Mari berkenalan dengan tokoh kita minggu ini. Namanya Aldhiana Kusumawati. Beliau adalah lulusan terbaik IPDN pada tahun 2005. Mbak Dhina, begitu beliau biasa disapa, kini aktif bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat desa di Wonosobo. Namun dibalik aktivitasnya sekarang, tidak disangka, terkandung sebuah kisah yang menarik dan inspiratif. Silahkan simak kisahnya.

mbak Aldhiana

Terlahir pada tanggal 6 Desember, 33 tahun silam sebagai anak pertama dari dua bersaudara, Mbak Dhina, tidak pernah memiliki cita-cita menjadi seorang pegawai negeri sipil. Puteri dari pasangan bapak Alimin dan ibu Sri Susanti sekaligus pemegang almamater TK Pertiwi, SD 1 Wonosobo, SMP 1 Wonosobo dan SMA 1 Wonosobo ini awalnya memiliki tiga rancangan cita-cita: menjadi dokter anak, pengajar, atau duta besar dan pekerjaan yang terkait dengan dunia internasional. Dua dari tiga mimpinya hampir tercapai, mbak Dhina sudah diterima di jurusan kedokteran Universitas Jenderal Soedirman serta jurusan sastra Inggris di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS).

Nasib berkata lain, impian mbak Dhina yang tinggal selangkah lagi terwujud tersebut batal terlaksana. Tidak lain adalah masalah biaya yang melatarbelakanginya. Meski sempat bersedih, cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan tidak kunjung padam. Berbekal semangat, mbak Dhina mendaftar di tiga sekolah kedinasan: STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik) dan STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri). Beruntung, mbak Dhina akhirnya diterima di STPDN.

Hari-hari awalnya di IPDN (dulu STPDN) dilalui tanpa semangat, penyesalan telah melepas peluang menjadi dokter dan pengajar, serta melihat kondisi sekolahnya yang tidak sesuai dengan harapan menjadi alasannya. Akan tetapi, pada satu titik, keprihatinan atas kondisi yang ada di sekitarnya membuat dara cantik berjilbab ini berbalik arah dan berjuang menjadi yang terbaik di sekolahnya. “ Tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menjadi sesuatu yang berharga untuk kedua kalinya” adalah kata-kata yang ia pegang kuat ketika itu. Semangat itulah yang akhirnya mengantarkannya menjadi lulusan terbaik, empat tahun sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya.

Selepas menyelesaikan pendidikan IPDN pada tahun 2005, mbak Dhina ditempatkan sebagai pegawai negeri sipil di Wonosobo. Berawal dengan bekerja pada Badan Kepegawaian Daerah dan menjadi ajudan Bupati, pada tahun 2007, cita-citanya untuk pindah di instansi yang menangani tentang desa dapat dicapainya. Penempatannya kali ini merupakan wujud dari minatnya untuk dapat memberdayakan desa. Profesinya sebagai PNS membuat mbak Dhina menyadari adanya beberapa regulasi yang kadang kurang implementatif untuk desa. Selain itu, Desa juga sering dianggap minor oleh supra desanya. Ia menyadari, banyak desa  masih terkungkung dalam perspektif yang sempit. Bukan hanya karena faktor geografi dan keterbatasan akses terhadap informasi, melainkan juga disebabkan oleh perlakukan supra desa yang cenderung membuat desa tidak mandiri. Pengalaman-pengalaman inilah yang mendorong mbak Dhina untuk dapat lebih memajukan desa-desa di Wonosobo.

