi yang ada di Wonosobo hingga bisa adem ayem seperti hari ini. Beliau mengungkapkan,

“Kesadaran akan perbedaan yang tumbuh pada diri masyarakat merupakan kuncinya. Kunci bahwasnya perbedaan merupakan kuasa Tuhan yang menjadikan bumi ini sangat berwarna sehingga tinggal peran manusialah untuk merawat perbedaan tersebut yang Tuhan turnkan nantinya bekah disela kehidupann hambanya. Dan GKJ hadir untuk mengakomodir bagi siapapun yang beragama Kristen untuk dapat beribadah dengan nuansa budaya Jawa”.

Setelah beberapa menit berlalu dan pembicaraan mengalir, kami juga berkunjung Mini Museum yang berada di Lantai 2 menarik kami menuju sejarah  GKJ bisa hadir ditenngah kehidupan masyarakat Wonosobo yang plural. “Wah keren banget ya, ada gereja dengan nuansa budaya Jawa gini”,ucap Risfa, Mahasiswi Kader HMI IAIN Palangkaraya ini yang baru pertama kali masuk kedalam gereja.

Destinasi 4: Klentheng Hok Hoo Bio

Selanjutnya ialah Klentheng. Rumah ibadah dari saudara kita Kong Hu Cu ini telah menyambut kami dengan optimisme karena warna melah menyala yang sudah nyentrik dari tepi jalan. Klentheng Hok Hoo Bio yang dihampit oleh beberapa rumah ibadah dan kantor organisasi masyarakat ini nyatanya mampu bertahan hingga hari ini. Tim Jelajah Toleransi pun disambut dengan Tea Time sembari kita ngobrol dan diskusi seputar Klentheng hingga waktu maghrib tiba. Disela obrolan, Pak Hasan Akli sebagai Pemimpin Pengurus Klentheng menyebutkan bahwa,

“Eksistensi Klentheng ditengah masyarakat Wonosobo hingga hari ini mampu berbaur dan tidak merasa ekslusif. Kehadiran teman-teman Kong Hu Cu dalam beberapa kegiatan sosial, budaya dan kemasyarkatan membuktikan Kong Hu Cu hadir ditenngah masyarakat yang majemuk.”

Selanjutnnya kami diajak oleh Pak Hasan  untuk berkeliling melihat-lihat bagaimana ornamen dan bangunan Klenteng. Foto  bersama yang juga berlaku ditiap kunjungan merupakan kewajiban dokumentasi yang kami sematkan serta kepulangan dari Klenteng Hok Hoo Bio mengantarkan istirahat kami untuk keesokan hari dengan tempat baru dan pertemuan dengan orang-orang baru.

Destinasi 5: Desa Giyanti (Njanti)

Dihari kedua, kami mengunjungi sebuah desa, desa tersebut bernama Desa Giyannti. Desa yang sering dipanggil dengan “Njanti” ini merupakan desa dengan amanah Desa Sadar Kerukunan yang disematkan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama dan Budaya (FKUBB) Wonosobo tepat pada 2018 lalu. Kedatangan kami disambut dengan lukisan wayanng disetiap sudut rumah warganya. Penyambutan akan tampilan kekayaan budaya membuat antusiasme Tim Jelajah Toleransi yang menggebudan tidak sabar untuk berdialog. Sambutan oleh Sekretaris Desa Kadipaten sekaligus Budayawan ,Kepala Dusun dan Pegiat Budaya Pemuda membuat kami segera turun dari Elf yang mengantarkan kami. Sambutan dan pengantar dari Allam Herlambang, selaku Kakak pendamping sekaligus perwakilan dari Indika Foundation memantik obrolan dan diskusi kami di Pasar Ting. Pasar yang menjadi produk kebudayaan yang digagas dan dijalankan oleh para pemuda dari Desa Giyanti ini. Diskusijuga berlanjut di Sanggar knfvd.

