Cinta pada pandangan pertama, mungkin itulah ungkapan yang bisa mendeskripsikan bagaimana pandangan pemuda asli Wonosobo ini terhadap alat musik asli Wonosobo: Bundengan. Muhammad Sa’id Abdullah, anak muda kelahiran 21 November 1993 ini merasa bahwa eksistensi Bundengan perlu diangkat dan potensi Bundengan sendiri dapat dieksplorasi dengan berbagai cabang seni. Tidak hanya musik dan tari, ia yakin bahwa Bundengan bisa disentuh melalui pengemasan audio visual, fotografi, objek penelitian multidisiplin, bahkan untuk kemasan kontemporer. Kali ini, Tim Redaksi Wonosobo Muda berkesempatan mengangkat kisah seorang pemuda pegiat Bundengan asli Wonosobo yang beberapa bulan lalu baru saja mementaskan alat musik tersebut di Negeri Kanguru ini. Penasaran bagaimana perjalanan Said hingga ke Australia? Yuk disimak.

Bukan dari Keluarga Seniman

Sulung dari tiga bersaudara ini lahir bukan dari keluarga seni, namun kecintaannya terhadap bidang seni, terutama musik-lah yang kemudian mengantarkan Said sampai pada titik ia capai sekarang. Pemuda yang sering main band ini menghabiskan masa SD-SMP nya di Leksono, ia kemudian melanjutkan ke SMK Negeri 1 Wonosobo dan menempuh studi S1 Etnomusikologi di Institut Seni Indonesia Surakarta. Ia berhasil masuk ke kampus tersebut dengan jalur prestasi (JPAS), setelah semasa sekolah beberapa kali meraih juara di bidang musik, termasuk festival band. Selama dua semester pertama di kampus ditempuhnya dengan menggunakan beasiswa Bantuan Belajar Siswa (BBM). Ia juga aktif mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Keroncong dan English Club untuk mengasah kemampuan organisasinya dan soft skill. 

Awal Mula Berkenalan dengan Bundengan

Perkenalannya dengan Bundengan terjadi sekitar medio tahun 2014 lalu ketika ia melihat postingan Facebook tentang Bundengan dari Kompas. Paras judulnya yang cantik membuat Sa’id langsung jatuh cinta terhadap alat musik tersebut. Ibarat mutiara yang terpendam di hiruk pikuk globalisasi, ia merasa bersalah karena sebagai orang Wonosobo tulen dan mengambil studi Etnomusikologi, tapi tidak tahu menahu tentang alat musik tersebut. Dengan spontan, Said akhirnya memantapkan diri untuk mengambil objek Bundengan sebagai tugas akhirnya. 

Pertama yang ia lakukan adalah melakukan pendekatan. Tanpa babibu ia bergegas melakukan observasi, dan menemui narasumber artikel, yaitu Pak Henky Krisnawan (Sruni, Jaraksari). Dari beliau-lah pertama kali Said dapat melihat, mendengar, dan menyentuh Bundengan. Ia juga memeroleh pengetahuan dan nilai-nilai yang ada di dalam alat musik Bundengan dari Budayawan Wonosobo yaitu Pak Agus Wuryanto. Namun ia pikir tidak fair rasanya apabila hanya fokus pada satu dua subjek, kemudian pencarian narasumberpun berlanjut hingga dipertemukan dengan Pak Munir dan Pak Bukhori (Ngabean, Maduretno, Kalikajar). 

Seiring berjalannya waktu, tugas menghampiri di mata kuliah feature. Bagi mahasiswa etnomusikologi, ini merupakan salah satu mata kuliah yang berat karena harus melakukan dokumentasi audio visual. Mau tidak mau karena bukan orang berada, ia harus menggunakan fasiitas seadanya yang sebagian besar pinjam teman (kamera dslr, tripod, dll). Pada akhir 2016, ia menyelesaikan proyek dokumenter pendek (feature) dengan judul “Musik dalam Tempurung”. Proses pengerjaan yang dilakukan 90% mandiri, bolak-balik Solo-Wonosobo yang cukup menguras tabungan dan kadang ia sampai harus ngutang, akhirnya diganjar  nilai “A” dari dosen. Semua tak lepas dari perjuangan keras dan konsisten dengan kata hati sendiri sehingga dapat mengantarkan ke hasil yang diharapkan. Hasil karya Said di mata kuliah tersebut bisa dilihat di link ini https://www.youtube.com/watch?v=4tbwQNtHjM0&t=36s . 

