Sore ini saya tergugah untuk mengeluarkan aspirasi setelah tanpa sengaja melihat foto yang diposting oleh Wonosobo Muda pada salah satu media sosialnya tentang gagasan untuk masa depan kota ASRI, Wonosobo. Mulai dari potensi SDA yang sangat melimpah, pemilihan bupati yang tinggal menghitung hari, dan pertaruhan nasib setelahnya.

Sebagai orang yang tumbuh dan dibesarkan di kota itu, saya tertarik mengulas sedikit mengenai kontemplasi (perenungan dengan kebulatan tekad dan perhatian penuh) terhadap masyarakat Wonosobo, khususnya remaja. Hal ini sifatnya lebih fundamental dibanding langsung membicarakan pemanfaatan SDA yang belum optimal. Sebab, saya melihat potensi lain yang tidak kalah penting justru datang dari remaja. Namun sangat disayangkan, mereka kurang mendapat perhatian lebih, atau malah tidak diperhatikan sama sekali.

Kita tahu sudah banyak sekali generasi muda yang mengharumkan nama Wonosobo di berbagai bidang dan kegiatan mulai dari yang sifatnya akademik, literatur, sampai budaya. Belum lagi kalau kita menghitung remaja yang punya bakat, semangat, dan tekad dalam suatu hal namun kurang mendapat perhatian dan dukungan yang pada akhirnya membuat potensi itu pelan-pelan redup dan menyurut. Dalam hal ini, saya ambil contoh pada apresiasi sastra dan budaya.

Kita tentu juga tahu Wonosobo memiliki banyak sekali kesenian dan budaya yang menjadi ciri khas dan tidak dapat ditemukan di daerah lain. Sebuah nilai lebih yang apabila dimanfaatkan dengan benar akan menghasilkan keuntungan baik secara esensi maupun nominal.

Saya membayangkan bagaimana jika suatu hari nanti di Wonosobo ada wadah untuk menyalurkan ekspresi bagi para remaja. Sebuah wadah apresiasi yang juga di dukung oleh pemerintah dengan membangun banyak tempat dengan tujuan mengukir, menampung, menampilkan, dan mengklasifikasi potensi itu secara rapi. Tidak perlu membayangkan gedung opera di Sydney atau Harmony Hall di Jepang. Cukup sebuah tempat yang bisa menjadi magnet bagi masyarakat untuk datang dan tidak menyesal telah menukar waktu mereka melihat pertunjukkan seni dan budaya asli Wonosobo dalam kemasan yang tidak monoton. Saya yakin betul, hal yang di atas akan memunculkan remaja-remaja yang larut dalam suka cita menjaga budaya asli Wonosobo. Sebuah langkah mengubah stigma remaja lebih bersimpati untuk berkarya dibanding hura-hura.

Selain gagasan untuk memperhatikan potensi remaja, masih ada satu hal lagi yang saya anggap cukup penting pengaruhnya terhadap nasib Wonosobo di masa depan. Saya melihat langkah yang dilakukan pemerintah dalam pencanangan Wonsobo menuju kota bunga yang sudah semakin intens. Dibangunnya taman-taman yang berfungsi memperindah kota dan maksud lain untuk memecah pusat keramaian di sekitar alun-alun agar tersebar ke beberapa titik merupakan langkah yang impresif.

Saya langsung mengkolerasi hal tersebut dengan sektor ekonomi dan pariwisata. Lagi-lagi saya melihat kesempatan besar di sana. Perencanaan Wonosobo sebagai kota bunga akan membawa dampak yang baik terhadap meningkatnya jumlah wisatawan. Tidak hanya dengan membangun taman, masih ada berbagai cara lain yang bisa dilakukan pemerintah untuk melancarkan programnya. Barangkali, semacam inovasi membangun wisata kebun bunga, lalu menyerahkannya agar diurus oleh masyarakat, supaya nanti muncul industri rumah yang bisa memanfaatkan bunga tersebut entah itu menjadi parfum seperti Keukenhof, hiasan, kerajinan dan lainnya. Tapi, yang jadi pertanyaan saya adalah apakah Wonosobo ‘cocok’ dan sudah siap untuk menuju ke situ?

Tugas yang berat untuk kita semua, terutama untuk bupati selanjutnya. Kebijakan apapun yang akan dikeluarkan, yang minor atau mayor, yang mematikan industri kecil atau tidak, yang membunuh potensi remaja atau mengayominya, saya rasa tidak akan menyurutkan semangat kita menggagas perubahan ke arah yang tepat. Karena saya tahu, masyarakat Wonosobo tidak pernah lelah bersuara lantang.

*

Masa depan adalah perihal yang sering manusia spekulasikan sebagai kejadian, peristiwa, dan keadaan yang masih tanda tanya. Sebuah ketidakpastian yang dengan leluasa bisa saya terka seperti apa dan bagaimana nantinya. Banyak pertanyaan lain tentu akan muncul, dan barangkali satu-satunya batas atau pembeda dalam proses menduga setiap orang hanyalah imajinasi.

Dalam menebak masa depan , manusia sering menyisipkan harapan agar esok lebih baik lagi dari hari ini, agar nanti jauh lebih berarti dari sekarang , atau secara individu; harapan agar semua berjalan sesuai keinginannya.

‘Kita tak meng-harap. Kita ber-harap. Tanpa optimisme. Tapi kita tahu bahwa dalam hidup, gelap tak pernah lengkap, terang tak pernah sepenuhnya membuat siang. Di dalam celah itulah agakanya harapan: sederhana, sementara, tapi akan selalu menyertai kita jika kita tak melepaskannya.’ – Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 7

Tentu kita, termasuk saya, sedang berharap. Pada siapa? Pada apa? Jawabannya adalah pada masa depan Wonosobo. Saya mencintai kota itu, dan karena saya mencintai kota itu sajalah harapan saya tidak pernah sirna.

‘Di setiap masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara, tapi tidak gampang untuk  diam. Kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan, atau kebisuan, mungkin ketidakacuhan.  Semuanya teka-teki.’ – Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 5

Jakarta, 28 November 2015

Penulis:  Egi Heryanto (Siswa kelas 12 SMA Al-Azhar 1 Jakarta, hingga kini aktif menulis dan berkarya di komunitas Kata Bicara)

 

*Tulisan ini adalah bagian dari gerakan #MbangunSobo yang bertujuan untuk mengajak dan membangun kesadaran warga Wonosobo agar lebih peduli dengan apa yang sedang terjadi di kotanya. Kawan-kawan dapat turut serta dalam gerakan ini dengan mengirimkan tulisan opini mengenai Masa Depan Wonosobo ke email redaksi kami: wonosobomuda@gmail.com. Ayo #MbangunSobo bareng-bareng!

 

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0