Baginya, selama bergelut dengan pengembangan desa, pencapaian terbaik yang telah ia peroleh adalah ketika mampu merubah program pengembangan desa yang awalnya menggunakan pendekatan berbasis masalah (defisit based approach), menjadi pendekatan berdasarkan kekuatan sendiri (strength based approach). Awalnya,ketika menggunakan defisit based approach, vonis terhadap permasalahan desa, serta jawaban bagi permasalahan tersebut diserahkan sepenuhnya kepada supra desa. Hal ini menjadikan masyarakat desa cendering pasif, karena hanya menunggu datangnya program yang dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah mereka. Pendekatan ini juga membuat masyarakat lebih terfokus untuk mengeluhkan permasalahan mereka saja, ketimbang menyadari kekuatan yang mereka miliki untuk menyelesaikan masalahnya. Bersama teman-temanya, pada tahun 2013 mbak Dhina mencoba mengembangkan pendekatan yang lain, yaitu pendekatan berbasis kekuatan sendiri. Dengan pendekatan ini, desa diajak untuk mengenal potensinya dan membangun mimpi masing-masing desa. Meskipun lebih menguras tenaga, nyatanya pendekatan ini mampu mengakrabkan masyarakat desa dengan kekompakan dan kepedulian masing-masing untuk membangun desanya.

Pencapaian ini membawa sebuah perenungan tersendiri bagi diri mbak Dhina. Sebagai seorang PNS, adalah sebuah pilihan untuk bekerja berdasarkan ketentuan, atau mau melakukan perubahan. Sebuah perenungan yang juga ia sadari ketika awal masuk di IPDN, untuk sekedar menyelesaikan pendidikannya, atau berusaha menjadi yang terbaik dan  bermakna. Dan ia sadari, kemauannya untuk terus maju, dulu dan kini, menjadikan dirinya seorang Aldhiana yang sekarang, yang mau bekerja keras, dan bahagia dengan hasil kerja kerasnya tersebut.

Minatnya di bidang pengembangan desa juga memberikannya kesempatan mencicipi pendidikan di Jerman selama satu tahun. Pada tahun 2010-2011, sebuah NGO (Non Government Organization) asal Jerman yang bekerja sama dengan pemerintah Wonosobo di bidang capacity building untuk desa merekomendasikannya untuk mengikuti International Leadership Training. Di sana, ia belajar tentang ilmu terapan pengembangan ekonomi daerah, dan juga berkesempatan pula untuk  mewujudkan mimpinya bekerja dalam lingkup internasional, dengan magang di Baden Wuerttemberg International di Stuttgart, Jerman.

Bagi teman-teman Wonosobo, mbak Dhina berpesan untuk jangan pernah takut berbeda dalam berkreasi dan berinovasi, karena permasalahan di depan mata sering membutuhkan kreativitas lebih untuk menyelesaikannya. Selain itu, mbak Dhina juga berpesan agar kita terus memperkaya perspektif kita. Hidup di Wonosobo tidak berarti mengungkung kemampuan kita dengan menutup diri dari pengetahuan dari luar. Baginya, agar perspektif kita lebih kaya, belajar memang harus sampai negeri Cina, atau negeri manapun, sehingga nantinya kita dapat menjadi orang yang lebih kaya ilmu dan berguna.

Bagi Wonosobo muda sendiri, mbak Dhina berpesan untuk terus berkaya, dan mewujudkan tantangan yang sempat diberikan oleh mbak Dhina pribadi, yaitu untuk dapat berkiprah hingga ke desa. Keep rock and prolific!

Maka, hari ini, kembali kita bisa membaca sebuah kisah mencengangkan dari sahabat Wonosobo kita. Mbak Dhina telah membuat kita sadar bahwa pelangi benar-benar muncul setelah hujan. Meskipun gagal menjadi dokter, mbak Dhina telah membuktikan bahwa profesi yang ia geluti sekarang-pun nyatanya dapat berguna bagi banyak orang. Dan seperti pelangi yang terbit dalam hidup mbak Dhina, pelangi yang sama akan menjelma bagi hidup masyarakat di desa-desa di Wonosobo, melalui semangat dan kerja keras yang mbak Dhina tujukan bagi mereka. Tetap semangat mbak Dhina!

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0