Semakin Dekat dengan Bundengan

Hikmah dari pembuatan film itu adalah menjadi titik awal dalam pengaplikasian Bundengan, yang membuat Said menjalin hubungan lebih dekat dengan alat musik tersebut. Keharusan untuk memiliki kowangan sebagai properti film lantas mendorong Said untuk mencoba merakitnya menjadi Bundengan. Berbekal data rekaman baik audio maupun visual saat penelitian, ia belajar memainkan Bundengan secara otodidak. Ia merasa cukup kesulitan pada awalnya karena harus memainkan dengan dua tangan sekaligus, di mana masing-masing tangan memainkan pola berbeda. Kadang rasa bosan juga sering menghampiri saat belajar karena pola permainan dawai pada tangan kanan cukup monoton. Namun, ternyata ada kenikmatan tersendiri ketika tangan kiri mulai jinak sehingga sedikit-demi sedikit ia dapat memainkan irama permainan kendang. Kesabaran dan ketekunan juga ikut terlatih ketika  ia sungguh-sungguh dalam mempelajari Bundengan. Selanjutnya pun timbul rasa ketagihan dan kenikmatan setelah melalui proses pembelajaran tersebut. Mau coba? Kata Said: harus coba!

Pada proses pengerjaan skripsi, Said menemui kesulitan dalam menemukan referensi tentang Bundengan. Sangat sedikit sekali buku atau tulisan-tulisan untuk dijadikan acuan. Namun, pengalaman empiris yang didapat sangat membantu ia dalam menerjemahkan Bundengan ke dalam tulisan. Pada Februari 2017 (semester ke-9), ia mantab untuk maju sidang dengan harapan bisa mengejar wisuda pertengahan Februari. Namun apa daya, ternyata banyak revisi yang harus dilakukan. Sebenarnya ada pilihan, pertama ia bisa ikut wisuda dengan hasil pas-pasan, kedua melakukan revisi baru nyusul wisuda 6 bulan kemudian. Akhirnya, revisi menjadi pilihan karena ia pikir, skripsi merupakan peninggalan yang berwujud nan abadi, kalau ia bisa memberikan yang terbaik, kenapa tidak?

Satu bulan setelah revisi akhirnya skripsi berjudul “Kajian Organologi Musik Bundengan di Wonosobo” rampung. Skripsi tersebut dipilih oleh para dosen Said menjadi karya tulis yang dimuat di Jurnal SORAI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Musik). Pada fase ini Said memiliki harapan supaya dapat memicu teman-teman lain bisa memperkaya literasi tentang Bundengan.

Berangkat ke Australia karena Hashtag (Tagar) di Instagram

Kesempatan tersebut bermula ketika tahun 2015 lalu, Said mengunggah foto bundengan di instagram dengan menyertai tagar #bundengan. Setahun berikutnya bulan Agustus 2016, Rosie  (Founder Program Bundengan Connections) secara tiba-tiba mengomentari postingannya. Dia sedang melakukan riset sehingga memerlukan data lapangan untuk tesisnya. Posisi mereka sama-sama sedang riset, sehingga Said pikir akan lebih mudah melakukan kolaborasi bersama. Kemudian ia menunjukan postingan Bundengan yang diunggah oleh siswa SMP 2 Selomerto yang diampu oleh Bu Mul. Agenda mengunjungi sekolah tersebut pun dilakukan. 

Sebagai seorang konservator, Rosie sangat senang dengan eksistensi Bundengan yang sedang dibangun di kalangan sekolah. Ide untuk membuat program pun dicetuskan untuk mencoba mengenalkan Bundengan ke khalayak lebih luas. Program dirancang Rosie dengan mencoba meminta dukungan pemerintah Australia dan dari pihak Said juga mencoba melakukan pendekatan dengan pemerintah Wonosobo. Ide Rosie dengan tujuan Making Connections sangat brilian atas dasar minimnya orang-orang yang belum mengetahui keberadaan Bundengan. Di samping itu, membangun koneksi dari berbagai pihak akan lebih mudah dalam menggerakan tujuannya.

