Rubrik Bekerja dan Karir kali ini akan membahas profesi yang sudah sangat akrab dengan kita. Karena pengabdiannya, mereka yang menggeluti profesi ini disebut dengan sebutan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Yap, kali ini Wonosobo Muda akan menghadirkan profil seorang guru Bahasa Jawa di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Wonosobo. Nama lengkapnya Anisah Rokhimatulkhair Atmajaningtyas, kalau kamu susah mengejanya, cukup panggil dia Bu Tyas, hehe.

 

Kenapa bisa jadi guru?

Bagi Tyas, guru bukanlah profesi semata. Lebih dari itu, menjadi seorang guru adalah sarana baginya untuk mempersiapkan bekal akhirat. Kepuasan atas pencapaiannya dalam pekerjaan ini pun berbeda dari pekerjaan lain.

“Awalnya saya hanya mengikuti saran dari orang tua saya untuk menjadi guru. Sepertinya guru menjadi pilihan pekerjaan yang tepat untuk saya. Selain masa depan yang menjanjikan, pekerjaan ini adalah pekerjaan yang dipandang terhormat dalam masyarakat. Pekerjaan ini tidak melulu mengejar duniawi melainkan diimbangi dengan kehidupan di akhirat yang dapat dicapai dengan menekuninya. Kepuasan yang paling mahal dalam pekerjaan ini adalah kita benar-benar merasa bahagia ketika melihat siswa kita berhasil.”

Apa sih asyiknya jadi guru?

Menjadi guru adalah pekerjaan yang menyenangkan bagi Tyas karena setiap hari ia bertemu dengan generasi muda yang penuh semangat. Semangat dan jiwa muda mereka seolah tersalurkan pula padanya. Tingkah mereka yang polos dan konyol tak jarang membuat Tyas merasa terhibur.

“Apalagi cinta tulus yang ia dapatkan dari anak-anak, itu adalah transfer energi yang mungkin tak bisa didapatkan di sembarang tempat kerja,” katanya.

Apakah ada tantangan dan kesulitan dalam pekerjaan ini?

“Tantangan yang saya alami adalah masalah pengondisian beberapa kelas yang berisi siswa laki-laki seluruhnya dan cenderung memiliki motivasi belajar yang rendah. Pengondisian pada kelas semacam ini membutuhkan trik khusus, apalagi saya, sebagai guru wanita, merasa cukup kewalahan untuk mengendalikan mereka. Ditambah lagi dengan aturan kurikulum yang membagi jam pelajaran 10 jam setiap harinya atau jam 07.00-15.30 dan menetapkan 6 hari kerja. Hal tersebut memicu kejenuhan dan kelelahan siswa sehingga mereka tidak mampu berkonsentrasi pada pelajaran. Dalam mengatasi masalah ini saya menjadikan diri saya lebih tegas dan berani untuk memberikan punishment (hukuman) pada beberapa siswa yang melanggar peraturan maupun menganggu jalannya kegiatan belajar dan mengajar. Tak jarang juga saya memberikan reward sebagai bentuk penghargaan pada siswa yang telah mematuhi aturan dan melakukan tugasnya dengan baik. Harapan saya hal ini akan memotivasi siswa untuk belajar dengan giat.” Jelas Tyas.

Skill apakah yang dibutuhkan untuk menjadi seorang guru?

Bukan rahasia lagi, berbicara di depan umum adalah keseharian bagi seorang guru. Guru harus menjelaskan materi pelajaran kepada muridnya dengan komunikatif sehingga para murid bisa memahami materi pelajaran yang diperlukan. Selain itu, murid yang bosan ketika jam pelajaran berlangsung lama perlu dibangkitkan lagi semangat belajarnya. Begitu pula yang Tyas paparkan, “Skill yang diperlukan adalah berbicara di depan umum. Kemampuan ini sangat membantu guru untuk mengendalikan siswanya dan memotivasi mereka untuk belajar lebih giat.”

Nah, teman-teman, ternyata tidak mudah ya menjadi seorang guru. Bukan perkara mudah membangkitkan minat dan semangat belajar para siswa. Namun, jangan menyerah, Bu Tyas dan guru-guru yang lain. Kesabaran Anda sekalian pasti akan berbuah manis, terbayar lunas oleh prestasi siswa-siswi di masa mendatang. Tetap semangat mendidik tunas-tunas bangsa ya, Bu, Pak!

Bagi teman-teman yang ingin jadi guru, jangan berkecil hati. Setiap pekerjaan mulia memang selalu berhadapan dengan tantangan, karena menciptakan hal-hal yang baik bukanlah perkara yang mudah. Jangan menyerah ya!

(Shinta)

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0