Terlahir di kota pegunungan, Wonosobo, ternyata tak lantas membatasi pengetahuan anak muda yang satu ini untuk mempelajari ilmu kelautan dan perkapalan. Ia membuktikan bahwa dengan tekad untuk belajar dan wawasan yang luas, akan membukakan kesempatan bagi siapa saja untuk maju dan mencapai apa yang dimau. Namanya Kurniawan Teguh Waskito, biasa dipanggil Kurniawan atau Wawan, anak muda dari pelosok desa Watumalang Wonosobo yang kini tengah merintis jalan menjadi calon teknokrat di bidang maritim dan perkapalan. Kali ini Tim Redaksi Wonosobo Muda berkesempatan membagikan kisahnya untuk kawan muda. Selamat membaca!

Perjalanan Mendapatkan Beasiswa S3 ke Jepang

Kurniawan dibesarkan dari keluarga seorang guru dan merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ia mengawali pendidikannya dari desa Watumalang dengan bersekolah di SD Kuripan-Watumalang, kemudian lanjut ke SMP N 2 Wonosobo dan SMA N 1 Wonosobo. Pemuda yang hobi bermain sepakbola ini kemudian mendapatkan kesempatan untuk merantau ke Jakarta dan menempuh studi S1 di jurusan Teknik Perkapalan Universitas Indonesia. Ia sempat mendapatkan gelar mahasiswa berprestasi di bidang akademik dari Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia tahun 2011.

Ketika melanjutkan studi S1 di Universitas Indonesia, Kurniawan mendapatkan beasiswa fast track dari RISTEK DIKTI untuk melanjutkan studi S2 di UI. Dengan program tersebut, studi S1 dan S2 – nya bisa selesai dalam 5 tahun. Begitu lulus pada Agustus 2014, ia langsung diterima bekerja di perusahaan jasa minyak & gas kepunyaan Amerika, yaitu Halliburton. Setelah bekerja selama kurang lebih 18 bulan, Kurniawan memutuskan untuk keluar sekitar Maret 2016. Sempat lontang lantung selama sekitar 5 bulan, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke  kehidupan kampus sekitar September 2016.

Setelah kembali aktif mengajar di kampus, hal paling utama yang menjadi prioritasnya adalah mendapatkan beasiswa dan kampus yang memiliki kualitas bagus. Selama kurang lebih setahun mencari beasiswa sampai pertengahan tahun 2017, ia mendapatkan tiga opsi untuk PhD atau program S3, yang pertama datang dari Shanghai Jiao Tong University (China) dengan beasiswa dari Pemerintah China; yang kedua dari Osaka University (Jepang) dengan beasiswa Japan International Cooperation Agency (JICA); yang ketiga dari Southampton University (Inggris) dengan beasiswa Newton Fund. Awalnya, cukup sulit bagi Kurniawan untuk memilih satu di antara ketiga kampus tersebut. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya ia memilih melanjutkan studi S3 ke Osaka University, Jepang. Ia akan berada dalam program  internasional di bidang maritime and urban engineering di kampus tersebut. Program tersebut di kampus tersebut juga berkolaborasi dengan MHL Lab. SNU (Korea), LHEEA Lab. ECN (Perancis), Ocean Engineering Lab. MIT (Amerika), and NTNU (Norwegia).

Beberapa alasan yang membuatnya bisa diterima beasiswa dan program S3 di kampus tersebut adalah karena track record akademik yang kuat. Hal tersebut membantunya ketika diwawancara langsung oleh profesor, sehingga ia tidak perlu lagi mengikuti ujian tertulis. Mendapatkan acknowledgment/pengakuan/acceptance dari Professor merupakan tahap pertama dan terpenting untuk bisa masuk ke dalam program tersebut. Kemudian dengan acceptance dan rekomendasi professor, proses mendapatkan beasiswa menurutnya akan menjadi lebih mudah. Satu tips yang penting dalam mendapatkan beasiswa menurutnya adalah: tawarkanlah hal besar yang akan kawan-kawan lakukan untuk meyakinkan pemberi beasiswa bahwa mereka sedang memberikan beasiswa pada orang yang tepat!