Sembari menunggu hasil dari pengajuan program, Said dan Bu Mul tetap bergerak dengan melakukan gebrakan-gebrakan sendiri. Tak tanggung-tanggung, November 2016  mereka mengagendakan pentas 100 Bundengan di Gedung Adipura Wonosobo. Kegiatan yang didanai oleh Dinas Pendidikan itu melibatkan pelajar dan berbagai seniman di Wonosobo. Selain menjadi ajang silaturahmi budaya, Said juga senang atas apresiasi dari Etnomusikologi ISI Surakarta yang secara khusus melaksanakan PKL (Pelatihan Kerja Lapangan) untuk memantau pentas 100 Bundengan.  Namun, di balik euphoria 100 Bundengan, Said merasa ada PR besar bagaimana membangun konsep agar akustik dan musikalitas yang menjadi masalah instrumen di ruang pertunjukan. Lebih dari itu, misi utama untuk mengenalkan ke masyarakat Wonosobo khususnya pelajar telah berhasil.

Maret 2017, program Workshop Bundengan juga berhasil digelar selama 2 hari di Pendopo Bupati dan SMP N 2 Selomerto atas kerjasama dari berbagai pihak di Wonosobo. Pada waktu itu skripsi Said sudah selesai sehingga ia diberi kesempatan untuk mempresentasikannya di depan publik. Sekitar 200 Peserta yang didominasi anak-anak SD dan beberapa komunitas hadir dan membuat event ini terbilang sukses dengan memberi pengalaman langsung pada peserta memainkan bundengan bersama. 

Keesokan harinya, Said dan tim meluncur ke ISI Solo untuk meminta izin mengadakan workshop dengan tujuan memperkenalkan Bundengan di skala nasional. Proses birokrasi yang cukup berbelit, juga kendala dana cukup membuat ia galau. Namun, jalan memang selalu ada untuk orang-orang yang mau berusaha. Selang beberapa minggu, ia mendapat kabar bahwa pada Oktober 2017 pihak ISI Solo akan mengadakan konferensi. Tak tanggung-tanggung bahwa konfrensi yang diadakan merupakan kegiatan berskala internasional. Akhirnya, Said dan tim mencoba untuk bisa membawa materi bundengan pada acara tersebut. Lukman, teman seperjuangan kuliahnya, membantu semua proses hingga kegiatan berlangsung.

Oktober 2017, dalam International and Interdisciplinary Conference on Arts Creation and Studies (IICACS) #2 yang dihelat selama dua hari, paper dengan judul Bundengan: Social Media as a Space  for Collaboration in the Conservation and Revival of an Endangerd Musical Instrument sukses iapresentasikan. Di luar itu, ia juga sempat mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan bundengan dalam kegiatan pameran alat musik nusantara di Museum Ronggowarsito Semarang pada bulan April 2017. 

Kesempatan untuk presentasi dalam konferensi Internasional tersebut sekaligus menjadi  gladi bersih untuk kegiatan di Australia, karena dalam setiap sesi harus Said sajikan dengan bahasa Inggris. Ada sedikit rasa canggung karena ia langsung berbicara dengan native speaker. Namun, Said berkeyakinan bahwa sempurna atau lancarnya berbicara bukan menjadi masalah, tetapi atmosfer yang didapatkan ketika menjelaskan kepada audiens adalah pengalaman penting untuk memupuk rasa percaya dirinya. Said yakin bahwa mereka juga akan memahami dan terkadang membantu dalam pengucapan yang benar. Itu bukan alasan tidak menguasai bahasa Inggris! 

Siapapun kalau ingin berprestasi di kancah international harus punya basic bahasa, meskipun masih dalam taraf “memahami” dan didorong dengan terus belajar. – Said Abdulloh.

Persiapan menuju Australia pun intens dilakukan. Kendala dasar yang dihadapi adalah tentang dana untuk mempersiapkan event di Australia, sehingga membatasi jumlah orang yang bisa diberangkatkan. Jauh-jauh hari jika proposal diterima dari Pemerintah Australia, mungkin hanya ada enam orang yang berangkat, yakni Pak Munir dan Pak Bukhori selaku seniman Bundengan, Sa’id, Lukman, Bu Mul, dan Mas Yatno.

