Mikir dalam Bahasa Jawa Bisa Bikin Kalian Salah Memproses Perkalian
Tulisan ini adalah karya peserta program Kelas Menulis yang diadakan atas kerja sama dari Wonosobo Muda dan Indika Foundation.
Ingat soal kegeraman wali murid pada pengajar yang menyalahkan semua PR matematika anaknya? Wali murid tersebut mengunggahnya di internet dan, hasilnya, warganet ikut-ikutan geram. Beberapa warga bijak mencoba menengahi. Ada juga yang mencoba meluruskan. Namun, keriuhan kadung terjadi.
Apa biangnya? Dalam PR tersebut, si anak menulis 4×6=4+4+4+4+4+4=24, dst. “Empat” dijumlahkan dengan “empat” sebanyak 6 kali. Si wali murid mengatakan bahwa semua jawaban benar. Sementara, sang pengajar teguh dalam pendirian dan berkata bahwa prosesnya terbalik. Semestinya, “enam” dijumlahkan dengan “enam” sebanyak 4 kali.
“Tapi kan, tapi kan, hasilnya sama saja 24?” Ya, begini ini, kalau cuma melihat hasil akhir dari segala sesuatu. Proses luput dari perhatian. Perjalanan tidak dinikmati. Maunya beres dan sempurna. Makan mi, tinggal makan. Mbok ya mikir, tepungnya dari mana? Bumbunya yang macam-macam itu dari mana? Bagaimana juga nasib petani-petani yang memasok segala sesuatunya itu? Wis, jan!
Kembali ke pembahasan kita. Beberapa cendekia menjelaskan pelan-pelan dan hati-hati pada warganet. Cendekia pertama menjelaskan konsep perkalian dari awal ditambah contoh. Variabel yang belakangan (6) dijumlahkan dengan dirinya sendiri sebanyak variabel yang di depan (4). Yang menarik, cendekia kita yang kedua menjelaskan cara membacanya. Jeda (/) seharusnya muncul setelah “kali”, bukan sebelum “kali”. Jadi, yang benar, dibaca “empat kali/enam”, bukan “empat/kali enam”.
Mengenai penjelasan ulang di atas, kita akan menyetujui yang pertama karena begitulah bahasa dan sistem matematika berjalan, disepakati, dan dikerjakan. Mengenai yang kedua, kita perlu bahas lebih lanjut. Perihal ini lebih dekat dengan persoalan bahasa dan bagaimana berpikir dalam bahasa tertentu.
Dalam linguistik/ilmu mengenai bahasa, “empat” dan “enam” adalah numeralia/kata bilangan. Oleh karenanya, “empat kali” dan “kali enam” dapat kita sebut sebagai frasa numeralia/frasa bilangan. Sebuah frasa terdiri unsur inti (i) dan unsur atribut (a). Dalam frasa numeralia, numeralia adalah (i) (“empat” pada “empat kali” dan “enam” pada “kali enam”). Dengan demikian, “kali” adalah (a).
Persoalan berlanjut pada, mengapa “empat kali” dan “kali enam” muncul? Mengapa ada yang keliru dalam menentukan jeda? Jawabannya ada pada struktur frasa numeralia suatu bahasa.
Terdapat 109 bahasa yang tersedia dan mudah diakses dalam Google Translate. Melalui pencarian dan analisis frasa numeralia dalam 109 bahasa tersebut, terdapat 95 bahasa yang menggunakan struktur (i-a), 6 bahasa yang menggunakan struktur (a-i), dan 8 bahasa yang kurang jelas strukturnya.
Struktur (i-a) adalah struktur frasa numeralia dengan unsur inti di depan atribut. Beberapa bahasa yang menggunakan struktur ini adalah bahasa Indonesia, Sunda, dan Inggris. Para pengguna bahasa dengan struktur (i-a), secara wajar, akan mengucapkan “empat kali/…” yang berstruktur numeralia(i)-atribut(a)-jeda(/). (Contoh kalimat “Ani membaca Max Havelaar empat kali”.) Kemudian, memproses perkalian dengan cara yang cocok dengan sistem perkalian matematika.
Struktur (a-i) adalah struktur frasa numeralia dengan unsur inti di belakang atribut. Bahasa yang menggunakan struktur ini adalah bahasa Jawa, Hausa, Igbo, Kinyarwanda, Swahili, dan Xhosa. Para pengguna bahasa dengan struktur (a-i) mengucapkan “…/kali enam” atau “…/ping enem” dalam bahasa Jawa yang berstruktur jeda(/)-atribut(a)-numeralia(i). (Contoh kalimat “Ani maca Max Havelaar ping enem”.) Dengan demikian, cara membaca kalimat matematika dapat keliru dan menghasilkan permasalahan seperti di awal.
Lebih lanjut, sebagaimana Indonesia yang plural dan penuh akulturasi, pengguna bahasa Indonesia yang semestinya menggunakan (i-a), mengadopsi (a-i) dan menghasilkan kekeliruan serupa. Belum lagi, pengucapan dalam bentuk pasif “empat dikali enam” yang perlu penjelasan sendiri. Akhirulkalam, semoga kita diberkahi daya dan upaya berlebih agar dapat mempelajari bahasa dan menerapkannya sesuai tempat dan waktu.
Agustinus Ari

Leave a Reply