Bicara tentang masa depan pasti tentang hal – hal yang menyenangkan, tentang hal – hal yang lebih baik dari masa kini. Berbicara tentang masa depan tentu juga berbicara tentang bagaimana cara meraih masa depan yang lebih baik. Cukup miris ketika mengetahui kalau Wonosobo yang terkenal dengan objek wisatanya dan memiliki tanah yang subur adalah salah satu kabupaten termiskin di Indonesia. Maka dari itu saya selaku salah satu pemuda Wonosobo ingin memberikan gagasan tetang Wonosobo yang sejahtera di masa yang akan datang.

“Berbahagialah mereka yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalaman nya sendiri.” [Pramoedya Ananta Toer]

Begitulah kiranya kata yang pantas untuk membangkitkan Wonosobo dari kemiskinan. Dengan dibekali Komoditas pariwisata yang lebih, serta kondisi tanah yang subur kenapa masyarakat Wonosobo masih terjerat dengan kemiskinan? Tentu saja, salah satu faktornya adalah tingkat pendidikan yang masih rendah, perhatian di sektor periwisata dan pertanian yang masih kurang. Itu menurut saya.

Jelas saja ada berapa banyak anak putus dari sekolah atau tidak melanjutkan sekolahnya karena kondisi ekonomi, lalu lebih memilih membantu kedua orang tuanya kerja serabutan dan bertani yang belum mendapatkan atau belum bisa dimaksimalkan potensinya. Di sini jelas bahwa masyarakat Wonosobo membutuhkan dana bantuan di sektor pendidikan bagi golongan tidak mampu, agar tidak ada lagi siswa yang putus sekolah dan hanya akan menambah jumlah pengangguran saat usia produktifnya, karena pindidikan yang tidak tamat.

Di sektor pertanian, kenapa saya katakan sektor pertanian belum dimaksimalkan potensinya? Karena kehidupan para petani yang masih begitu – begitu saja (kekurangan) bahkan kesulitan menyekolahi anaknya. Bukan soal hasil tani yang gagal, tapi soal pengolahan hasil tani yang yang kurang. Di sini peran anak muda yang kreatif perlu dituangkan, tentang mengolah hasil pertanian agar menjadi sebuah produk yang bisa dijual dengan harga tinggi, Misalnya, mengolah buah carica menjadi dodol carica. Tidak serta merta hanya menjual bahan mentah. Hal ini tentu dapat meningkatkan pendapatan bagi para petani dengan mengolah hasil taninya sendiri baru dijual. Selain itu, dukungan dari pemerintah juga diperlukan.

Dari sektor pariwisata, sungguh sangat disayangkan jika tidak dimaksimalkan. Saya menekankan untuk lebih dulu membangun fasilitas atau sekedar membangun tempat wisata yang memenuhi standar (adanya loket tiket yang memadai, toilet umum, tempat ibadah dan yang paling penting adalah jalan menuju tempat wisata yang memadai) kalau setiap tempat yang memiliki potensi wisata yang baik, dibangun dengan baik, siapa yang keberatan mengeluarkan uang 20 ribu rupiah untuk melihat sunrise terbaik se-Asia di Sikunir? Siapa yang keberatan mengeluarkan uang 20 ribu rupiah untuk menikmati keindahaan Telaga Dringo dan tempat wisata lainnya. Tetapi saya berpikir untuk tidak mengandalkan investor asing dalam hal pembangunan di sektor pariwisata ini, agar hasil dari pariwisata ini bisa benar benar dimanfaatkan 100% untuk warga desa yang memiliki objek wisata. Percuma saja maju dalam pariwisata tapi warga desa tidak maju karena hasil dari pariwisata itu masuk ke kantong lain. Seperti kutipan di atas, maju karena usahanya sendiri.

Perlu dibuat suatu jalan atau daerah khusus seperti Malioboro di Yogjakarta. Kenapa itu penting? Karena akan menambah daya tarik wisatawan yang datang akan tempat pusat oleh-oleh, sekarang ke mana kita harus mencari oleh – oleh khas dari Wonosobo? Haruskan memutari seisi Wonosobo? Seharusnya tidak. Wonosobo bisa membuat suatu tempat khusus untuk para pelancong atau masyarakat Wonosobo sendiri untuk mendapatkan sesuatu yang disebut oleh – oleh atau sekedar tempat hiburan untuk jalan-jalan dengan memanfaatkan jalan kosong seperti yang ada di dekat Lapangan Futsal Bhayangkara, disitu kita bisa membuat konsep seperti Malioboro di Yogyakarta. Dengan membuka tempat seperti itu juga membuka sebuah peluang bagi para pengrajin dan petani untuk menjajakan hasil olahannya.

Semoga ke depan Wonosobo bisa secara mandiri melakukan pembangunan, dengan lebih dulu memperhatikan sektor pendidikan lalu membantu para petani memaksimalkan hasil taninya dengan mengolahnya terlebih dahulu, membangun objek wisata yang memadai, membuat tempat khusus pusat oleh oleh seperti Malioboro di Yogyakarta. Semua hal itu dikelola dan dibiayai oleh pemerintah sendiri dan dikelola oleh masyarakatnya sendiri, tidak hanya berpangku tangan pada investor. Semoga hal tersebut dapat menjadikan Wonosobo sebagai kabupaten yang mandiri dan maju, dan tetap ASRI.

Penulis : A. Widi Nugroho (Siswa kelas XI, SMA N 1 Mojotengah)

*Tulisan ini adalah bagian dari gerakan #MbangunSobo yang bertujuan untuk mengajak dan membangun kesadaran warga Wonosobo agar lebih peduli dengan apa yang sedang terjadi di kotanya. Kawan-kawan dapat turut serta dalam gerakan ini dengan mengirimkan tulisan opini mengenai Masa Depan Wonosobo ke email redaksi kami: wonosobomuda@gmail.com. Ayo #MbangunSobo bareng-bareng!

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0