Halo! Kali ini kita akan mengetahui lebih dalam kisah inspirasi dari Rury Luberty. Perempuan kelahiran asli Wonosobo, yang lahir 3 Juni 1992 ini merupakan lulusan sarjana Sastra Belanda Universitas Indonesia, yang saat ini berprofesi sebagai pengajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Anak ketiga dari 6 bersaudara  yang memiliki hobi memasak, membaca dan crafting ini sangat menyukai pengalamannya dalam berkenalan dengan mahasiswa dari luar negeri. Hal ini terbukti dari pengalamannya sebagai UI Student Ambassador Tohoku University Short Course Programme (2015), UI Student Ambassador US-Indonesia Partnership Programme (2015) dan UI Student Ambassador ASEAN University Network Assesment  (2014)

Saat ini, Rury sedang ditugasi oleh Pusat Pengembangan Strategi dan DIplomasi Kebahasaan (PPSDK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menyandang peran sebagai Duta Bahasa Negara. Sebagai Duta Bahasa Negara, Rury bertanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan diplomasi kebahasaan melalui pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) dan kegiatan diplomasi kebahasaan lainnya di mancanegara.  Hal ini berupakan bagian dari upaya Pemerintah RI untuk meningkatkan fungsi bahasa Indonesia di kancah internasional.

Tak selamanya mulus, Rury bercerita bahwa awalnya, dia sempat gagal mengikuti seleksi masuk ke perguruan tinggi.
“Dulu saya mendaftar kampus hanya dengan mengikuti tren jurusan-jurusan yang terkenal dan “dianggap bagus dan prestise” tanpa mempertimbangkan apa yang sebenar-benarnya menarik dan sesuai passion saya. Karena gagal masuk kuliah di tahun 2010, saya mengisi gap year saya dengan mengikuti kursus persiapan masuk ke perguruan tinggi. Selama mengikuti kursus itu, saya menyadari bahwa saya memiliki ketertarikan tinggi terhadap bahasa, khususnya bahasa asing. Sehingga pada saat pendaftaran kampus dibuka pada tahun 2011, saya menempatkan Sastra Belanda UI sebagai pilihan pertama saya dalam SNMPTN. Alhamdulillah atas izin Allah saya akhirnya diterima di jurusan tersebut. Kenapa Sastra Belanda? Karena dulu saya berpikir saya ingin mempelajari bahasa asing yang jarang orang Indonesia kuasai dan saya menimbang Indonesia dan Belanda memiliki hubungan sejarah yang panjang.”

Pilihan jurusan yang “lain daripada yang lain” ini menimbulkan cukup banyaknya komentar negatif seperti “Mau jadi apa itu sastra belanda, “Anak sastra mau jadi apa?” “Besok kalau sudah lulus bisa bekerja di mana?” “Kenapa pilih jurusan yang aneh?” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak dapat dipungkiri kadang-kadang membuatnya merasa rendah diri dan down. Meskipun demikian, Rury tetap berpengang teguh pada motivasinya berjuang di Sastra Belanda, yaitu beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah Belanda untuk mahasiswa-mahasiswa pemelajar bahasa Belanda di seluruh dunia.

“Tujuan saya semenjak masuk kuliah di semester satu adalah mendapatkan beasiswa tersebut yang biasanya didapatkan pada semester kelima. Proses seleksi penerima beasiswa adalah dengan menggunakan nilai dari semester 1-4 dan sertifikat keikutertaan summer course yang diadakan sepanjang musim panas di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Sertifikat itu bisa didapatkan jika saya dan peserta lain mengikuti sekitar 85% dari total sesi saat kursus. Pada saat itu, saya merasa percaya diri saya mampu mendapatkan beasiswa tersebut karena dulu saya menganggap nilai-nilai saya mencukupi. Namun, ternyata takdir meminta saya untuk tidak terlalu congkak. Saya tidak bisa mendapatkan sertifikat kehadiran tersebut karena pada suatu pagi saya terjebak macet di jalanan ibukota setelah melalui perjalanan malam dari kampung halaman, Wonosobo.  Jadi, karena kekurangan dokumen itulah nama saya yang tadinya memang ada di daftar penerima beasiswa harus diturunkan.”

