Bagaimana hari-hari Ramadan nya? Semoga kawan semua mendapat sesuatu yang berharga ya 😀
Berkaitan dengan usainya Ramadan, yang-rasanya-cepat-sekali-berlalu, biasanya kita akan dihadapkan dengan fenomena maaf-memaafkan. Dengan memaafkan semoga kita sama-sama melebur dosa. Eh tidak hanya itu, tapi juga menyadari dan bertekad untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya dan lebih dekat dengan-Nya, atau terbit kembali.

Terbit kembali itu seperti memulai kembali hidup dengan semangat baru dan juga jiwa baru. Jika sebelum puasa kita mudah berprasangka negatif kepada orang lain, maka semoga setelah puasa kita bisa terus berpikir positif. Jika sebelum puasa kita sering membicarakan kejelekan orang lain, semoga setelah puasa sudah bisa dikurangi, bahkan dihilangkan sama sekali. Jika sebelum puasa banyak niat-niat kita yang salah, semoga setelah puasa niat-niat kita diluruskan. Jika sebelum puasa kita susah sekali untuk sabar, mungkin setelah puasa kita akan lebih bersabar dan percaya bahwa bersabar itu bukan tentang menunggu yang diminta untuk datang, tapi percaya bahwa Tuhan telah menggariskan semuanya. Jika kita belum ikhlas dengan yang Tuhan kasih ke kita, semoga setelah puasa bisa menjadi lebih legowo dan berpasrah.

Saya jadi ingat, suatu kali saya membaca buku seorang psikolog dan jurnalis dari Amerika. Beliau bercerita suatu hari ada ibu yang memberinya anaknya hadiah berupa video game. Anaknya senang sekali, ibunya juga. Tapi lama-lama anaknya makin keasyikan dengan video game nya, bahkan melalaikan tugas-tugas sekolah, lupa belajar. Kalau kita jadi orang tua? Pasti kita tidak akan membiarkan kejadian itu terus menerus kan. Mungkin kita akan mengambil mainannya untuk sesaat, agar si anak tidak melalaikan kewajibannya, dan kembali dengan keseimbangan hidupnya. Kemudian setelah anak itu bisa menyeimbangkan kembali, orang tua akan mengembalikan kembali mainan itu, atau justru mengganti dengan yang lebih baik. Walaupun mungkin anak itu merasa kesal saat mainannya diambil, tapi tindakan itu adalah bukti rasa sayang orang tua kepada anak. Ya kan?

Hal yang paling penting di sini adalah ketika pengambilan mainan. Di mana si anak akan belajar menyeimbangkan aktivitasnya dan menghilangkan ketergantungan terhadap mainan. Saat puasa  kita juga belajar menyeimbangkan kegiatan, menahan hawa nafsu, dan mengurangi ketergantungan terhadap sesuatu.

Lalu masa belajar berakhir. Semoga setelah belajar kita bisa terbit kembali.

Selamat berlebaran!

Selamat memaafkan!

Selamat terbit kembali..

 

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0