Penjelasan mengenai sejarah hingga peran budaya hari ini dalam konteks toleransi kami dapatkan dari Mas Tatag Taufan Anwar, seorang Dalang Muda ini menyebutkan bahwa,

”Para leluhur yang dijadikan sebagai role model dalam menjalani kehidupan menunjukkan kepada kami (warga Giyanti) dengan sangat sederhana dan berbaur bersama siapapun, termasuk pendatang serta  penghidupan gotong royong sebenarnya yang tertinggal di Njanti, di Wonosobo hari ini. Karena hal itu kami dapat hidup berdampingan hari ini. Budaya yang lestari dan tetap harum hari ini mampu mengikat kami dalam kekeluargaan yang erat sebagai warisan leluhur yang n ilai-nilai nya dapat kami warisi.”

Setelah mesra berdiskusi tentang sejarah dan peran budaya khususnya di Njanti, kami berkunjung ke salah satu Taman Kanak Danawarih sekaligus sebagai tempat kami untuk diskusi dan kembali sharing bersama teman-teman Penghayat Pangestu. Bersama Pak Sudharyono dan Mas Krisna, kami dikenalkan bagaimana Pangestu mampu lebur dan baur dalam kehidupan masyarakat Wonosobo khususnya warga Giyanti yang juga plural.

“Pangestu sendiri juga hadir dalam tiap acara kebudayaan yang kerap diadakan baik skala Giyanti maupun skala se-Kab.Wonosobo. Hal ini membuktikan bahwa eksistensi Pangestu yang mampu hadir ditengah masyarakat sebagai aksi nyata akan pengayoman dari kakak selaku mayoritas kepada adiknya yang minoritas.”, imbuh Pak  Sudharyono.

Destinasi 6: Taman Rohani Anggro Gondok

Selanjutnya kami ditunjukkan buku (kitab) Dasasila dan beberapa buku lainnya sebagai landassan berpijak Penghayat mmenjalani konsep hablu minannas maupun hablu minallah-nya. Setelah itu kami pamitan dan menuju titik kunjungan berikutnya yaitu Taroanggro, Taman Rohani Anggro Gondok.

Setibanya kami di Taroanggro, kejutan berikutnya hadir dimata kami karena sambutan Patung Yesus yang menengadah ke langit berukuran 4-5 meter itu menjulang ke langit Wonosobo sore itu. Setelah kami masuk melalui gerbang, sambutan kembali bergayung dengan sajian kumpulan kisah Yesus yang terbentang sepanjang taman. Tak lama kami mengagumi taman rohani ini, Ketua Pengurus Taman Rohani Anggro Gondok, Bapaka Agustinus Tugiyono  pun hadir dan langsung kami langsung berdiskusi sembari ngobrol santai. Pak Tugiyono mengutarakan bahwa, 

“Konsep taman doaa yang terbuka ini memang sengaja didesain agar jemaat yang ingin berdoa disini meraskan keheningan dan suasana natural alam Anggro Gondok. Juga desain terbuka ini memeperbolehkan siapapunn untuk berkunjung dengan gratis dan kapanpun itu mereka ingin datang. Hal ini ingin menunjukkan bahwa taman rohani ini walaupun sebagai sarana ibadah dari teman-teman Katholik, juga terbuka dengan siapapun tanpa melihat identitasnya terlebih dahulu sebelum memasuki taman ini.”

Ketika ditanya mengenai bagaimana tanggapan atau respon masyarakat Muslim yang tinggal di sekitar taman rohani tersebut, Pak Tugiyono menambahkan,

“Taman ini juga memberikan manfaat dan berkah kepada masyarakat sini yang kebanyakan Muslim. Warga bisa berdagang makanan dan minuman ketika jadwal doa atau ibadah berlangsung dengan membantu ekonomi warga. Juga selain sebagai tempat ibadah, taman rohani ini bisa disulap menjadi tempat wisata religius ketika teman-teman selain katholik datang, juga menjadi oenarik turis lokal maupun luar jawa tengah untuk melihat dan ingin belajar tentang  tempat ini.”

Hal itu  membuat kami tertegun dan menegaskan bahwa ada aksi nyata dalam kehidupan masyarakat kita hari ini, berdampingan dalam segi yang hari ini sensitif yaitu agama bahkan menciptakan saling menguntungkan antar umat  beragama. Kami larut dalam perbincangan hingg kami berdiam di taman yang menghadap Gunung Sumbing ini dihujani dengan deras hingga maghrib tiba dan obrolan pun juga selesai. Sepeninggal kam dari taman rohani, kami bersiap pulang menuju basecamp, di Dusun Mudal yang selanjutnya kami akan berdialog dengan tokoh Penghayat Wonosobo, yaitu Bapak Sarno Kusnandar.