“Pada saat itu saya sangat kecewa karena motivasi saya berkuliah di jurusan itu adalah beasiswa itu. Bahkan sampai saya lulus, sampai bekerja, kadang-kadang saya masih sering berandai-andai “coba aja waktu itu enggak kejebak macet..” dan lain-lain. Namun, akhirnya saya sadar yang paling penting itu usaha dalam mengatasi kekecewaan itu dengan bekerja keras. Jadi, walaupun tidak meperoleh beasiswa itu, saya tetap ingin membuktikan bahwa “anak sastra” ini benar-benar serius ingin mendalami bidang ini dan mengubah prejudice masyarakat (apalagi orang tua/Gen X) bahwa anak sastra itu “susah kerjanya” atau “anak sastra mau jadi apa”.”

Kegagalannya mengikuti seleksi beasiswa tersebut, berhasil ditanggulangi oleh rasa kecintaan dan kesukaannya terhadap bahasa yang kemudian mendorongnya untuk berusaha menjadi pengajar bahasa/linguistik di kampus. Pada saat lulus pada tahun 2015 sebetulnya beberapa dosen merekomendasikan Rury untuk mendaftar menjadi asisten dosen di jurusan, namun pada saat itu ada peraturan baru untuk asisten dosen minimal S2. Ketika itu pilihan yang Rury miliki bukanlah langsung melanjutkan S2 agar bisa melanjutkan proses Rury menjadi asdos, karena Rury ingin mandiri secara finansial terlebih dahulu. Maka, proses Rury menjadi asdos di jurusan pun terhenti. Meskipun begitu, keinginan Rury untuk bekerja di bidang bahasa secara akademik tidak ikut terhenti. Dan qadarullah, ada kawannya yang memberi info bahwa program BIPA di Lembaga Bahasa Internasional Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI (LBI FIB UI) sedang mencari pengajar sehingga Rury memutuskan untuk mendaftar untuk mengajar di situ. Alhamdulillah setelah terjun di dunia ke-BIPA-an justru rasa cinta Rury terhadap bahasa, terlebih bahasa sendiri semakin besar.

Seperti pengajar di bidang apa pun, yang Rurykerjakan setiap hari yaitu menyiapkan bahan ajar, merancang rencana pengajaran, dan lain-lain. Kegiatan itu Rury lakukan baik ketika menjadi pengajar BIPA di UI maupun sebagai Duta Bahasa Negara sekarang di Bangkok. Bedanya, kewajiban Rury saat ini ditambah dengan kewajiban merancang dan melakukan program diplomasi kebahasaan. Dalam konteks kebahasaan juga termasuk di dalamnya budaya dan kebudayaan Indonesia. Jadi Rury dituntut untuk menyebarkan kebudayaan Indonesia juga kepada orang asing. Selain itu, di Bangkok Ruryditugasi untuk menjajaki kemungkinan-kemungkinan kerja sama institusi-institusi, seperti sekolah dan universitas untuk mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia.

Pengalaman susah senangnya? Susahnya, kadang-kadang masih menerima komen dari orang Indonesia begini: “Ngapain ngajari bule bahasa Indo? Orang Indo aja susah cari kerjaan ini nanti lapangan kerjaan kita diambil mereka.” Hehe. Kalau kesulitan secara teknis pengajaran tentu saja ada, apalagi jika mengajar di kelas homogen yang tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Kalau senangnya, pasti sama dengan guru-guru yang lain: ketika orang yang kita ajari bisa dengan fasih mempraktikkan apa yang kita ajarkan. Apalagi kalau kelas bahasa, kemampuan pemelajar akan langsung bisa kita ukur dengan interaksi langsung dengan mereka. Selain itu, Rury juga senang karena dengan mengajar banyak orang asing dari berbagai latar belakang negara, bangsa, ras, agama, budaya, dll, maka diamerasa hal itu bisa memperkaya dirinya. 

