Ternyata dinginnya Wonosobo belum seberapa dibanding dengan musim dingin di Eropa. Itu lah yang sekarang dirasakan Ayu Swaningrum, anak sulung dari tiga bersaudara, pasangan Bapak Suprapto dan Ibu Utami. yang saat ini tengah menempuh beasiswa pendidikan S3 di Universitas Leiden, Belanda.

Kali ini saya berkesempatan untuk menuliskan kisah hidup dan perjuangan sosok perempuan inspiratif asal Mojotengah ini dalam menggapai cita-citanya menjadi seorang dosen, hingga meraih beasiswa pendidikan S3 di Negeri Kincir Angin. Kalau begitu langsung saja simak cerita selengkapnya dibawah ini. Selamat membaca!

Berawal dari cita-cita ingin menjadi dosen, hingga mendapat beasiswa S3 Belanda

Selesai menempuh pendidikan S1 di Universitas Padjadjaran, Mbak Ayu bercita-cita ingin menjadi dosen. Namun syarat untuk menjadi dosen haruslah memiliki ijazah minimal S2, tahu bahwa biaya pendidikan S2 tidaklah murah, apalagi bagi Mbak Ayu, yang saat itu keluarganya sedang mengalami kebangkrutan. Namun hal tersebut tidaklah menyurutkan semangat dalam menggapai cita-citanya tersebut, kemudian beliau memutuskan untuk bekerja apa saja, mengumpulkan uang untuk membiayai pendidikan S2-nya. Sampai pada suatu waktu seorang teman memberikan informasi beasiswa S2 di Universitas Padjajaran dan beliau pun berhasil mendapatkan beasiswa tersebut. Selama 2,5 tahun dia menyelesaikan pendidikan S2-nya sembari bekerja sebagai asisten dosen, guru privat dan konsultan. Selepas menyelesaikan studi S2, cita-cita Mbak Ayu menjadi dosen terwujud, sebagai dosen tidak tetap di Universitas Padjajaran.

Kesempatan untuk menempuh jenjang pendidikan S3 pun datang. Singkat cerita, Unpad tempat beliau mengadu nasib sebagai dosen, ternyata memiliki kerjasama dengan Universitas Leiden. Kesempatan itu pun tidak di sia-siakan, beliau diberi waktu untuk membuat proposal penelitian terkait etnoekonomi (sebuah ilmu yang menggabungkan antara ekonomi, antropologi, sosiologi, juga sedikit psikologi dan sejarah) yang kemudian akan diteliti apakah layak untuk diterima di Universitas Leiden.

Beliau mengambil tema penelitian mengenai Jimpitan, karena menurutnya Jimpitan sebagai institusi lokal memiliki peran penting dalam mendukung program pemerintah dalam pengentasan kemiskinan.

“Think globally, act locally; sebuah prinsip yang menjadi landasan saya dalam membuat penelitian tersebut. Walaupun cakupan jimpitan adalah tingkat local (komunitas), namun semenjak adanya gobalisasi, satu wilayah dengan wilayah lainnya akan saling terkait dan berhubungan. Kearifan local yang dimiliki bangsa sebenarnya memiliki potensi untuk mendukung pembangunan yang berkesinambungan, pembangunan yang hasilnya dapat dinikmati tidak hanya satu generasi, namun juga oleh beberapa generasi berikutnya.”

Berlandasan pemikiran tersebut, akhirnya surat penerimaan (LoA: Letter of Acceptance) dari Leiden Universiteit pun beliau dapatkan beberapa bulan setelahnya. Berbekal LoA dari Universitas Leiden, beliau mengajukan lamaran untuk mendapatkan beasiswa LPDP, yang beberapa bulan kemudian juga beliau dapatkan. Berangkatlah Mbak Ayu ke Leiden, Belanda, pada 15 Februari 2016.   

Mendapat wadah untuk menyalurkan hobi menyanyi melalui grup bernyanyi Leidsche 1922

Selain tengah melanjutkan studi S3-nya di Belanda, Mbak Ayu juga masih sering menekuni hobinya semenjak kecil yaitu menyanyi. Beliau saat ini tergabung dalam perkumpulan orang Indonesia di Leiden yang terdiri dari mahasiswa dan orang Indonesia yang sudah tinggal lama di Leiden, yang hobi menyanyikan lagu keroncong/lagu lawas. Grup bernyanyi ini bernama Leidsche 1922. Biasanya beliau dan teman-teman di grup Leidsche 1922 tampil dalam acara mahasiswa Indonesia di Belanda yang diadakan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) atau oleh pihak KBRI di Belanda. Dan beberapa rekaman pementasan grup ini pun sudah diabadikan dan dapat ditonton sobat muda di channel youtube Leidsche 1922. 