Destinasi 7: Dusun Mudal

Ba’da Isya, kami langsung bersua dan kembali sharing bersama Pak Sarno. Kami mengulik seputaran budaya lokal apayang sebenarnya mampu mempersatukan warga Wonosobo hari ini. Sembari merokok, Pak Sarno menceritakan tentang Grebeg Suran dan bagaimana prosesiny dan harapan apa  yang sebenarnya ingin disampaikan.

“Grebeg Suran sendiri hadir dimasyarakat  kita sudah lama. Dan dalam formis pelaksanaanya, tahun ini memasuki tahun keempat. Gotong royong dan kehikmatan bersatu dalam perbedaan latar belakang Wonosobo yang mungkin dapat dirasakan warga. Mungkin kumpul-kumpul bahasanya kalau sekarang menyebutnya, tapi dalam skala se-Wonosobo. Nah, dalam Grebeg  Suran merupakan prosesi untuk memperingati malam Suro dan dalam konkretnya sekaligus, ingin mengajak teman-teman yang lain seperti Penghayat, Buddha, Hindhu, Kristen, Katholik dan Kong Hu Cu dalam perayaan sekaligus perlaksanaan peringatannnya. Warga berbaur dalam arak-arakan, tertawa dalam hiburan, dan hikmat dalam setiap sesi acaranya. Contohnya pada saat arakan Tumpeng, warga terlihat semangat  dan terlihat tidak ingin ketinggalan dalam meraih beberapa bagaian dari Tumpeng yang  merupakan simbol kesejahteraan Tuhan yang dillimpahkan kepada hamba-Nya.”

Sembari menarik isapan rokoknya, Pak Sarno menambahkan bahwa,

“Untuk menjaga keharmonisan ini tentu saja justru tidak mudah dan diperlukan konsistensi. Dengan menjaga hubungan dan tetap berkomunikasi dengan baik. Dengan siapaun dan dimanapun kita berada menurut saya itu kuncinya. Karena doa terbaik adalah kata-kata. Maka doakan saudara-saudara kita, sekalipun yang tidak satu kepercayaan, yang tidak sekeyakinan ahrus kita  doakan. Karena Tuhan tahu maksud dan doa kita, Tuhan lebih tahu. Bagaimanapun kita harus menjaga hubungan ini, keharmonisan ini.”

Hingga larut kami terbuai dan menikmati pembicaraan malam itu dengan Pak Sarno. Pembahasan panjang lebar seputaran budaya lokal dari Aboge, Rambut Gimbal, Tari Lengger dan Grebeg Suran memberikan khasanah baru bagi kami nahwa Budaya bukan hanya sebagai buti sejarha yang untuk dipelajari tapi harus mampu hadir memberikan penghidupan sekaligus kehidupan bagi pewarisnya, bagi siapapun yang mengetahuinya dan semestinya seperti itu

Destinasi 7: Forum Kerukunan Umat Beragama dan Budaya (FKUBB) Wonosobo

Keesokan harinya kami bergegas kembali menuju SLB Dena Upakara untuk pengambilan gambar dan dokumentasi seputar kegiatan karena hari pertama kami tidak  diberi ruang oleh ketegunan dan haru biru penuh ceria dengan adik-adik SLB Dena Upakara. Setelahnya kami menuju Hotel Sindoro Sumbing untuk menemui Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama dan Budaya (FKUBB) Kab. Wonosobo, yaitu Bapak DR. H. Zaenal Sukawi, MA. ditengah-tengah kegiatannya mengisi kegiatan pelatihan untuk Kepala Sekolah se-Kab. Wonosobo. Jam makan siang beliau pun kami curi untuk melakukan diskusi dan sharing terkait peran FKUBB dalam Perayaan Toleransi dan Keragaman Budaya yang ada di Kab. Wonosobo.