Bekerja di dalam lingkungan KBRI Thailand, menurut Rury rasanya seperti bekerja di “Indonesia”nya Bangkok, maka sejauh ini dia tidak begitu merasa sedang bekerja di luar negeri. Bekerja di KBRI,  rasanya mirip-mirip dengan atmosfer bekerja di kantor pemerintahan lain di Indonesia. Walaupun begitu, tentu atmosfer bekerja yang seperti ini sangat baru dan menantang baginya yang dulunya sehari-hari bekerja di lingkungan kampus yang cenderung lebih santai. Walaupun pada awalnya Rury cukup merasa kesulitan juga, namun alhamdulillah dia bisa menyesuaikan diri dengan cukup baik.

Mungkin siapa saja yang bekerja di KBRI sepakat bahwa mereka baru merasa sedang berada di luar negeri begitu kaki melangkah keluar dari pagar KBRI. Di sinilah mulai sedikit terasa suasana bekerja di luar negerinya. Ketika bertemu dengan counterpart-counterpart KBRI dan orang-orang Thailand lain, Rury baru merasakan kemahiran berdiplomasi Rury diuji. Kegiatan diplomasi tentu merupakan hal yang baru baginya. Sebelum berangkat ke sini Rury diajari etika-etika diplomasi. Setelah tiba di sini Rury juga secara langsung diajari bagaimana cara berbicara dan bersikap di depan para counterpart, bagaimana menjaga dan membangun hubungan kerja sama dengan institusi-intitusi di Thailand (terutama dalam bidang pendidikan) dan lain-lain.

Hidup di lingkungan dengan budaya yang berbeda memberikan pengalaman menarik bagi Rury.  Baginya, hidup di luar negeri  menjadikannya lebih “kaya” dalam hal wawasan, pengetahuan, dan kedewasaan diri. Sendiri merantau tanpa tahu seorang pun di sini, tidak ada keluarga ataupun kenalan, membuat Rury bisa menjadi pribadi menjadi lebih kuat dan mandiri.

Dengan melihat budaya lain kita bisa jadi bisa belajar banyak hal. Di Thailand, bagi Rury yang paling mencolok adalah jiwa nasionalisme mereka. Di sana, mereka sangat menghormati keluarga kerajaan. Di mana saja ada foto anggota kerajaan, mereka akan menanggukkan kepala seraya menelungkupkan kedua tangan di depan dada. Selain itu, setiap jam 18.00 akan diputar lagu kebangsaan Thailand. Di perkantoran, di mal, di pasar, dll. Selain itu, yang menarik, jika kita menonton film di bioskop maka sebelum film mulai kita dan para penonton film diminta untuk berdiri sejenak karena akan diputar lagu kebangsaan dan film pendek tentang kerajaan Thailand.

Kebetulan selain mengajar di KBRI, selama di Thailand Rury juga berkesempatan untuk mengajar bahasa Indonesia secara suka rela kepada komunitas keturunan Jawa di Bangkok. Ia mengajar setiap hari minggu di masjid dengan nama Masjid Jawa. Kebanyakan yang mengikuti kelas bahasa Indonesia di sana adalah keturunan ketiga/keempat suku Jawa yang datang ke Thailand pada abad ke-19, sehingga kebanyakan yang diajar adalah usia 40 ke atas. Bahkan, ada beberapa peserta yang berumur di atas 80 tahun. Bagi Rury, banyaak sekali energi positif yang ia dapatkan ketika mengajar mereka, seperti semangat mereka dalam belajar bahasa baru dan dalam berusaha memahami budaya nenek moyangnya. Rasanya keren sekali, dengan usia yang tidak lagi muda namun tetap semangat untuk mempelajari hal-hal yang baru. Rury jadi benar-benar sadar, bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar hal-hal yang baru.

