Pesan dari Air dan Tanah untuk Pemimpin Wonosobo
Tulisan ini adalah karya peserta program Kelas Menulis yang diadakan atas kerja sama dari Wonosobo Muda dan Indika Foundation.
Rintik hujan setiap sore seakan-akan turut menyambut Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Wonosobo yang kian dekat. Kebetulan Pilkada bertepatan dengan musim hujan. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim hujan kali ini bertepatan dengan fenomena cuaca La Nina yang membuat curah hujan secara umum di Indonesia meningkat hingga 40% di atas normal1. Apabila di-othak-athik-gathuk sepertinya fenomena ini mengandung pertanda atau sabda alam dalam gonjang-ganjing kursi kepemimpinan di Wonosobo.
Hujan memiliki dua sisi, tidak hanya menambah kesan adhem ayem dan romantis, menghidupkan, tetapi juga potensi bencana yang merenggut korban harta dan jiwa seperti tanah longsor di kabupaten ini. Tanah longsor masih menjadi bencana alam nomor wahid di Wonosobo. Sejak 2015-2019, rata-rata kejadian tanah longsor mencapai 60 kejadian per tahun; tahun lalu saja terjadi 71 kejadian tanah longsor dengan kerugian mencapai 1,2 miliar rupiah2. Tingginya kejadian ini selain dipicu oleh curah hujan yang tinggi juga karena kontur dan jenis tanah labil yang rawan erosi serta bencana geometeorologis yang lain.
Hujan, air, dan tanah sejatinya menjadi penguji bagi siapapun yang memimpin Wonosobo. Bukan berarti seorang bupati Wonosobo kudu menjadi seorang Avatar sakti pengendali air dan tanah, tetapi bagaimana mengelola anugerah alam berupa hujan dan tanah sehingga keberadaan tanah dan air tidak menjadi sarana penjemput ajal ataupun anugerah yang mubazir. Ingat, bahwa tanah dan air ini dasar fondasi sektor agraris (pertanian, peternakan kehutanan, dan perikanan) yang masih menjadi tumpuan ekonomi sebagian masyarakat Wonosobo3.
Tanah longsor hanya menjadi salah satu pertanda kecil bahwa tanah dan air di Wonosobo harus dikelola dengan baik. Pengelolaan tanah dan air secara bijak tidak dapat dipisahkan apalagi Wonosobo merupakan daerah tangkapan air dan menjadi penyangga dari sistem daerah aliran sungai besar yang menghidupi jutaan orang di Jawa Tengah yaitu Serayu, Opak-Oyo, Luk Ulo, dan Bogowonto. Fungsi ini semakin penting ketika fakta menyebutkan bahwa perubahan iklim telah berdampak pada berkurangnya hari hujan di Pulau Jawa hingga 72 hari dalam kurun waktu 2014-2018 dan prakiraan Bapennas mengenai risiko penurunan ketersediaan air bersih hingga 75% di Jawa pada periode 2025-20304. Hal ini semakin suram ketika Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu masuk ke dalam daftar DAS yang harus dipulihkan5.
Pesan dari semua fenomena ini untuk siapapun yang memimpin Wonosobo nanti adalah hendaknya memprioritaskan mengarusutamakan kebijakan berbasis kelestarian lingkungan terutama pada konservasi tanah dan air serta restorasi ekosistem terutama di hulu DAS. Paling tidak, pemerintahan kabupaten periode lima tahun ke depan membangun fondasi untuk menghadapi krisis air bersih 2025-2030. Kelestarian lingkungan adalah fondasi mutlak dari kesejahteraan masyarakat Wonosobo bahkan kabupaten di sekitarnya. Tidak dapat dibayangkan apabila krisis air bersih melanda kota hujan ini 10 atau 20 tahun mendatang.
Ditulis oleh Mas Hani.
Sumber:
[1] Lan Nina Sedang Berkembang di Samudera Pasifik, Waspadai Dampaknya di Indonesia. https://www.bmkg.go.id/press-release/?p=la-nina-sedang-berkembang-di-samudra-pasifik-waspadai-dampaknya-di-indonesia&tag=press-release&lang=ID
[2] Diolah dari data BPDB Kabupaten Wonosobo
[3] Wonosobo dalam Angka 2020
[4] Jumlah Hari Hujan di Indonesia Kian Berkurang https://tirto.id/jumlah-hari-hujan-di-indonesia-kian-berkurang-f6fv
[5] Aliran Serayu dari Dieng Kritis. https://radarsemarang.jawapos.com/berita/jateng/wonosobo/2019/12/18/aliran-serayu-dari-dieng-kritis/

Leave a Reply