Kulminasi Komunikasi Komunitas

Sore kemarin saya menunggang kuda cebol, alias motor matic saya, dari Kertek sampai ke Wonolelo. Sepanjang jalan saya amati, lha kok tiap gang banyak anak anak pada thethek. Bukan tetek yang artinya payudara perempuan. Tetapi “tethek” atau nongkrong. Orang yang nongkrong ini dapat dipastikan memiliki waktu luang di sore hari.

Kalau nongkrong-nya sekali dua kali sih tidak apa-apa. Lha kalau tiap hari. Itu sudah dipastikan meresahkan warga. Soalnya, dari nongkrong yang tidak ada obrolan keilmuan, atau diskursus mengenai suatu hal alias nongkrong ngalor ngidul nggak jelas itu,  nantinya dikhawatirkan merembet ke arah tindakan negatif. Dari membuat geng motor. Mabok bareng hingga nonton bokep bareng. Ya iyalah saya tau, wong pernah ngadepi.

Remaja yang tidak jelas kegiatannya ini kalau cuma sedikit sih ndak masalah. Lha kalau banyak?

Stand up comedian asal Amerika George Carlin pernah bilang “Don’t underestimate the power of stupid people in large group”. Pada baca berita tentang Brexit (British exit a.k.a referendum Inggris untuk keluar dari Uni Eropa)? Dalam kasus Brexit tadi, banyak voters memilih Brexit karena coba-coba, tidak menimbang untung rugi Inggris keluar dari Eropa. Eh pada akhirnya malah jadi exit beneran.

Keadaan dimana banyak orang yang nongkrong ini diperparah dengan pemerintah yang belum bisa menyediakan lapangan pekerjaan yang mencukupi. Tapi klise sekali kalau kita menyalahkan pemerintah. Nanti pasti ditanyai, pemerintah yang mana dulu? Pusat atau kabupaten? Belum lagi kalau antar instansi sudah saling lempar “Lha itu kan tugasnya dinas pendidikan, salah sendiri ga diberi soft skill, bagaimana industry mau menyerap tenaga kerja?. Nanti sampai ke dinas pendidikan ya beralasan lagi “Ya itu kan tugasnya dinas tenaga kerja, mbok ya mereka diberi penyuluhan, diberi les menjahit atau keterampilan lain”.Sebenarnya bagi orang yang mikir, adanya pengangguran adalah ladang ilmu. Ladang bagi orang orang yang sadar lingkungan sekitar, agar dapat berkontribusi. Bukan sesuatu yang dijauhi atau menjadi ladang perdebatan, karena tidak ada ujungnya.

Lalu bagaimana kontribusi kita?

Sek  to, sabar. Kita lihat dahulu, kok anak muda sore sore ndak ada kegiatan. Apakah karena orang tua mereka yang salah asuh? Lho bukan. Orang tua kok disalahin terus. Nanti durhaka.

Kalau mereka kurang kegiatan, ya solusinya diberi kegiatan. Lebih tepatnya diberi wadah untuk bisa memiliki kegiatan yang positif.  Yang dapat menyalurkan bakat, keterampilan dan softskill. Syukur-syukur dapat membuat usaha, sehingga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Ini masalah serius, kalau mau dibuat serius. Kalau banyak anak muda tidak memiliki wadah penyalur kreativitas, penyalur soft skill, lha terus mereka mau bagaimana?

Jalurnya lewat mana? Mau lewat pendidikan di sekolah?

Lha wong di sekolah adanya disuruh baca buku dan ngerjain tugas. Kok mau menyalurkan bakat. Lha wong yang penting nilai akademis. Coba kalau ujian masuk sekolah, memang ada sekolah yang menanyakan bakat calon siswanya? Setau saya di daerah belum ada. Yang penting nilainya bagus atau memiliki piagam kejuaraan.

Belum lagi anak yang tidak mengerjakan PR, pasti dianggap tidak menguasai materi. Kenapa? Lha karena ndak antusias belajarnya. Atau anak memang tidak dididik untuk berpikir kritis. Giliran siswanya kritis sistem kita belum siap untuk menghargai pemikiran pemikiran kritis. Kritis yang dimaksud adalah analisa yang tajam. Jadi kalau materi yang diterangkan tidak dipelajari lagi di rumah lewat PR, ya siswa tidak menganalisa, tidak mencoba memahami alias tidak belajar. Makanya memang benar untuk saat ini yang nggak ngerjain PR memang harus dihukum.