Fokus Riset di Bidang Teknik Kelautan

Setelah keluar dari dunia profesional dan kembali ke kehidupan akademik, Kurniawan memutuskan untuk mendalami bidang kemaritiman. Salah satu alasan yang melatarbelakangi  adalah karena Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan potensi pengembangan di bidang maritim yang sangat besar di masa depan. Eksploitasi sumber daya alam dan energi terbarukan di bidang maritim masih sangat potensial. Pengembangan infrastruktur kelautan berupa pelabuhan dan konektivitas pelayaran laut sangat potensial di masa depan untuk mendorong perekonomian dan memanfaatkan posisi strategis Indonesia dalam jalur pelayaran global. Penguatan pertahanan laut Indonesia dengan akuisisi teknologi pertahanan kapal-kapal perang dan kapal-kapal patroli canggih untuk mempertahankan kedaulatan dibidang maritim juga merupakan hal yang penting. Faktor lain, salah satunya adalah belum terlalu banyak orang Indonesia yang memiliki keahlian di bidang kemaritiman sehingga ia bertekad mendalami bidang tersebut untuk berkontribusi membangun kemaritiman di Indonesia.

Saat ini Kurniawan sedang mengerjakan riset di bidang teknik kelautan. Ia masuk di Laboratorium Ocean Space Development yaitu laboratorium bidang hidrodinamika yang mempelajari dasar-dasar ilmu interaksi antara gelombang dan berbagai macam struktur apung seperti kapal, bangunan lepas pantai, bandara terapung, energi ombak, dll. Fokus riset yang  Kurniawan kerjakan yaitu mengembangkan perangkat pemrograman aplikatif untuk memprediksi performa struktur bangunan laut pada berbagai macam kondisi gelombang laut, dan juga memprediksi performa operasi kapal berlayar di laut dengan metode jangka pendek maupun panjang menggunakan perangkat big data dan Internet of things yang diterapkan pada pelayaran kapal dan berbagai aplikasi di pelabuhan. Tidak hanya itu, ia juga tercatat aktif dalam Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang dan tergabung dalam Komisi Science and Technology, khususnya bidang kemaritiman.

Jalan Tak Selalu Mulus

Salah satu kegagalan terbesar dalam hidup Kurniawan dialaminya ketika memutuskan keluar dari pekerjaan di perusahaan minyak dan gas. Pada posisi itu, ia merasa tengah mengalami titik paling terendah dalam hidup. Kurniawan sempat cukup frustasi karena tidak berhasil mendapat pekerjaan selama beberapa bulan dan selalu ditolak semua perusahaan yang ia daftar. Namun, justru pada posisi tersulit itulah Allah memberi petunjuk terbesar dalam hidupnya untuk bangkit dan berdiri kembali. Dari titik tersebut, ia seakan memulai kembali hidupnya. Sejak masih kuliah, ia merasa bahwa pola pikir yang ia bangun masih terkesan pragmatis dan kaku. Kurniawan dulu berpikir bahwa tujuan mengeksplorasi diri adalah untuk bisa mendapat pekerjaan yang bagus. Tetapi, saat mengalami beberapa masalah dan memutuskan keluar dari perusahaan bonafide, ia kemudian mendapat pencerahan bahwa hal-hal besar dalam hidup tidak akan bisa diraih secara instan. Butuh pemikiran, proses, dan langkah-langkah konkrit untuk mencapai hal-hal besar. 

Hal pertama yang ia lakukan kemudian adalah memahami dan mengikuti passion dan potensi diri, yaitu kembali ke dunia akademik. Memutuskan untuk melanjutkan studi ke level doktoral  (S3) adalah salah satu proses besar dalam hidup yang kemudian harus ia jalani. Mendapatkan pengalaman dan pendidikan tinggi di negara maju dan mengembangkan jaringan internasional pada top level di bidang yang ditekuni merupakan pengalaman berharga dalam pengembangan diri yang coba ia dapatkan. Beberapa hal mengubah pemikirannya selama hidup di negara Jepang. Di Jepang, ia merasa bahwa membangun mental dan karakter manusia adalah salah satu yang paling utama. Kedisiplinan, kerapihan, ketertiban mengikuti aturan berlaku dalam segala hal, kesadaran memberikan pelayanan terbaik, integritas, kejujuran, profesionalitas, dan sikap respek telah menjadi kultur yang bisa membangun Jepang menjadi salah satu negara maju. Hidup di sana membantunya untuk menanamkan budaya tersebut ke dalam pengembangan diri dan kehidupannya. 

