Saya melihat post Instagram tentang donasi bibit pohon pakan lutung jawa (disebut juga sebagai lutung budeng, Tracypithecus auratus ) di Gunung Bismo dan Gunung Prau. Beberapa bulan sebelumnya, saya melihat video perjumpaan seseorang dengan lutung jawa di Gunung Bismo. Saya takjub, ternyata masih ada satwa itu di hutan-hutan alam yang tersisa di Wonosobo. Mungkin pernyataan saya di atas menunjukkan bahwa saya kurang jauh mainnya di daerah saya sendiri. Namun poin saya bukan itu. Ini tentang pengetahuan kita sebagai masyarakat Wonosobo tentang sumberdaya yang kita miliki dalam hal ini pada aspek kehutanan.

Wonosobo, berdasar data BPS pada tahun 2016, memiliki wilayah dengan tutupan hutan seluas 20.614 Ha berupa hutan rakyat dan 18.445 Ha berupa hutan negara (termasuk 4.255 Ha hutan lindung) dari total lahan seluas 98.468 Ha. Dengan kata lain hampir 40% luas lahan di Wonosobo berupa hutan. Hutan tanaman maupun hutan alam yang tersisa ini mempunyai nilai konservasi yang penting apalagi dengan fakta bahwa tutupan hutan di Jawa yang kurang lebih tersisa 10% dari luas pulau dan  masih adanya lutung jawa yang menunjukkan bahwa hutan lindung di Gunung Prau dan Bismo  masih berkondisi baik.

Saya berselancar di internet dengan kata kunci penelitian seputar keanekaragaman hayati di Wonosobo, terutama di hutan-hutan lindungnya, ternyata hasilnya sangat sedikit. Saya berkesimpulan bahwa penelitian mengenai keanekaragaman hayati, keanekaragaman jenis flora, fauna dan ekosistem, di Wonosobo masih minim atau jarang dipublikasikan.

Mengapa kita perlu mengetahui potensi hutan Wonosobo dengan keanekaragaman hayatinya?  Wonosobo dan hutannya merupakan penyangga daerah di bawahnya. Topografi berupa pegunungan, perbukitan, dan hampir sepertiga wilayah merupakan lahan kategori curam-sangat curam  merupakan daerah tangkapan air yang penting.  Beberapa sungai besar seperti Serayu, Opak-Oyo, Luk Ulo dan Bogowonto berhulu dari balik pegunungan dan perbukitan ini dan menjadi semakin penting apalagi terdapat penelitian bahwa Jawa akan mengalami kehilangan banyak sumber  air bersih pada tahun 2030.

Mengalokasikan lahan dengan tutupan hutan menjadi wajib hukumnya di Wonosobo.  Hal ini juga untuk menghindari bancana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor. Kita pasti kerap mengetahui berita tentang longsor di berbagai wilayah di Wonosobo setiap musim hujan datang. Bencana ini dapat dihindari ketika ekosistem memiliki kondisi yang baik.

Keanekaragaman hayati diperlukan untuk menjaga kesehatan ekosistem. Kualitas hidup manusia berjalan seiring dengan ekosistem yang stabil dan sehat artinya kualitas ekosistem baik maka kualitas hidup manusia juga akan baik. Hal ini karena manusia sebenarnya merupakan bagian dari ekosistem itu sendiri, bagian dari alam dan tidak dapat lepas darinya. Misalnya dalam hal lutung jawa, ia merupakan penyebar biji yang baik untuk berbagai jenis tumbuhan di ekosistem hutan alam, dampaknya hutan akan merana tanpanya. Ketika hutan merana maka fungsi bumi Wonosobo sebagai daerah penyangga kehidupan akan terganggu lalu memicu lebih banyak krisis lingkungan yang akhirnya berdampak pada sosial dan ekonomi.

Keanekaragaman hayati merupakan harta yang berharga untuk masyarakat Wonosobo. Ketika kita tahu nilai sesuatu yang kita miliki maka kita akan menghargainya, begitu pula dengan keanekaragaman hayati. Ketika kita, masyarakat Wonosobo, mengetahui keanekaragaman hayati yang dimilikinya maka kita akan berusaha melindungi, menjaganya agar terus ada, dan memanfaatkannya dengan lestari. Namun, bagaimana bisa hal ini tercapai apabila kita sendiri belum tahu banyak seberapa besar nilai harta kita? Inilah pentingnya mengetahui kekayaan dan potensi keanekaragaman hayati daerah kita sendiri.

Membicarakan hutan tidak mungin tanpa membicarakan pula masyarakat di sekitarnya. Mungkin yang mengetahui dengan baik kekayaan alam di hutan-hutan Wonosobo sebatas masyarakat yang tinggal di sekitarnya saja, dilestarikan dan dimanfaatkan dengan cara-cara yang sederhana dan tradisonal.

Pengetahuan atau kearifan masyarakat  lokal tentang pelestarian dan pemanfaatan hasil hutan juga perlu didata dan dipetakan dengan baik agar tidak hilang dimakan zaman. Hal ini penting dilakukan untuk mengembangkan pendekatan-pendekatan pelestarian dan pemanfaatan serta menggali potensi sumberdaya alam dengan cara yang tepat dan tidak eksploitatif.

Saya kembali ke lutung jawa di penghujung tulisan ini. Ketika kita mengetahui bahwa hutan alam kita masih memiliki lutung jawa ataupun spesies lain, kita mengetahui detil jumlah, persebaran, perilaku, preferensi habitat, kondisi habitatnya, dan perannya untuk hutan itu; kita bisa menentukan cara yang tepat untuk mengelola satwa ini beserta habitatnya. Kita dapat menentukan cara yang tepat untuk menjaga satwa ini tanpa perlu mengesampingkan aspek sosial dan ekonomi serta menghindari konflik dengan satwa. Misalnya dengan mengembangkan ekowisata pengamatan satwa secara terbatas.

Hutan Wonosobo, baik hutan rakyat ataupun hutan alam, masih berpotensi luas untuk digali lebih dalam keanekaragaman hayati maupun potensi budidaya lainnya. Hal ini akan menambah kebanggaan kita sebagai masyarakat Wonosobo terhadap hutan yang masih ada. Semoga ke depan, akan ada yang menjaga hutan Wonosobo, sehingga Wonosobo ora ilang wanane, Wonosobo tidak kehilangan hutannya.

Oleh Hani Ristiawan

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0