Akhirnya Berangkat ke Australia

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, Jum’at 2 Februari ia dan tim akhirnya berangkat ke Australia. Perasaannya luar biasa, tidak terasa petualangannya segera dimulai. Perjalanan kurang lebih 6 jam, tiba di Sydney sekitar pukul 7.25 waktu setempat. Di hari pertama menginjak benua kecil tersebut lebih banyak ia habiskan untuk bersantai dan beristirahat. Menikmati klasiknya suasana yang disinggahi, yaitu di kawasan Taman Nasional Middle Head Mosman. Tempat tersebut merupakan bekas asrama tentara. Hampir dikelilingi dengan tebing dan laut sehingga udara di sana terasa sejuk dan semilir.

Hari ke dua pekerjaan dimulai! Enam buah Bundengan yang sudah tiba seminggu sebelumnya harus dicek lagi kesiapannya untuk pertunjukan pertama “The Sound of Shadows”. Tim belum memiliki konsep yang matang dan hanya memiiki dua hari untuk dipertunjukan. Said pun sedikit canggung harus menginstalasi bundengan seperti apa, karena pertunjukan ini berbau kontemporer sehingga tidak mungkin hanya melakukan hal-hal biasa. Kerja lebih keras pun harus dilakukan untuk mengejar waktu pertunjukan. Hampir 12 jam bekerja dalam sehari dan pikiran hanya terfokus untuk merancang pertunjukan melalui eksplorasi dan improvisasi saat latihan.

Orang-orang penting mulai berdatangan, seperti kurator, produser, dan lain-lain untuk menengok proses produksi yang dilakukan oleh Said, dkk. Pada titik ini apresiasi mulai ia rasakan sehingga menambah semangat tim untuk segera menyelesaikan tugas. Akhirnya apa yang menjadi proses yang cukup berat menghasilkan alur yang dapat disepakati bersama. Bianca, sebagai salah satu konseptor, menggambarkan pertunjukan The Sound of Shadows sebagai eksplorasi konsep makanan dari zaman mitologis hingga implikasi ekonomi perdagangan produk kolonial, dan isu-isu terkini dalam membentuk budaya, politik, sistem kepercayaan dan seni antara Australia dan Indonesia. Bundengan dan beberapa gangsa Bali berperan sebagai pengisi musikal untuk menguatkan cerita wayang yang disorot menggunakan Overhead Projector (semacam proyektor jadul yang biasa digunakan presentasi di perkuliahan), sehingga menimbulkan bayangan yang indah.

Hari itu terasa sangat panjang bagi Said. Pagi hari sebelum pentas, tim mengadakan seminar bertajuk Ethnomusicology Revisited di University of Sydney. Said dengan berbekal nekad, ngeteng-ngeteng bundengan menggunakan angkutan umum yang membuat bule-bule disana gumun dan penasaran. Hampir di setiap perjalanan ia dilirik dengan penuh curiga dengan barang yang ia bawa tersebut. Ia merasa seperti orang yang akan berperang, dengan memegang tongkat penyangga dan bundengan yang seperti tameng.

Setiba di lokasi, Said merasakan demam panggung yang ekstrim, sebab hari itu adalah pertama kali menjadi pembicara seminar dan menggunakan Bahasa Inggris. Penyebab demam  panggung juga karena Said baru bisa menyelesaikan urusan menerjemahkan presentasi dalam perjalanan ke kampus. Awalnya, ia berpikir presentasinya akan garing, namun di akhir sesi semua memberi applause yang bagi Said adalah sebuah apresiasi yang sangat penting. Terlebih saat demonstrasi bundengan, para peserta lebih cair dan intim saat kepoin salah satu instrumen musik kebanggan Wonosobo ini. Wah, salut!

Dari Sydney Lanjut ke Melbourne

Said tak bisa tidur nyaman, sebab keesokan harinya juga merupakan hari yang panjang dengan tiga kegiatan dalam satu hari. Belum lagi ia harus berlatih pronouncation untuk presentasinya yang cukup sulit bagi lidah jawa seperti Said. Semua kegentingan itu bagian dari proses yang memang harus dihadapi. Hingga pada hari itu tiba, semuanya berjalan dengan lancar. Kehangatan peserta yang mencoba memahami pemaparannya, juga sound engineer yang luar biasa. Pementasan bundengan di Performing Arts Centre, University of Monash menjadi sukses besar berkat setting tukang sound yang smart. Didukung pula dengan akustik gedung yang sangat baik. Seluruh cerita keindahan dinamika di Monash telah diabadikan melalui video dan bisa dilihat seluruhnya di situs https://arts.monash.edu/news/music-of-wonosobo/ .