Itu merupakan contoh pendidikan kita tertinggal jauh dari Negara lain. Kalau mau menunggu Indonesia pendidikannya direformasi, sudah telat. Lha wong besok kalau ganti menteri, ganti lagi kurikulumnya.

Mau lewat pramuka?

Pramuka saja sekarang ditinggalkan. Padahal pramuka itu bagus lho, untuk melatih kedisiplinan dan kreativitas. Tapi menurut saya pramuka tidak melatih anggotanya untuk kritis, lha wong kalau baris berbaris saja suruh tunduk pada pemimpinnya. Padahal anak jaman sekarang kalau seputar isu yang sedang hangat kritisnya bukan main. Baru baca artikel di Facebook yang belum tentu kredibel, tapi dia share di media sosial ditambah status yang “pedas”.

Terus generasi muda mau mbok bawa kemana?

Sebentar, saya mau cerita dulu. Pada suatu kesempatan di bulan Juni,saya mengikuti sebuah acara yang mengumpulkan komunitas di alun alun. Satu persatu komunitas mengenalkan diri mereka, dan beberapa perwakilan komunitas mempertunjukan kebolehannya di atas panggung. Komunitas stand up membawakan cerita yang lucu. Komunitas sastra membacakan puisi. Komunitas beatbox menampilkan suara suara perkusi dari mulutnya. Sore itu anak anak muda tersebut semarak sekali, dan senang. Nah menurut saya, alangkah bagusnya kalau anak anak muda ikut komunitas daripada sekedar nongkrong.

Lalu apa itu komunitas?

Komunitas diambil dari bahasa inggris, community. Community dapat diartikan sebagai masyarakat. Tapi dalam bahasa Indonesia komunitas diartikan sebagai kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuban;

Sekarang batasan interaksinya dikerucutkan pada minat yang sama, pada suatu hal. Misalnya komunitas sastra itu berarti orang orang yang memiliki minat dan berkecimpung di bidang sastra. Begitu juga dengan komunitas masak: orang orang yang masuk di komunitas masak memiliki minat yang sama di bidang masak. Masih banyak contoh lain, misalnya komunitas motor, sulap dan lain sebagainya.

Dalam komunitas secara tidak langsung kita belajar menguasai suatu hal atau malah dituntut belajar. Misalnya komunitas fotografi, mereka yang pada awalnya memiliki kemampuan dan pengetahuan yang berbeda tentang fotografi mengalami pertukaran ilmu.  Pasti terjadi interaksi, dari interaksi terjadi pertukaran informasi yang menambah pemahaman mengenai dunia fotografi. Dari lensa yang dipakai, cara merawat kamera, dan lain sebagainya. Bahkan ada orang yang tadinya benar-benar tidak mengerti mengenai suatu hal menjadi mengerti. Nah, kalau terus belajar ujung ujungnya menjadi expert/ahli pada suatu bidang.

Professor Brian Cox, ahli fisika partikel dari Inggris berkata “Menjadi ahli tidak berarti anda hanya memiliki minat pada suatu hal, tetapi anda menghabiskan hidup anda untuk belajar sesuatu hal. Anda tidak perlu benar, tetapi lebih benar dari seseorang yang tidak pernah menghabiskan hidup untuk mempelajari hal tersebut. “

Nah, keterampilan yang didapat dari mengikuti komunitas, menjadi modal untuk bersaing di era sekarang. Apalagi tren persaingan akan semakin berat. Penduduk di Indonesia saja sudah 250 juta jiwa. Itu baru Indonesia, belum lagi dunia. Njenengan mau tidak mau akan bersaing dengan penduduk dunia yang jumlahnya 8 milyar. Itu baru tahun ini. Mungkin 10 tahun lagi sudah 12 milyar.

Lalu bagaimana seorang anak muda survive kalau tidak dilatih untuk berkreasi, dilatih memiliki keterampilan-keterampilan yang bisa untuk membantu dia hidup. Yang syukur-syukur bisa menjadi bekal mencari nafkah.

