Halo Kawan Muda! Kali ini Wonosobo Muda ingin menyajikan kisah inspiratif yang datang dari salah satu anggota kami yang pernah menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Singapura dan Taiwan. Satu hal yang mengagumkan dari sosok ini adalah semangatnya untuk terus menimba ilmu di manapun, serta kepeduliannya yang besar terhadap tanah kelahiran meski sempat merantau di negeri orang. Adalah Atun, seorang mantan TKI yang semasa bekerja di Taiwan, dia  menyempatkan diri untuk meneruskan sekolah kejar paket C. Ya, bekerja dan belajar di waktu yang sama. Waktu masih di Taiwan, dia juga cukup aktif di Wonosobo Muda, meski dari jarak jauh.

“…semakin lama bekerja di sana semakin berfikir. Kalau misalnya saya hanya bekerja, yang saya hasilkan dan bawa pulang itu hanya uang.”

Atun memutuskan untuk merantau menjadi TKI sejak tahun 2009, saat dia masih berumur 17 tahun. Awal menjadi TKI, dia bekerja di Singapura selama dua tahun, lalu kembali merantau ke Taiwan sampai 2014. Sempat kembali ke Indonesia beberapa lama, dan kemudian kembali ke Taiwan lagi di tahun 2015 hingga akhirnya, pertengahan tahun 2017 dia memutuskan untuk kembali ke Wonosobo. Keinginan merantaunya lahir dari banyaknya teman yang juga menjadi TKI di luar.

Setelah merantau selama beberapa lama, perempuan kelahiran 7 Desember 1992 ini berpikir, jika dia hanya bekerja di sana, selama apapun, maka yang dibawa pulang hanya uang. Jika uangnya digunakan dan tidak dikelola dengan baik juga akan habis. Saat itu dia mulai berpikir, apalagi yang bisa dia bawa pulang, yang kelak akan berguna untuk masa depannya? Apa yang bisa dia lakukan kelak dengan modal ijazah SMP-nya? Mulai saat itu dia berusaha mencari cara bagaimana melanjutkan sekolah sambil bekerja. Usahanya membawanya kepada informasi kejar paket C di Taiwan.

Saat merantau ke Taiwan untuk kedua kalinya, yaitu tahun 2015, anak kedua dari dua bersaudara ini harus merawat seorang nenek tua yang berumur sekitar 94 tahun. Nenek tersebut mempunyai sakit darah tinggi dan mesti terus diawasi, terutama ketika makan, dan harus dipapah ketika berjalan. Atun juga kadang begadang untuk memastikan kondisi nenek tersebut baik-baik saja.

Meskipun sibuk dengan pekerjaannya, Atun tetap memutuskan untuk mengikuti kejar paket C yang memakan waktu dua tahun. Waktu belajarnya setiap malam dari Senin-Sabtu dengan sistem online.  Sedangkan kelas tatap muka dilaksanakan satu bulan sekali. Pengajar paket C di Taiwan adalah mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh S2 atau S3. Paket C di Taiwan juga punya sistem ujian nasional untuk menetapkan apakah peserta lulus atau tidak.

Salah satu tantangan besar baginya adalah membagi waktu bekerja dan belajar.  Dia membagi waktu dengan menjadikan siang sebagai waktunya bekerja, malam sebagai waktu belajar. Meskipun sudah menetapkan pembagian waktu tersebut, dia masih mengalami kesulitan karena nenek tersebut tidak mau jika Atun menjaganya sambil belajar atau memegang buku. Bahkan, saat ujian tengah semester atau ujian semester yang dilakukan secara online pukul 9 atau 10.30 malam, jika nenek yang dia jaga belum tidur, dia harus bolak-balik toilet agar bisa mengerjakan soal ujian dengan diam-diam. Nenek tersebut memang tidak suka dengan kegiatan sekolah Atun.

Memang bukan hal mudah untuk membagi waktu antara menyelesaikan kewajiban pekerjaan dengan mengerjakan tugas sekolah yang menumpuk dan selalu dikejar deadline setiap harinya. Puji syukur, Atun selalu diberi kekuatan untuk menikmati segala perjuangan itu dan membuatnya terbiasa membagi waktu dengan baik. Gadis yang punya hobi membaca ini juga mengaku sering begadang untuk mengerjakan tugas sehingga kurang tidur. Tapi semua hal tersebut dibawa enjoy  saja, karena badai pasti berlalu.

Selain itu banyak juga pengalaman suka selama di sana. Dia mendapatkan banyak pengalaman baru, bisa belajar banyak bahasa asing, mengetahui budaya setempat dan juga sesekali jalan-jalan di beberapa daerah Taiwan. Selain bekerja dan bersekolah, saat libur dari bekerja, dia juga mengikuti beberapa seminar dan mengikuti kursus bahawa Inggris – Mandarin. Waktu liburnya dimanfaatkan untuk mengikuti kegiatan positif yang menambah ilmu. Menurutnya semua pengalaman itu menjadi kenangan yang tidak terlupakan dan membentuk siapa dirinya sekarang.

Sepenggal kisah hidupnya menjadi salah satu pengalaman terbaik, meski semua itu memaksanya untuk belajar mengelola waktu untuk menyelesaikan dua pekerjaan utama sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Dia sangat yakin, bahwa jika kita punya keinginan kuat, mau berusaha sungguh-sungguh dan menikmati segala prosesnya, maka hasil tidak akan pernah menghianati proses.

Perjalanannya menimba ilmu masih berlanjut. Saat ini dia terdaftar sebagai mahasiswa S1 di Universitas Sains Al Quran di jurusan akuntansi. Atun juga menyelipkan sebuah pesan untuk pemuda Wonosobo,

“Jangan pernah malu untuk terus belajar, selama kita mampu dan punya kesempatan, raih dan kejarlah apa yang sudah dicita-citakan. Teruslah berkreasi, berekspresi, dan teruslah mewujudkan mimpi dan prestasi.”

Sekian kisah inspiratif kali ini, semoga menambah semangat kita semua agar tidak menyerah dalam kondisi apapun ya. Semangat! (Apid)

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0