Jelajah Toleransi merupakan salah satu program hasil kerja sama antara Toleransi Indonesia, Indika Foundation, Uni Eropa dan UNDP Indonesia. Kapten Toleransi sendiri merupakan peserta Jelajah Toleransi yang disaring secara ketat dalam proses seleksi untuk seluruh mahasiswa di Indonesia. Tersaring berjumlah 50 mahasiswa terbaik yang sebelumnya telah mendapatkan Pembekalan pada prosesi Pra-Jelajah Toleransi yang diadakan pada 27 – 29 September selama 3 hari 2 malam di Wisma Kinasih Resort, Depok. Selanjutnya Kapten Toleransi disebar kepada daerah penempatan jelajah yang terdiri dari 5 kota yaitu, Pangandaran, Wonosobo, Batu, Poso dan Ambon.

Kapten Toleransi yang terdiri dari Sufratul Aini (UIN Ar-Rainy Aceh), Yohana Theresia Gea (Universitas Sriwijaya), Dini Oktaviani (UPN Veteran Jakarta), Tito Tri Kadafi (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Ahmad Syafii Nur Ilahi (Universitas Teknologi Sumbawa), M. Atalarik Syach (Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al -Banjary), Risfa Nur Aisyah (IAIN Palangkaraya), Febby Ardiatri Pasangka (Universitas Hasanuddin), Alfa Reza Dwi (UIN Alauddin Makassar)  dan  Rama Zatriya Galih Panuntun (Universitas Muhammadiyah Bandung) serta Allam Herlambang sebagai Kakak Pendamping dari perwakilan Indika Foundation.

Kehadiran Kapten Toleransi ke Wonosobo juga tidak mendadak dan langsung mengulik bagaimana keadaan daerah ini, tim juga dibantu oleh perwakilan dari Wonosobo Muda dan beberapa mahasiswa Wonosobo sebagai Panitia Lokal, yaitu Gusrina Rahayu dan Reva Yudha Prastika yang merupakan Mahasiswi Universitas Sains dan Al-Quran Wonosobo, Ade Kusnandar atau yang sering dikenal Mas Pleci merupakan Pegiat Sosial Wonosobo serta Fayed Rahman Mahendra merupakan Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman, yang juga merupakan Deputi Brand Manager Wonosobo Muda.

Wonosobo terpilih sebagai daerah destinasi Jelajah Toleransi karena dikenal sebagai salah satu daerah paling toleran di Indonesia. Wonosobo juga memiliki representasi Desa Sadar Kerukunan yang disandang oleh salah satu dusun, yaitu Dusun Giyanti yang berada di Kecamatan Kadipaten menurut penyematan Forum Kerukunan Umat Beragama dan Budaya (FKUBB) Kab.Wonosobo pada 2018. Ditengah liarnya isu intoleran yang bergulir di negeri ini membuat Tim Jelajah Toleransi menjadi penasaran dan di waktu yang sama mengagumi Wonosobo dengan bumbu apa yang sebenarnya tertinggal di daerah yang cukup sejuk ini hingga mampu meredam isu intoleran dan paparan akulturasi budaya yang semakin kencang.

Penasaran dan kekaguman tim Jelajah Toleransi pun perlahan terjawab dan terbukti dengan kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya untuk melakukan Diskusi dan Sharing Session kepada beberapa Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama dan Pegiat Budaya yang ada di Wonosobo. Juga mengunjungi beberapa Rumah Ibadah, Situs Sejarah dan Budaya yang ada Wonosobo. Peserta Jelajah Toleransi juga diajak untuk mengunjungi beberapa destinasi wisata di Wonosobo, salah satunya adalah Dataran Tinggi Dieng.

Semoga Kabupaten Wonosobo tetap menjadi barometer daerah toleran di Indonesia ya, kawan muda!

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0