Selanjutnya adalah pertunjukan Sound of shadows di Aeso Studio, Thornbury, Victoria. Tidak ada yang jauh berbeda saat pertunjukan di Sydney. Hanya saja audiens lebih banyak dan bisa dikatakan pertunjukan ini mampu menarik perhatian. Tiket yang dibanderol sekitar $25 AUD habis terjual sehingga menambah penonton ekstra yang rela tidak duduk langsung di bawah bundengan, melainkan di kursi tambahan di sudut ruangan. Sedikit cuplikan pertunjukan bisa dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=oCw5VQXEVx8.

Selain itu, ia juga memberi edukasi melalui workshop Building Instrument, di Grimwade Centre University of Melbourne. Dr. Nicole Tse selaku tuan rumah memberi keleluasaan baginya untuk berbagi pengetahuan. Ia dan tim juga sempat membuat mie ongklok sebagai pendamping kegiatan Workshop. 

Mereka sangat ramah, bahkan saya tak sadar kolega yang saya tangani pada waktu itu ternyata seorang Dosen. Saya sangat salut dengan kemauan belajar mereka yang sangat tinggi. Meskipun untuk bisa membuat bundengan dengan baik tidak cukup sekali jadi, setidaknya mereka memiliki pengalaman empiris untuk mencoba. Siapa tahu pengalaman itu bisa memberi trobosan baru dalam hal membuat Bundengan yang masih manual. – Said Abdulloh.

Malam harinya dilanjut memberikan sedikit edukasi di acara Listening Party. Digawangi Palmer Keen, seorang etnomusikolog dari Amerika yang sudah 5 tahun melanglang buana di Indonesia. Ia mempresentasikan beberapa rekaman alat musik nusantara yang begitu kaya. Said menjadi sangat terinspirasi olehnya bahwa kekayaan musik di Indonesia hanya akan hilang sia-sia jika tidak ada pendokumentasian. Pekerjaan terakhir sekaligus penutup adalah pertunjukan serupa yang digelar di KJRI Indonesia di Melbourne.

Mimpi untuk Bundengan dan Pesan untuk Kawan Muda

Sebagai penutup, Said membagikan gagasan dan mimpi-mimpinya untuk kemajuan alat musik Bundengan ini. Ia ingin berkarya dengan media Bundengan baik melalui perekaman, penciptaan komposisi baru, eksperimentasi instrumen, kolaborasi dll. Dalam hal ini, ia juga tidak sendiri, ada beberapa kawan-kawan muda yang ingin bergerak, bukan tidak lagi mengenalkan, tapi mengembangkan lebih jauh lagi.

Target itu sebenarnya untuk Wonosobo sendiri. Bagaimana Wonosobo bisa menjadi rumah yang ramah untuk Bundengan. Di Jawa barat, kita mengetahui ada Saung Mang Ujo sebagai sentra musik angklung, bukankah sangat memungkinkan jika terdapat “Rumah Bundengan” atau “Bundengan Center” di Wonosobo. Hal itu dapat menjadi sektor wisata budaya dalam bentuk edukasi seni musik. Hal tersebut akan bisa terwujud apabila sinergitas antara pelaku (seniman) dan pemilik (masyarakat) memiliki kesadaran yang sama. Begitulah gagasan dari Said. 

Dari perjalanan yang telah ia lalui, ia juga memiliki beberapa pesan dan kesan untuk kawan muda. Dalam memaknai hidup, bersikaplah seperti air yang responsif, yakni kesadaran memiliki sesuatu. Kemudian sanggup meresap hingga kedalaman tak terkira, sehingga dapat memasuki celah kecil untuk menemukan jalan. Dan mengikuti bentuk tatanan yang menampung dengan mengubur etnosentris. Selain itu, ada tiga hal yang harus diketahui dalam mengejar impian: kenali mimpi itu, pahami mimpi itu, dan hargai mimpi itu! 

Bagaimana kawan muda, berani punya mimpi seperti Mas Said Abdulloh ini?
(Den)

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0