“Bu jamune pinten?” (Bu, jamunya berapa?)

“Satu keping, Mbak.”

“Jagung rebusnya 2 keping.”

Keping adalah mata uang yang berlaku di sebuah pasar tradisional yang terletak di tengah-tengah hutan Dusun Bongkotan, Bojasari, Kertek. Pasar itu bernama Pasar Lawas Kumandang.  Untuk mendapatkan mata uang keping, berupa kepingan kayu di Pasar Kumandang, pengunjung harus menukarkan uang dengan kepingan kayu yang 1 kepingnya dihargai dengan Rp2000.

Pasar yang  baru dibuka dua kali ini terletak di hutan milik pribadi seorang warga yang mempunyai luas kurang lebih 350m2. Untuk menuju lokasi ini, pengunjung bisa melewati desa Siyono, lalu masuk terus sampai Dusun Bongkotan dan menemukan plang bertuliskan Pasar Kumandang. Jika membawa kendaraan, pengunjung dikenakan biaya Rp2000. Lokasi pasar terletak sekitar 50 meter dari parkiran.

Pada hari Minggu 24 Juni 2018, beberapa anggota Wonosobo Muda berkesempatan mengobrol dengan Bapak Kepala Dusun yang menjadi salah satu pencetus dan penggerak pasar ini. Menurut Kepala Dusun Bongkotan, Bapak Ahmad Wahyono, Pasar Kumandang dibangun untuk memberdayakan warga dusun sekaligus membuka alternatif wisata kuliner di Wonosobo dengan cara yang unik yang menonjolkan unsur alam dan tradisi. Ada banyak warga yang tadinya bukan pedagang jadi tergerak membuka kios kecil menggunakan meja untuk menjual beraneka makanan, minuman dan souvenir. Konsep kuliner tradisional ditandai dengan banyaknya makanan lawas khas pasar seperti tiwul, nasi jagung, tempe kemul, jagung bakar dan rebus, gethuk, ubi rebus, dan jamur goreng. Selain itu, para penjual juga kebanyakan memakai pakaian tradisional.

Tidak lupa, para pencetus pasar ini juga memasukkan konsep ramah lingkungan di dalam aturan perdagangannya. Misalnya, semua bungkus tidak boleh pakai plastik dan diganti dengan wadah seperti batok kelapa atau daun pisang. Ada juga pedagang yang menjual minuman menggunakan gelas dari bambu. Pedagang juga tidak boleh menggunakan kompor gas, melainkan menggunakan tungku dan arang. Peralatan yang dipakai pun sangat tradisional, untuk panci ada yang menggunakan dandang yang terbuat dari tanah liat.

 

Pasar dilengkapi dengan beberapa fasilitas khusus seperti,

  1. Area khusus merokok dilengkapi dengan bangku dan menurut Bapak Ahmad, sengaja ditempatkan di area yang jauh dari anak-anak untuk alasan kesehatan. Namun, meski ada area ini, ada beberapa pengunjung yang masih merokok di tempat yang tidak seharusnya. mungkin hal tersebut terjadi karena belum ada tulisan peringatan larangan merokok di area utama.
  2. Area bermain anak, atau yang diberi label ‘Playon Bocah’, dilengkapi dengan fasilitas bermain tradisional. Fasilitasnya ditujukan agar anak-anak kecil juga mengenal permainan tradisional. Sayangnya, jenis mainannya belum banyak. Bagi yang mau mengusulkan dan jadi volunteer di area tersebut, mungkin bisa mengusulkan ke pihak panitia.
  3. Panggung pertunjukkan bertujuan menampilkan beragam aksi kesenian. Di hari Minggu itu, kesenian yang ditampilkan adalah menyanyi, beat box, nyanyian lagu jawa yang diiringi dengan alat musik tradisional Wonosobo yaitu bundengan. Tidak menutup kemungkinan ada aksi kesenian lain yang lebih seru.

Pasar ini pertama kali diinisiasi oleh Pak Eko Harmony yang kemudian disambut hangat oleh Pak Kepala Dusun Bongkotan. Berdasarkan keterangan yang didapatkan, Bapak Kepala Dusun kemudian mengajak kerjasama pemilik lahan hutan untuk dijadikan pasar. Bukan langkah mudah untuk membangun pasar ini. Bapak Kadus harus meyakinkan warga bahwa pasar itu bisa membawa manfaat. Bahkan, untuk mengajak warga ikut menjadi pedagang, Bapak Kadus harus door to door untuk membangun kepercayaan warga. Pada akhirnya, warga mau bergabung dan diadakanlah gotong royong untuk membangun pasar dimulai dari membangun area pasar, membuka akses menuju pasar, membuat bangku-bangku, dan sebagainya. Ada juga donatur yang berperan dalam menyukseskan pasar ini. Jadi pasar ini bisa dibilang merupakan usaha swadaya masyarakat.

Harapan Pak Kadus dan tim untuk pasar ini ke depan adalah Pasar Kumandang bisa menjadi salah satu alternatif wisata dan ruang terbuka untuk masyarakat agar bisa bercengkerama sekaligus melestarikan warisan tradisi. Mereka punya banyak rencana untuk terus mengadakan inovasi dan menjadikannya sebagai sarana edukasi untuk pengunjung serta pemberdayaan untuk warga lokal.

Update informasi seputar pasar bisa kamu ikuti di akun Instagramnya @pasarkumandang

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0