Terus Belajar dan Mengasah Kemampuan

Bagi Kurniawan, penguasaan di bidang teknologi dan riset di bidang apapun merupakan perhatian utama negara-negara maju di dunia. Negara-nagara maju di dunia terus bersaing melakukan inovasi-inovasi yang akan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi manusia untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Sementara itu, di negara berkembang terdapat gap yang cukup besar dengan negara maju. Ia berkeyakinan, salah satu cara efektif  untuk mengatasi hal ini adalah dengan mendorong pelajar-pelajar Indonesia untuk menempuh pendidikan terbaik dan menjadi warga negara global. 

Dalam perjalanannya, Kurniawan telah aktif dalam bidang riset sejak kuliah dan sampai sekarang. Total ia telah menerbitkan delapan publikasi jurnal internasional. Makalah yang terbit di Jurnal internasional merupakan tulisan yang memiliki originalitas dan kontribusi terhadap kebaruan di bidang tersebut, dan telah melewati proses peer-review oleh beberapa reviewer internasional yang merupakan expert di bidang tersebut. Proses penerbitan jurnal yang ia lalui cukup lama yaitu dari mulai submit, review, revisi, sampai publish, itupun tergantung dari publishernya. Konferensi sendiri merupakan ajang pertemuan bagi para tenaga ahli di bidang yang sama untuk bisa berdiskusi langsung dan bisa mambuka relasi untuk kolaborasi. Ia sendiri pernah mengikuti beberapa konferensi seperti di Bangladesh, India, Malaysia, Singapore, dan Japan dan telah menerbitkan enam paper untuk proceeding conference. Tak tanggung-tanggung, ia berhasil meraih penghargaan Best Presentation dalam 9th International Meeting on Advance in Thermofluids, yang diselenggarakan di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) tahun 2017 lalu. 

Tak cukup sampai di situ, ia juga telah membangun pengalaman mengajar sejak dari jaman kuliah dengan menjadi asisten untuk berbagai mata kuliah, hingga kemudian mendapat kesempatan mengajar di berbagai universitas, dan juga menjadi konsultan untuk unit kerja khusus Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia, khususnya bidang turbomachinery dengan beberapa klien dari perusahaan-perusahaan energi baik BUMN, swasta lokal maupun asing.

Target ke Depan dan Pesan untuk Kawan Muda

Dalam jangka pendek, Kurniawan bertekad akan terus berada di bidang keahlian dan riset akademik, mencari pengalaman teknis, serta memperluas jaringan internasional sebanyak-banyaknya melalui kolaborasi riset, internship, visiting researcher di level global. Ia juga berharap bisa mempererat hubungan bilateral Indonesia-Jepang khususnya di bidang kebijakan dan transfer teknologi kemaritiman. Ia kurang tertarik hanya menjadi seorang pengajar di kelas, ia ingin menjadi teknokrat untuk kemajuan Indonesia khususnya di bidang maritim. Ia yakin bahwa salah satu cara efektif untuk mewujudkan kemajuan bagi negara berkembang adalah melalui kerjasama dengan negara-negara maju. Lebih jauh lagi, Kurniawan menginginkan lebih banyak orang-orang muda dari Wonosobo yang berjuang keras mencapai potensi-potensi terbaiknya dan berguna bagi Wonosobo dan Indonesia.

“Kegagalan-kegagalan dalam hidup adalah hal biasa. Terus berjuang, belajar dari kegagalan, koreksi diri, dan bangkit. Berhenti berpikir pragmatis, berpikir lebih besar untuk kontribusi dan dampak yang lebih luas dengan berfokus pada apa yang bisa kita berikan daripada apa yang kita dapatkan.” – Kurniawan T. Waskito

Kepada Wonosobo Muda Kurniawan juga menyisipkan pesan kepada kawan-kawan muda, yaitu: fokuslah pada passion dan potensi diri, terus tekuni dan konsisten, hargai setiap proses dalam pengembangan diri kawan-kawan. Selagi muda dan belum terlambat, teruslah berjuang keras meraih kesempatan pendidikan dan pengalaman terbaik, pergilah ke manapun, dan jadilah bagian dari masyarakat global. Dunia bergerak sangat cepat, tantangan di depan semakin berat, sehingga kita perlu bekali diri dengan ilmu dan skill. Jangan pernah berhenti belajar dan mencari peluang untuk meraih sukses. Di manapun berada jadilah orang sukses dan kembali ke Wonosobo suatu hari untuk memberikan kontribusi pemikiran, networking, material, dan apapun untuk membangun Wonosobo dan gantian menginspirasi yang lain.

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0