Sekarang cari kerja itu susah, saya kebetulan juga pernah merasakan luntang-lantung jadi pengangguran. Saking susahnya jaman sekarang apa saja jadi duit, dan yang paling terlihat jelas ya tukang parkir. Pernah saya nungguin teman ambil duit di atm saja disuruh bayar. Tetapi kadang saya ingat kalau jaman sekarang cari kerja itu susah. Biarlah saya urun uang seribu dua ribu, asal tidak tiga ribu. Yang penting dia sudah mencoba bekerja, cari uang halal.

Jadi kesimpulannya?

Pertama, Musuh kita bukan pengangguran atau orang-orang yang hobinya sekedar nongkrong ngalor ngidul. Musuh kita adalah diri kita sendiri. Salah satu cara mengalahkan diri kita sendiri adalah dengan belajar.

Mengikuti komunitas adalah salah satu proses belajar yang kadang tidak kita sadari, dan menjadikan kita ahli pada suatu bidang, sehingga kita dapat mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan rasa malu untuk menampilkan stand up comedy atau membacakan puisi di depan umum. Mengalahkan ego untuk bertukar ilmu mengenai pembuatan kopi. Mengalahkan kebutuhan diri sendiri untuk membantu orang lain yang lebih membutuhkan. Mengalahkan waktu luang kita untuk menyebarkan ilmu atau inspirasi bagi orang lain.

Kedua, Remaja yang mengikuti komunitas butuh panggung untuk melakukan pertunjukan. Inilah yang kita butuhkan sekarang. Panggung dalam definisi sebenarnya, kalau menurut KBBI yaitu “lantai yang agak tinggi, tempat bermain sandiwara, berpidato, dan sebagainya; pentas:”. Dalam konteks dunia digital sekarang, website yang menampung kegiatan komunitas juga bisa diartikan sebagai panggung.

Panggung ini berguna untuk mengaktualisasikan diri. Aktual berarti betul-betul ada. Jadi remaja yang pentas di panggung dapat benar-benar merasa ada sehingga dalam hati berkata “iki lho enyong”. Jadi mereka tidak hanya menjadi pendengar atau penonton. Sekarang saatnya bergantian berkreasi di panggung.
Memang menjadi pendengar yang baik adalah sebagus-bagusnya komunikasi. Tetapi menjadi pendengar yang baik, membutuhkan proses. Bagaimana mereka dapat menghargai susahnya berbicara di depan umum, kalau berpidato saja mereka tidak pernah?

Lebih lanjut lagi?

Adanya “panggung” bagi komunitas-komunitas untuk menunjukkan karyanya tidak akan bisa terwujud tanpa adanya komunikasi antar komunitas. Sekaranglah saatnya komunitas bertukar informasi, ide dan mewujudkan ide tersebut.

Kalau ada komunitas berdiri sendiri dan membuat panggungnya sendiri. Hal ini seperti ngelawak sambil berkaca. Seneng dewe digawe dewe, lak gendheng.

Sebagai individu saja, kalau anda tidak pernah bergaul. pasti anda merasa benar sendiri, karena di dunia ini ada beragam sudut pandang, dari berbagai macam orang, dan tanpa berkomunikasi kita tidak akan pernah tahu sudut pandang dari orang lain, yang mungkin luput dari perhatian kita.

Jadi kalau ada banyak komunitas. Bukankah akan semakin baik jika saling berkomunikasi? Bekerja sama untuk membuat panggung agar kita dapat saling mengapreasiasi karya komunitas komunitas yang ada. Syukur-syukur kok seperti daerah lain yang ikut membangun daerahnya. Seperti Bandung Creative Forum, dll. (banyak contohnya yang lain , lihat sendiri di google). Tapi kalau nggak juga nggak papa, dapat membuat “panggung” saja saya sudah bersyukur.

Intinya, belajar dari komunitas saja sudah baik, apalagi jika komunitas-komunitas tersebut bisa saling bersinergi untuk membangun daerah tercinta.Ilmu semakin beragam, panggung semakin besar, dan manfaat juga (harapannya) lebih besar lagi. Selamat belajar bersama!

(Affix Mareta)

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0