“Peran FKUBB dalam merajut kesatuan warga Wonosobo bukan inisiasi tanpa bantuan pihak luar. Justru kehadiran FKUBB meruapakan hasil nyata kepedulian warga terhadap kehidupan yang nyaman dan sejuk ini. Walaupun lembaga masyarakat independen namun FKUBB merangkul semua stakeholder pemerintahan maupunn non-pemerintahan yang peduli akan perdamaian dan konsen terhadap isu yang komstruktif bukan justru destruktif.”

Setiap kali perayaan, penanggungjawab acara selalu digilir antara  FKUBB, Kodim mapun Polres Wonosobo. Pun tetap konsep tiap tahunnya mengikuti permintaan warga dan rancangan panitia. Terbentuknya rangakain prosesi kegiatan yang tertuang dalam Program Kerja FKUBB juga berkoordinasi dan bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Budaya misalnya, Elemen Pemuda Wonosobo dan Tokoh Lintas Agama serta beberapa pihak terkait lainnya.  Integrasi dan komunikasi yang dibangun menjadi modal sebenarnya bagaimana FKUBB mampu menggaet para partner Toleransi ini”

Beliau juga mengutarakan bagaimana perjalanan prosesi kebudayaan dapat menjadi alarm masyarakat untuk mengingatkan bahwa perbedaan bukan halangan untuk tidak merajut asa bersatu dalam bertetangga misalnya.

“Bahwa perbedaan bukan menjadi penghalang untuk tidak menghadiri hajatan tetangganya, penghalang untuk tidak menjenguk tetangganya jika sedang sakit. Justru perbedaan menjadi solutif permasalahan keseharian yang kini semakin kompleks. Eksistensi FKUBB menjadi langkah preventif yang hadir ditengah masyarakat Wonosobo yang majemuk ini untuk saling menguatkan dan mengingatkan akan nilai Gotong Royong sebagai nilai luhur yang harus dihidupi oleh semua warga Wonosobo tanpa memperdulikan identitas formis seperti suku dan agama yang menjadi hal yang sangat sensitif hari ini.”

Setelah berbincang dan sharing tak berapa lama, kami bergegas berpisah dengan Pak Sukawi yang akan melanjutkan pelatihan saat itu. Namun harapan pun keluar dari mulut beliau berupa,

Semoga dan doa yang menyehatkan pergerakan seperti ini (Jelajah Toleransi) mampu bertahan dan menjamur dipelosok negeri ini. Beliau sendiri berharap Wonosobo sebagai representasi Indonesia di mata dunia mampu menjadi Kiblat Kehidupan Toleransi dan meraung hingga menggugurkan isu-isu intoleran diluaran sana”, tutupnya.

Destinasi 8: Dataran Tinggi Dieng

Kunjungan kami selanjutnya ialah Dieng. Dikenal sebagai situs sejarah tertinggi setelah Nepal ini menyambut kami dengan kesejukannya pada sore hari yang biasa kami rasakan pada pagi hari buta. Sambutan 17 derajat Celcius pukul 15.30 WIB membuktikan dinginnya daerah ini. Setelah kami mendapatkan Mess di daerah Dieng, kami langsung bergegas menuju Candi Dwarawati yang tidak jauh dari mess. Dalam 15 menit perjalanan menuju candi, kami disapa oleh buah Carica. Carica yang hanya dapat di tumbuh di 1300-1500 meter diatas permukaan laut in memilki karakteristik seperti pepaya namun dengan ukuran yang lebih mungil.

Ketika sampai di Komplek Candi Dwarawati ternyata telah tutup dan kami bergegas pulang untuk beristirahat dan menyiapkan pembekalan untuk mendaki Bukit Sikunir pada waktu dinihari. Keberangkatan pukul 03.00 WIB dinihari menyegerakan kami untuk segera berangkat ke Kawasan Bukit Sikunir. Dinobatkan sebagai The Best Golden Sunrise in Asia, Bukit Sikunir bagi kami (Tim Jelajah Toleransi) merupakan kado perpisahan di penghujung penjelajahan selama berada di Wonosobo serta belajar situs sejarah Dieng menghantarkan kami kepada kepulangan untuk memberikan tanda bahwa penjelajahan Tim Jelajah Toleransi Wonosobo.

Kami pasti akan merindukan dan ingin kembali ke Wonosobo, suatu hari ini. Terimakasih, Wonosobo, The Soul of Java is so real and we can feel it!

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0