Cerita paling berkesan selama tinggal di Belanda

Mbak Ayu mempunyai beberapa cerita yang menurutnya paling berkesan selama tinggal di Belanda. Salah satunya adalah dapat berjalan di atas kanal yang membeku pada tahun 2017 yang pada saat itu suhunya mencapai kurang lebih minus 12˚-20˚, Kanal membeku tidak di setiap musim dingin, tetapi bisa terjadi ketika ada suhu ekstrim selama minimal 3 hari berturut-turut maka kanal dipastikan akan membeku. Menurut beliau selama hampir 4 tahun tinggal di Belanda beliau hanya sekali melihat kanal yang membeku.

Selain bercerita tentang kanal yang membeku, cerita lain yang membuat beliau terkesan adalah bertemu dengan perkumpulan orang Indonesia di Belanda, dimana beliau dapat mengenal beberapa orang eksil (berasal dari kata exile, yang artinya pengasingan) yang dahulu nya adalah mahasiswa Indonesia zaman Soeharto yang kemudian harus meninggalkan Indonesia dengan terpaksa karena dianggap tergabung dalam organisasi terlarang. Berkat perkumpulan tersebut, Mbak Ayu berkata bahwa beliau makin melek akan sejarah, Ditambah lagi, kota Leiden memang bersejarah dalam hal pendirian PPI (Perhimpunan pelajar Indonesia), dimana pada tahun 1922, Wakil Presiden pertama Indonesia, Mohammad Hatta mendirikan PI (Perhimpunan Indonesia) untuk pertama kalinya.

Do’a, usaha, sedekah dan bersikap baik kepada orang tua terutama ibu, adalah kunci

Beruntunglah bagi kalian yang membaca artikel ini karena Mbak Ayu mengungkap rahasianya dibalik keberhasilannya mendapatkan beasiswa S3 saat ini, keinginan beliau tercapai tidaklah lepas dari do’a yang tak pernah putus, usaha tak kenal lelah, bersedekah dan restu dari kedua orangtuanya dengan bersikap baik terutama kepada Ibu

       “Untuk mencapai cita-cita yang kita inginkan, jangan putus asa bila kondisi finansial tidak memungkinkan, akan selalu ada jalan. Gabungan antara usaha, doa, sedekah, bersikap baik kepada orang tua terutama ibu, adalah hal-hal yang perlu ada dalam setiap pencapaian. Oh iya, berbanggalah dengan bahasa yang kita miliki. Terutama bahasa Kromo Inggil, karena rupanya bahasa ini mencerminkan kebudyaan kita yang memiliki budi pekerti yang luhur. Mari lestarikan bahasa Jawa, baik itu ngoko ataupun kromo. Juga, pertanian Wonosobo. Tetap harus ada. Doakan agar penelitian saya ada manfaatnya bagi perkembangan kota Wonosobo”

Selain menyampaikan pesan untuk pemuda Wonosobo, Mbak Ayu juga memiliki harapan untuk kota Wonosobo agar kedepan bisa lebih banyak memberikan kesempatan para pemuda untuk berkarya (bekerja, meraih pendidikan, dsb) sesuai dengan keinginan dan pasion mereka, juga memiliki harapan agar Wonosobo memiliki lahan pertanian yang makin subur (karena itu kunci pokok dalam kehidupan masyarakat) dengan pengelolaan bidang pertanian yang tepat, dan yang terakhir Wonosobo tetap menjadi kota yang ramah HAM, masyarakat makin akur dengan menjunjung tinggi toleransi apapun latar belakangnya. (pendidikan, agama, finansial, dsb)

Sekiranya itu sedikit cerita yang bisa saya sampaikan dari kisah hidup inspiratif Mbak Ayu Swaningrum, semoga bisa bermanfaat dan mampu menginspirasi kawan muda dalam menggapai cita-cita yang diinginkan. Hal menarik yang saya dapatkan selain yang telah diterangkan diatas, bahwa ternyata suatu hal yang sebenarnya kita anggap tidak seberapa, bisa menjadi luar biasa, jika kita melakukannya dengan sepenuh hati dan bersungguh-sungguh. Seperti yang dialami Mbak Ayu, ketertarikan beliau mengambil tema penelitian tentang “Jimpitan”, kearifan lokal yang bagi kita mungkin terlihat sederhana, ternyata memiliki nilai lebih dimata orang luar negeri. Berbanggalah menjadi bangsa Indonesia dengan segala keanekaragaman suku, budaya, agama ras dan antar golongan. Karena perbedaan itu lah yang menjadi keunikan sekaligus merupakan potensi bagi kita agar kedepan menjadi bangsa yang lebih besar dan maju dalam segala aspek.

Oleh : Alam Iqbal Assagaf

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0