Sebagai generasi muda, tentu kita tidak boleh kalah dengan semangat mereka ya.  Dengan tuntutan globalisasi yang ada, menguasai bahasa asing itu salah satu cara untuk siap menghadapi masa depan, untuk menggapai mimpi, dll. Karena dengan bisa belajar bahasa asing kita bisa apa yang bisa kita akses, kita serap, kita buat, dan kita lakukan itu menjadi lebih luas. Kesempatan yang ada untuk kita juga semakin luas. Jadi, bukan hanya orang asing saja yang semangat belajar bahasa kita, tapi kita juga semangat belajar bahasa mereka. Meskipun demikian, jangan lupa pula dengan budaya dan Bahasa kita sendiri. Kalau menurut slogan Badan Bahasa Kemdikbud, yang paling penting itu begini: Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.

Dengan segala pencapaian yang sudah diraihnya, Rury masih terus menargetkan untuk mengembangkan BIPA di Indonesia. Apalagi di Indonesia BIPA itu suatu ilmu yang masih sangat muda. Secara umum, tentu saja Rury ingin negara Indonesia yang makmur dan sejahtera rakyatnya, menjadi rumah yang mengayomi dan melindungi rakyatnya dan lain-lain. Rakyat Indonesia pun juga menjadi rakyat yang berkualitas tinggi dan mampu bersaing dengan masyarakat internasional. Begitu pun dengan Wonosobo. Rury ingin Wonosobo menjadi tempat yang memberikan penghidupan yang baik kepada rakyatnya, Dengan cita-cita umum seperti itu, memang langkah yang paling baik dan efektif adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas dimulai dari diri sendiri, lembaga terkecil seperti keluarga ataupun komunitas.

Menarik ya melihat pengalaman Rury sebagai duta Bahasa  Tidak segan-segan Rury juga membagi pesan bagi teman-teman yang ingin mengejar cita-citanya. Fokus pada tujuan yang ingin dicapai dan Jangan biarkan pihak-pihak selain dirimu sendiri mematahkan mimpi itu.Maksimalkan potensi diri, bekali dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Banyak-banyak riset tentang peluang dan tantangan di masa depan dan siapin diri untuk itu. Dan bagi teman-teman di Wonosobo, Rury berpesan untuk jangan pernah berkecil hati atas kondisi yang ada. Boleh jadi kita berasal dari “kampung”. Boleh jadi kita berasal dari kabupaten yang katanya termiskin di Jawa Tengah, tapi buktikan bahwa kualitas kita juga nggak kalah, jauh nggak kalah dari mereka-mereka yang berasal dari kota. Tetap utamakan pendidikan, karena pendidikan itu “paspor” untuk masa depan.

Rury juga menitipkan sedikit salam semangat bagi Wonosobo Muda: ”Tetap berjuang dan istiqamah dalam membangun Wonosobo.” Terima kasih untuk seluruh kontribusimu selama ini, Rury, Wonosobo Muda senang sekali berkenalan dengan semangatmu!

DI akhir perbincangan ini, Rury menggarisbawahi pentingnya memahami bahwa kesuksesan adalah keputusan kita sendiri, dan tidak didasarkan pada apa yang orang katakan. Jadi terserah orang mau bilang apa, yang menentukan kesuksesanmu itu usaha dan tekadmu sendiri. Boleh jadi apa yang sedang kamu kerjakan ini mendapatkan cibiran, dll, tapi yang tahu seberapa besar perjuanganmu itu dirimu sendiri. Tuhan tidak pernah salah memberi rezeki, baik itu rezeki yang meminta kita untuk bersabar, maupun rezeki yang membuat kita bersyukur. 

Tautan-tautan:

https://atdikbudbangkok.org/berita-atdikbud/2019/09/06/komunitas-jawa-di-bangkok-menjaga-akar-budaya-leluhur-dengan-belajar-bahasa-indonesia/

https://atdikbudbangkok.org/berita-atdikbud/2019/05/28/ketika-warga-thailand-berlomba-pidato-dan-bercerita-dalam-bahasa-indonesia/

https://atdikbudbangkok.org/berita-atdikbud/2019/08/21/pembekalan-penerima-beasiswa-darmasiswa-dan-pemenang-lomba-berpidato-dan-bercerita-bahasa-indonesia/

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0